Cerita Panas Kontol Anakku Yang Nikmat

114998 views

cerita-panas-kontol-anakku-yang-nikmatCerita Panas quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat, Cerita Mesum quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat, Cerita quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat, Cerita Dewasa quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat, Cerita Hot quixotepff.com Kontol Anakku Yang Nikmat

Namaku Tíní, usía 49 tahun, saat íní aku tínggal dí kota Círebon. Tetangga kírí kananku mengenalku dengan sebutan bu Hají. Ya, dí blok komplek rumahku íní, hanya aku dan suamí yang sudah naík Hají. Suamíku sudah pensíun darí Departemen Luar Negerí. Kíní ía aktíf berkegíatan dí masjíd Al Baroq dekat rumah. Aku pun aktíf sebagaí ketua pengajían dí komplek rumahku íní. Tetangga kamí melíhat keluargaku adalah keluarga harmonís. Namun mereka bertanya-tanya, mengapa anakku masíh kecíl, masíh berusía satu tahun, padahal aku sudah berusía hampír 50 tahun. Aku bílang saja, yah, maklum, rejekí datang lagí pas usía saya senja begíní, mau díapakan lagí, tídak boleh kíta tolak, harus kíta syukurí. Sebenarnya aku punya anak lagí, anakku yang sulung, lakí-lakí, dan saat íní mungkín ía sudah berusía 26 tahun. Namanya Roní. Sebelum kelahíran anakku yang masíh bayí íní, Roní adalah anak tunggal. Sampaí akhírnya aku usír día darí rumah íní dua tahun yang lalu. Dan sampaí detík íní, suamíku, Beny, atau orang akrab memanggíl día Pak Hají Beny atau Pak Ustad, ía belum tahu alasan mengapa Roní menínggalkan rumah sejak dua tahun yang lalu ítu, jíka suamíku bertanya padaku, aku terpaksa berbohong, bílang tídak tahu dan pura-pura kebíngungan. Walaupun aku tahu, karena akulah yang mengusír Roní darí rumah tanpa sepengetahuan suamíku. Ceríta sedíh íní berawal ketíka Roní yang selama 15 tahun kamí tínggalkan hídup dengan Neneknya dí Círebon, akhírnya kumpul bersama dengan kamí layaknya keluarga. Bísa aku tínggalkan selama 15 tahun karena aku dan suamí harus tínggal dí Belanda. Saat aku dan suamí ke Belanda, Roní baru berusía delepan tahun, íbuku (nenek Roní) tídak íngín jauh darí Roní, belíau mungkín takut Roní akan terbawa arus kehídupan eropa dan lupa adat índonesía. Jadílah Roní tínggal dí Círebon bersama íbuku, lalu aku dan suamí tínggal dí Eropa. Líma belas tahun kemudían, aku dan suamí pulang ke tanah aír,

[nextpage title="2 cerita-panas-kontol-anakku-yang-nikmat"]

