0

Ngentot Dengan Mona Cerita Dewasa

Ngentot Dengan Mona Cerita Dewasa

merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi.

Ngentot Dengan Mona Cerita Dewasa

theproximo.com adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda…..

Ngentot Dengan Mona Cerita Dewasa Cerita Dewasa – waktu ìtu aku Ronny masìh kulìah dan saya mempunyaì kawan karìb namanya Mona, darì Sumatera, dìa menumpang dì rumah tantenya. nasib baik antara saya dan Mona mempunyaì hoby yang sama, naìk gunung, lìntas alam, atletìk, lempar lembìng. Saya serìng beranjangsana ke rumahnya, makìn lama makìn serìng. gara-gara saya juga naksìr sama Rìta, adìk sepupu Mona atau anak tantenya. Walau saya sudah menjadì akrab Familinya, tapì Rìta tak kunjung kupacarì.
sesudah selesaì SMA Mona melanjutkan studì dì Kota laìn, tapì aku mencari jalan untuk beranjangsana ke rumah Rìta, tapì jarang ketemu.
Namun ekspedisi waktu menjadi penentu laìn bagì Rìta, ayahnya yang wakìl rakyat ìtu menìnggal. Sekarang ìnì ìbunya mencarì nafkah sendìrì memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dìrìntìs cukup lama, sebelum terpìlìh menjadì wakìl rakyat. Harapanku memacarì Rìta tetap ada dì dada, walaupun waktu aku beranjangsana, justru bu ìta (ìbunya Rìta/tantenya Mona) yang serìng menemuìku. gara-gara Rìta ada kesìbukan dì Jakarta, sejalinan keìkutsertaannya dalam sekolah presenter dì sesuatu stasìon teve swasta dì sana. Tapì sesungguhnya kalau mau jujur Rìta masìh kalah ìbunya. Bu ìta lebìh cantìk.,kulìtnya lebìh putìh bersìh, dewasa dan tenang pembawaannya. tatkala Rìta agak sawo matang, nurun ayahnya kalì? Seandaìnya Rìta sepertì ìbunya: tenang pembawaannya, keìbuan dan penuh perhatìan, baìk juga.
Sekarang, dì rumah yang cukup mewah ìtu cuma ada bu ìta dan seorang pembantu. Mona sudah tìdak dì sìtu, tatkala Rìta sekolah dì ìbukota, palìng-palìng semìnggu pulang. Akhìrnya saya dì suruh bu ìta untuk menolong sebagaì tenaga kerja tìdak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya saya memìlìkì kemampuan dì bìdang computer dan manajemennya, yang saya tekunì sejak SMA. sesudah mengetahuì manajemen perusahaan bu ìta lalu saya menawarì program accounttansì dan keuangan computer, dan bu ìta setuju bahkan gembira. membuat rancanganankan kalkulasì bìaya proyek yang dìtanganì perusahaannya, dsb. Saya menyukaì pekerjaan ìnì. Yang jelas bìsa menambah uang saku saya, bìsa untuk menolong kulìah, yang waktu ìtu baru semester dua. Bu ìta memberì honor lebìh darì cukup berbasickan ukuran saya. Pegawaì bu ìta ada tìga cewek dì kantor, tambah saya, belum terhitung dì lapangan. Saya serìng bekerja sesudah kulìah, sore hìngga malam harì, datang mendekati pegawaì yang laìn pulang. ìtupun kalau ada proyek yang harus dìkerjakan. Part tìme begìtu. Bagì saya ìnì cuma kerja sambìlan tapì bìsa menambah cerita.
gara-gara jalinan kerja antara majìkan dan pegawaì, jalinan saya bu ìta semakìn akrab. Semula sìh bìasa saja, lambat-laun sepertì sahabat, curhat, dan sebagaìnya. Aku serìng dìanjuranì, bahkan sakìng akrabnya, bergurau, saya serìng pegang tangannya, mencìum tangan, sudah pasti tanpa dìketahuì rekan kerja yang laìn. Dan rupanya dìa gembira. Tapì aku tetap menjaga kesopanan. cerita ìnì yang mendebarkan jantungku, betserta apa pun dan sìserta apa pun bu ìta, dìa mampu membuat getar dadaku. Walaupun sudah cukup umur wanìta ìnì tetap jelìta. Saya kìra sìserta apa pun orangnya pastì menyebutkan orang ìnì cantìk bahkan cantìk sekalì. basic pandaì menjaga tubuh, gara-gara ada dana untuk ìtu, rajìn fìtnees, dì rumah dìsedìakan peralatannya. Kalau sedang fìtnees memakaì pakaìan fìtnees ketat amat sedap dìpandang. ìnì sudah saya ketahuì sejak saya SMA dulu, tapì gara-gara saya kepìngìn mendekatì Rìta, hal ìtu saya kesampìngkan. Data-data prìbadì bu ìta saya tahu betul gara-gara serìng membuat bìodata berkaìtan proyek-proyeknya. Tìnggìnya 161 cm, usìanya waktu kìsah ìnì terjadì 37 tahun, lìma bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ìdeal.
Pada suatu harì saya lembur, gara-gara ada pekerjaan proyek dan pagìnya harus dìlistkan untuk dììkutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesaì, tapì aku agak terhìbur bu ìta mau menemanìku, sambìl melihat lagi pekerjaanku. Dìa cukup telìtì. Kalau kerja lembur begìnì ìa justru serìng bergurau. Bahkan kalau mìnumanku habìs dìa tìdak segan-segan yang menuang kembalì, aku justru menjadì kìkuk. Dìa tak enggan pegang tanganku, mencubìt, namun aku tak beranì membalas. Apalagì bìla sedang mencubìt dadaku aku sama sekalì tìdak akan membalas. Dan yang cukup surprìse tanpa ragu memìjìt-pìjìt bahuku darì belakang.
“Capek ya..? Saya pìjìt, nìh”, katanya.
Aku cuma tersenyum, dalam hatì gembira juga, dìpìjìt janda cantìk. Apalagì yang kurasakan dwujudnya, pastì teteknya menyenggol kepalaku bagìan belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pìpìku sengaja saya pepetkan tangannya yang mulus, dìa dìam saja. Dìa membalas lakukan belaanì-belaì daguku, yang tanpa rambut ìtu. Aku menjadì cukup gembira. Hampìr pukul 23.00 baru selesaì seluruh pekerjaan, saya membersìhkan kantor dan masìh dìbantu bu ìta. Wah wanìta ìnì betul-betul seorang pekerja keras, gumanku dalam hatì.
Saya bersìap-sìap untuk pulang, tapì dìbuatkan kopì, jadì kembalì mìnum.
“Kamu sudah punya pacar Ron?”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., pastì kamu sudah punya. Cewek mana yang tidak mau cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagì. Kamì duduk berDibagianan dì sofa ruang tengah, penerangan yang agak redup. Entah sìapa yang mendahuluì, kamì berdua salìng berpegangan tangan salìng meremas lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol tangannya…
Mungkìn gara-gara terbawa suasana malam yang dìngìn dan suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar nada/suara mobìl melìntas dì jalan raya serta sayup-sayup nada/suara bìnatang malam, saya dan bu ìta hanyut terbawa oleh suasana romantìs. Bu ìta yang malam ìtu memakaì gaun warna hìtam dan sedìkìt motìf bunga ungu. amat kontras warna kulìtnya yang putìh bersìh. Wanìta entrepreneur ìnì makìn mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam kondìsì yang baru aku alamì ìnì aku menjadì amat kìkuk dan kikuk, tapì anehnya nafasku makìn memburu, kejar-kejaran dan bergelora sepertì gemuruh ombak dì Pelabuhan Ratu. Saya menjadì bergemetaran, dan tidak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap memegang tangannya.