sebelum pulang aku dan suamí menyempatkan dírí untuk naík hají. Setelah pulang menunaíkan hají, aku dan suamí pulang ke tanah aír dan pergí ke Círebon. Tak kusangka anakku sudah besar, ya Roní telah berusía 23 tahun. Kamí líhat ía tumbuh menjadí anak yang sangat soleh, santun dan lemah lembut. Aku sangat berteríma kasíh dengan íbu waktu ítu, telah membuat Roní tetap menjadí anak yang baík dan rajín beríbadah. Beberapa bulan setelah kamí berkumpul bersama, íbuku (nenek Roní) menínggal. Kamí sedíh sekalí waktu ítu.Setelah ítu kamí hídup sekeluarga bertíga. Kehídupan keluarga kamí sangat sakínah mawadah dan rohmah. Aku bangga sekalí punya anak Roní. ía rajín ke mesjíd dan mengají. Hal ítu membuat aku dan suamí selalu merasa bahagía. Seakan-akan kamí awet muda rasanya. Kebahagíaan íní juga mempengaruhí kemesraan aku dan suamí sebagaí suamí ístrí. Walaupun kamí sudah tua, tapí kamí masíh rutín melakukan hubungan pasutrí meskí hanya satu mínggu sekalí. Sampaí suatu harí, suamíku mendapat tugas darí untuk dínas selama tíga bulan dí Qatar. Suamíku mengajak kamí berdua (aku dan Roní anakku) namun Roní yang sudah kerasan tínggal dí Círebon menolak íkut, akupun karena tídak mau lagí jauh dengan anakku menolak íkut. Akhírnya hanya suamíku sendírí saja yang pergí. Harí-harí tanpa suamíku, hanya aku dan anakku tínggal dí rumah kamí. Aku síbuk sebagaí ketua pengajían íbu-íbu dan memberíkan ceramah kecíl-kecílan setíap ada arísan dí komplek rumahku íní. Roní aktíf sebagaí remaja masjíd dí masjí Baroq dekat rumah. Terkadang karena aku sudah berusía hampír 50, aku mudah merasa capek setelah berkegíatan. Suatu síang aku merasa sangat capek, sehabís pulang memberíkan ceramah íbu-íbu dí masjíd. Aku pun langsung tertídur. Saat aku tengah-tengah enaknya merasa nyaman dengan kasurku, aku sepertí merasa ada sesuatu yang membuat paha, pínggang dan daerah dadaku gelí dan gatal. Setengah sadar dan tídak sadar, aku líhat Roní sedang berada dí dekatku. Sambíl setengah ngantuk aku berkata, “Kenapa Ron? Mama capek níh…” “Ga, ma, Roní tahu, makanya Roní píjetín, udah mama tídur aja”, balas Roní. Aku senang mendengarnya, senang pula punya anak yang tumbuh dewasa dan baík sepertí Roní. Oh teríma kasíh Tuhan. Lama kelamaan, aku mengalamí harí yang sangat aneh, terutama setíap malam saat aku tídur. Aku merasa, ada sesuatu yang menggelítík daerah sensítífku, terutama daerah selangkanganku. Enak sekalí rasanya, oh apakah íní setengah mímpí yang tímbul akíbat hasratku sebagaí seorang ístrí yang butuh kehangatan suamí. Ya, aku yakín karena aku dítínggal suamí saat aku lagí merasa kembalí muda dan penuh gaírah, makanya aku seríng sekalí mímpí basah setíap malam. Mímpí yang rasanya sadar tídak sadar, keníkmatannya sepertí nyata. Ya, aku menjadí senang tídur malam, karena íngín cepat-cepat mímpí basah lagí. Aku menduga íní adalah rejekí darí Tuhan, agar gaírahku sebagaí ístrí tetap terjaga, dan kebutuhan bíologísku tetap tersalurkan walaupun hanya díberí mímpí basah sama Tuhan. Oh… níkmat sekalí. Aku membayangkan suamíku, Beny, yang berhubungan denganku, oh níkmat sekalí. Dan karena seríngnya díkasíh mímpí basah oleh Tuhan, setíap pagí aku bangun aku merasa kemaluanku selalu basah kuyup sampaí celana dalamku basah total. Yah, jadínya aku punya kebíasaan baru selalu mandí wajíb setíap pagí. Yang aku takuntukan hanya satu, takut saat aku mímpí basah, aku mengígau dan takut suara mendesahku terdengar anakku Roní. Tapí saat aku líat darí gelagatnya seharí-harí, nampaknya ía tídak tahu. Sampaí tíga bulan lamanya, hampír tíap malam aku selalu mímpí basah, aku jadí heran. Apa penyebabnya darí nutrísí yang kumakan atau kumínum seharí-harí ya? Hmm, mungkín saja. Soalnya aku punya kebíasaan mínum teh híjau sebelum tídu. Kata dokterku ítu baík untuk orang setua aku, apalagí bíar selalu sehat menjelang usía setengah abad. Akhírnya aku coba memínum teh híjau, saat pagí harí, malamnya kucoba tídak mínum. Malam harínya, saat aku tídur, dítengah asyíknya tídurku, dan gelapnya lampu kamarku. Aku merasa perasaan mímpí basah mulaí datang kembalí, yah, mmh, rasanya ada yang menggelítík kemaluanku, sesuatu yang lembut, oh, bergerak-gerak. Selangkanganku pun íkut tergelítík híngga aku merasa ada sesuatu yang membuat basah kemaluan dan selangkanganku. Lalu berbarengan dengan rasa sensasí pada daerah kemaluanku, sesuatu yang lebut bergerak-gerak menyentuh buah dadaku, bergantían, pertama yang kírí lalu yang kanan, kemudían.. Aw!.. Ada rasa hísapan yang lembut hangat namun kuat pada putíng buah dadaku yang sebelah kanan. Oh enak sekalí, teríma kasíh Tuhan, jantungku mulaí berdegup kencang, íní rasanya seperí nyata, yah! Tíba-tíba aku merasa tertíndíh oleh seuatu, hísapan keníkmatan juga tídak berhentí. Lalu ada sesuatu yang menusuk masuk ke líang kemaluanku saat ítu aku setengah sadar terbangun, dan aneh, rasa íní masíh kurasakan, setengah sadar aku jelas sekalí ternyata memang ada sesuatu yang meníndíhku, sekílas aku masíh membayangkan íní suamíku, beríkut terdengar darí sesuatu ítu suara perlahan yang serak, “ooohgh… Oogghh…” Síapa íní?! Astaghfírullah!!

[nextpage title="3 cerita-panas-kontol-anakku-yang-nikmat"]

Saat aku tersadar penuh dan mataku terbelalak. Dalam keremangan gelapnya kamar aku sadar bahwa seseorang telah meníndíhku dan menyetubuhíku!! Lebíh kaget lagí saat aku mendengar suara seseorang yang meníndíhku ítu berkata, “Maaah… Ayo ma… oughhgh… Uhhh… mamahhh…” Langsung kudorong día kuat-kuat! “Roní!! Kurang ajar!!! ASTAGHFíRULLAAH!!” Roní langsung berlarí keluar kamar, aku pun langsung mengejar sambíl menangís penuh amarah. “Roní!!”, bentakku. “Maafín Roní Ma! Roní ga tahan!”, Roní pun menangís takut. Aku tak kuasa bíngung menghadapí perasaan íní, antara kalut, marah, bencí, jíjík, sedíh dan takut. Híngga terucap kata-kata yang langsung keluar darí muluntuku, “Keluar darí rumah íní!!! Kamu bukan anak mama!!! Setan kamu! Bínatang kamu ya!” Roní keluar rumah berlarí. Aku duduk lemas menangís. Jadí, selama tíga bulan íní, baru aku sadarí, mímpí basah ítu bukan hanya sekedar mímpí. Semua mímpí ítu nyata. Anakku!? Anakku sendírí yang melakukan íní padaku?!! Selama dua, tíga mínggu aku tídak keluar rumah, bahkan semenjak kejadían ítu aku jatuh sakít. Sampaí saat ítu aku masíh tídak habís píkír dan belum lupa kejadían ítu, dalam benakku terbesít, ya Tuhan, selama íní anakku telah menodaí aku, aku íbunya, selama íní anakku yang selalu rajín beríbadah ternyata adalah setan yang mengumbar nafsunya pada tubuhku yang mulaí renta íní… Dosa apa hamba, ya Tuhan!? Saat aku meneríma sepucuk surat yang díkírím oleh Roní, tanpa alamat jelas, ía berkata memínta maaf pada ku, ía mengakuí bahwa ía sudah mulaí tertarík secara seksual denganku sejak aku bertemu lagí dengannya, ía bílang aku cantík dan menarík, ía mengaku telah memberí obat tídur pada teh híjau yang selalu aku mínum tíap malam agar aku teler dan tídak sadar saat ía memperkosaku… Pantas saja! Pantas ía selalu bermuka manís menyíapkan teh híjau tanpa kumínta terlebíh dahulu. Ternyata selama íní anakku adalah íblís laknat yang merusak semuanya. Roní pun berkata pada akhír suratnya, bahwa ía tídak lagí akan pulang ke rumah, ía malu dan merasa bersalah. Membaca surat ítu, aku merasa bencí sekalí! Ya, “Kamu bukan anakku!”, Kurobek dan kubakar surat ítu. Sebulan kemudían, tepat saat dua mínggu sebelum suamíku pulang, aku merasa pusíng dan mual. Ya Tuhan, masa síh aku hamíl!? Tídak! íní tídak mungkín!! Aku pun memastíkan dengan membelí dan menggunakan tes kehamílan, berdebar-debar aku melíhat hasílnya. ASTAGHFíRULLAH! Aku posítíf hamíl! Tídak! Aku menggandung anak darí anakku sendírí! Aku pun lemas dan sempat sedíkít píngsan. Aku menangís tíada hentí-hentínya. Apa yang harus kukatakan pada suamíku nantí? Apa yang akan tetangga bílang jíka tahu aku íní seorang bu Hají yang hamíl hasíl hubunganku dengan anak kandungku sendírí? Apa yang akan terjadí! Apa lebíh baík aku matí saja!! Tídak aku tídak mau matí! ítu dosa! Lalu, saat suamíku pulang, aku tutupí semuanya yang telah terjadí selama tíga bulan íní.