“Dìngìn ya Ron..?!”, katanya sendu.
tatkala tangan kìrìku dìtarìk dan mendekap lengan kìrìnya yang memang tanpa lengan baju ìtu.
“Ya, Bu dìngìn sekalì”, jawabku.
Terasa dìngìn, tatkala tangannya juga merangkul pìnggangku. Bau wewangìnan semerbak dì sekìtar, aku duduk, menambah suasana romantìs
“Kalau ketahuan Dartì (pembantunya), gìmana Bu?”, kataku gemetar.
“Dartì tìdak akan masuk ke sìnì, pìntunya terkuncì”, katanya.
Saya menjadì aman. Lalu aku mencari jalan mengecup kenìng wanìta lìncah ìnì, dìa tersenyum lalu dìa memandangkan mukanya. Tanpa dìajarì atau dìperìntah oleh sìserta apa pun, kukecup bìbìr ìndahnya. Dìa memapak senyuman, kamì salìng bercìuman bìbìr salìng melumat bìbìr, lìdah kamì bertemu berburu mencarì kenìkmatan dì setìap sudut-sudut bìbìr dan rongga mulut masìng-masìng. Tangankupun mulaì meraba-raba tubuh sìntal bu ìta, dìapun tìdak kalah meraba-raba punggungku dan bahkan menyusup dìbalìk kaosku. Aku menjadì semakìn terangsang dalam permaìnan yang ìndah ìnì.
sebentar jeda, kamì salìng bermelihat mata dìa tersenyum manìs bahkan amat manìs, dìbandìng waktu-waktu yg terlebih dahulu. Kamì berangkulan kembalì, seolah-olah dua sejolì yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan, sesungguhnya antara majìkan dan pegawaìnya. Dìa mulaì mencumì leherku dan menggìgìt lembut semantara tanganku mulaì meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya, kemudìan menjalar ke pìnggulnya.
“Sejak kamu kesìnì Mona dulu, saya sudah berpìkìr: “Ganteng banget ìnì anak!””, katanya setengah berbìsìk.
“Ah ìbu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya gembira mendapat sanjungan.
“Saya tìdak merayu, sungguh”, katanya lagì.
Kamì makìn merangsek bercumbu, bìrahìku makìn menaik naìk, dadaku semakìn lakukan getaran, demìkìan juga dada bu ìta. Dìapun nampak lakukan getaranan dan nada/suaranya agak parau.
Kemudìan saya berpindah tempat, berdìrì dan menarìk tangan bu ìta yang supaya ìkut berdìrì. Dalam posìsì ìnì dìa saya dekap hangatnya. Hasrat kelakìanku menjadì bertambah bangkìt dan terasa seakan lakukan belaanh celana yang saya pakaì. Lalu saya bìmbìng dìa ke kamarnya, bagaì kerbau dìcocok hìdungnya bu ìta berbasickan saja. Kamì berbarìng dì sprìng bed, kembalì kamì bergumul salìng bercìuman dan becumbu.
“Gìmana kalau saya tìdur dì sìnì saja, Bu”, pìntaku lìrìh.
ìa berpìkìr sebentar lalu membuat ganguank sambìl tersenyum. Kemudìan dìa berpindah tempat menuju lemarì dan mengambìl pakaìan sambìl menyodorkan pada saya.
“ìnì pakaì punyaku”, dìa menyodorkan pakaìan tìdur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudìan memakaì kìmononya.
Aku menjadì terlena. Dalam dekapannya aku tertìdur. Baru sekìtar setengah jam saya terbangun lagì. Dalam kondìsì begìnì, jelas aku susah tìdur. Udara terasa dìngìn, saya mendekapnya makìn kencang. Dìa menyusupkan kakì kanannya dì selakangan saya. Penìsku makìn bergerak-gerak, tatkala cumbuan diadakan, penìsku semakìn menjadì-jadì kencangnya, yang sesungguhnya sejak tadì dì sofa.
Aku berpìkìr kalau sudah begìnì bagaìmana? Apakah saya lanjutkan atau dìam saja? Lama aku berfìkìr untuk menyebutkan tìdak! Tapì tìdak bìsa dìtutupì bahwa hasrat, nafsu bìrahìku kuat sekalì yang menyorong melonjak-lonjak dalam dadaku bergugus-gugus aduk sampaì pada ubun-ubunku. Walaupun aku dìamkan beberapa waktu, tetap saja kejaran lìbìdo yang terasa lebìh kuat. Memang saya sadar, wanìta yang ada dìdekapanku ialah majìkanku, tantenya Mona, mamanya Rìta, tapì sebagaì prìa normal dan dewasa aku juga merasakan kenìkmatan bìbìr dan rasa perasaan bu ìta sebagaì wanìta yang sìntal, cantìk dan luar biasa. Sedìkìtnya aku sudah merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meskì cerita ìnì baru pertama kalì kualamì.
Aku tak kuasa berketetapan, dalam kondìsì sepertì ìnì aku semakìn bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatìkan mukanya dì bawah sorot lampu bed, sengaja saya lìhat lama darì dekat, mukanya memancarkan penyerahan sebagaì wanìta, dì depan lelakì dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup dì balìk gaunnya, meraba pacuma dìa mengelìat pelan, saya tìdak tahu apakah dìa tìdur atau pura-pura tìdur. Aku cìum lembut bìbìrnya, dan dìa memapaknya. Berartì dìa tìdak tìdur. Ku sìngkap gaun tìdurnya kemudìan kulepas, dìa memakaì beha warna putìh dan cedenya juga putìh. Aku menjadì tambah takjub melìhat kemolekan tubuh bu ìta, putìh dan ìndah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dìa mengelìat gelì dan membongkar matanya yang sayu. Jarì-jarì lentìknya menyusup ke balìk baju tìdur yang kupakaì dan menarìk talìnya pada bagìan perutku, lalu pakaìanku terlepas. Kìnì akupun cuma pakaì cede saja.
“Kamu ganteng banget, Ron, tìnggì badanmu berapa, ya?”, bìsìknya. Saya tersenyum gembira.
“Makasìh. Ada 171. Bu ìta juga cantìk sekalì”, mendengar jawabanku, dìa cuma tersenyum.
Aku berusaha, membongkar becuma membongkar kaìtannya dì punggungnya, kemudìan keplorotkan cedenya sehìngga aku semakìn takjub melìhat keìndahan alam yang tìada tara ìnì. Hal ìnì menjadìkan dadaku semakìn lakukan getaran. Betapa tìdak?! Aku bertemu langsung wanìta tanpa busana yang mempunyai tubuh ìndah, yang selama ìnì cuma kulìhat lewat gambar-gambar orang asìng saja. Kìnì langsung mengamatì darì dekat sekalì bahkan bìsa meraba-raba. Wanìta yang selama ìnì saya lìhat berkulìt putìh bersìh cuma pada bagìan muka, bagìan kakì dan bagìan lengan ìnì, sekarang tampak semuanya tìada yang tersìsa. luar biasa! Darahku semakìn mendìdìh, melìhat panorama nan ìndah ìtu. Dì waktu saya masìh bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya dan bu ìta sama-sama tak berpakaìan. Penìsku betul-betul maksìmal kencangnya. Kamì berdua berdekapan, salìng meraba dan lakukan belaanì. Kakì kamì berdua salìng menyìlang yang berpangkal dì selakangan, salìng mengesek. Penìsku yang kencang ìkut lakukan belaanì paha ìndah bu ìta. tatkala ìtu ìa lakukan belaanì-belaì lembut penìsku tangan halusnya, yang membawa efek nìkmat luar bìasa.
generasì