[nextpage title="4 cerita-panas-kontol-anakku-yang-nikmat"]

Aku pura-pura menangís karena Roní belum pulang-pulang sudah dua mínggu. Lalu aku dan suamí sempat lapor ke polísí. Dí tengah-tengah ítu, aku juga pura-pura merasa kangen dengan kedatangan suamíku dan mengajaknya melakukan hubungan suamí ístrí seseríng darí bíasanya. Suamíku heran, namun ía maklum, ya yang píkírnya, bíasanya aku dan día berhubungan semínggu sekalí, íní tídak melakukannya dalam tíga bulan lamanya. Sudah pastí wajar jíka aku selalu mínta berhubungan terus. Dua mínggu setelahnya, aku mengaku hamíl. Suamíku kaget, loh, khan menggunakan kondom? Kok bísa. Aku bílang saja, mungkín saja jebol. Khan wajar karena kondom tídak akurat 100%. Suamíku pun mengangguk setuju. Cuma ía hanya khawatír apakah aku tídak apa-apa umur segíní hamíl lagí. Akupun meyakínkan día tídak apa-apa, walaupun hatíku meríngís dan menangís karena mengíngat bayí íní hasíl hubunganku dengan anakku. Tídak! Anakku yang memperkosa aku!!! “Ma”, sapaan suamíku menyadarkan aku darí lamunanku tentang masa lalu. Aku líhat suamíku sudah síap berangkat ke masjíd. “Ma, aku pergí ke masjíd dulu ya, mama bíar jaga sí kecíl yah”, pamítnya. “íya pa”, jawabku. Ya, sí kecíl íní telah lahír ke dunía. Saat íní ía berada dí pangkuanku. Kuperhatíkan wajahnya. Míríp sekalí dengan Roní, anakku… Oh bukan… Ayah darí anakku.

Pencarian Konten:

  • cerita gay sedarah
  • cerita sex nenek
  • cersex gay
  • Cersex sedarah
  • cerita gay remaja
  • Kontol anakku
  • nikmatnya kontol anakku
  • cerita sex ustad
  • cersex nenek
  • cerita sex kontol anakku

Tags: #cerita ngesex forum dari janda #cerita sex gara gara mL jadi ngentot kontol besar #cersek bergambar sedarah #cersex naruto dengan sakura bergambar

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...