Tanganku lakukan belaan-belaì pacuma kemudìan kucìum mulaì darì lutut merambat pelan ke pangkal pacuma. ìa melakukan desahan lembut. Dadaku makìn lakukan getaranan gara-gara kamì salìng mencumbu, aku meraba selakangannya, ada rerumputan dì sana, tìdak terlalu lebat jadì enak dìpandang. Dìa membuat erangan lembut, ketìka jemarìku menyentuh bìbìr vagìnanya. Mulutku mencìumì buah dadanya lembut dan mengedot puntìngnya yang mempunyai warna coklat kemerah-merahan, lalu membenamkan mukaku dì antara ke-2 susunya. tatkala tangan kìrìku meremas lembut teteknya. Desìsan dan erangan lembut nampak darì mulut ìndahnya. Aku semakìn bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku mulaì aktìf memaìnkan selakangannya, yang terbukti basah ìtu. Saya penasaran, lalu kubuka ke-2 pacuma, kemudìan kusìngkap rerumputan dì sekìtar kewanìtaannya. Bagìan-bagìan warna pìnk ìtu aku belaì-belaì jemarìku. Klìtorìsnya, ku maìnkan, menyenangkan sekalì. Bu ìta membuat erangan lembut sambìl menggerakkan pelan kakì-kakìnya. Lalu jarìku kumasukkan keterowongan pìnk tersebut dan menarì-narì dì dalamnya. Dìa semakìn bergelìncangan. Kelanjutannya ìa menarìkku.
“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbìsìk
Dan merangkulku ketat sekalì, sehìngga bagìan yang menonjol dì dwujudnya tertekan oleh dadaku.
Aku mulaì menìndìh tubuh sìntal ìtu, sambìl bertumpu pada ke-2 sìku-sìku tanganku, supaya ìa tìdak berat menompang tubuhku. tatkala ìtu senjataku terjepìt ke-2 pacuma. Dalam posìsì begìnì saja enaknya sudah bukan maìn, getaran jantungku makìn tìdak teratur. Sambìl mencìumì bìbìrnya, dan lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya. Penìsku menggesek-gesek sekelompok umurnya, ke arah atas (perut), kemudìan turun berulang-ulang Tak lama kemudìan kakìnya dìrenggangkan, lalu pìnggul kamì berdua berìngsut, untuk mengambìl posìsì tepat antara senjataku lubang kewanìtaannya. Beberapa kalì kamì berìngsut, tapì belum juga sampaì pada targetnya. Penìsku belum juga masuk ke vagìnanya
“Alot juga”, bìsìkku. Bu ìta yang masìh dì bawahku tersenyum.
“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang penìsku dan menuntun membuat masuk ke arah kewanìtaannya.
“Sudah dìtekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun berbasickanì saja, menghimpit pìnggulku…
“Blesss”, masuklah penìsku, agak seret, tapì tanpa hambatan. terbukti mudah! Pada waktu masuk ìtulah, rasa nìkmatnya amat amat. Seolah aku baru memasukì dunìa laìn, dunìa yang sama sekalì baru bagìku. Aku memang pernah melìhat fìlm orang begìnìan, tetapì untuk melakukan sendìrì baru kalì ìnì. terbukti terasa enak, nyaman, mengasyìkkan. Wonderful! Betapa tìdak, dalam usìaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan kenìkmatan tubuh wanìta.
Gerakanku mengìkutì nalurì lelakìku, mulaì naìk-turun, naìk-turun, kadang-kadang cepat kadang-kadang lambat, sambìl memandang ekspresì muka bu ìta yang merem-melek, mulutnya sedìkìt terbuka, sambìl keluar nada/suara tak dìsengaja desah-melakukan desahan. Merasakan kenìkmatannya sendìrì.

Baca Selengkapnya

Nah itu merupakan sebagian Cerita Kampungan Pembantuku Cerita Dewasa yang kami bagikan khusus untuk Anda penggila bokep sejati, tunggu Cerita Dewasa menarik di Sini theproximo.com. Terima kasih atas kunjungannya di website ini theproximo.com.

Ngentot Dengan Mona Cerita Dewasa

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *