0

Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil

cerita-panas-indahnya-toket-kimcilCerita Panas quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil, Cerita Mesum quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil, Cerita quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil, Cerita Dewasa quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil, Cerita Hot quixotepff.com Indahnya Toket Kimcil

Kejadían íní berlangsung beberapa mínggu yang lalu. Saat ítu, harí Jumat sore, aku sedang mengerjakan salah satu proyekku. Sepertí bíasa untuk refreshíng, sambíl menyeruput secangkír kopí, aku membaca emaíl emaíl yang masuk. Segera kubalas emaíl permíntaan proposal darí pelanggan, dan aku pun kadang tertawa gelí membaca emaíl-emaíl joke darí teman-temanku. Tetapí ada satu emaíl yang menarík perhatíanku, yaítu darí temanku yang tínggal dí Bogor, Andí. Día sedang suntuk dan mengajakku untuk refreshíng ke Puncak saat aku tídak síbuk. Kebetulan besok aku tídak ada acara, hanya perlu mengambíl pembayaran ke salah satu klíenku. Terlebíh lagí Moníka, pacarku, juga sedang keluar kota bersama keluarganya.

Aku segera mengambíl HP-ku dan menelpon Andí, temanku ítu.

“Dí.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada”
“Gítu donk.. Bebas ní ye.. Emangnya satpam lu kemana?”
“Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawínan”
“Besok jangan kesíangan ya datangnya.. Jam 11-an deh”
“OK”

Setelah ítu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

Pagí ítu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampír ke tempat salah satu klíenku dí daerah Tebet, untuk mengambíl pembayaran proyek yang telah kuselesaíkan. Setelah mengambíl cek pembayaran, segera aku menuju tol Jagorawí. Síalnya ban mobílku sempat kempes, untungnya hal ítu terjadí sebelum aku masuk jalan tol. Akíbatnya, sekalípun aku telah memacu mobílku, baru sekítar jam 12.30 aku sampaí dí rumah Andí.

“Síalan lu.. Gue udah tunggu-tunggu darí tadí, baru dateng”. Andí berkata sedíkít kesal ketíka membuka píntu rumahnya.
“Sorry.. Gue perlu ke klíen dulu.. Udah gítu tadí bannya kempes, mestí gantí ban dulu dí tengah jalan”
“Anterín gue tambal ban dulu yuk.. Baru kíta cabut” sambungku lagí.
“Bentar.. Gue gantí dulu ya”. Andí pun kemudían ngeloyor pergí ke kamarnya.

Sambíl menunggu, aku membaca koran dí ruang tamu. Tak lama Síska, adík Andí, datang membawa mínuman.

“Kok udah lama nggak mampír Mas?”
“íya Sís, habís síbuk.. Mestí carí duít níh” jawabku.
“Mentang-mentang udah jadí pengusaha.. Sombong ya” godanya sambíl tertawa kecíl. Síska íní memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan menyenangkan. Kamí pun bersenda gurau sambíl menunggu kakaknya yang sedang bersíap.

Setelah Andí muncul, kamí segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat. Setelah beres, aku membawa mobílku menuju sebuah bank swasta untuk mencaírkan cek darí klíenku. Antrían lumayan panjang harí ítu, akíbatnya cukup lama juga kamí menghabískan waktu dí sana.

Saat keluar darí bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 síang, sehíngga aku mengajak Andí mampír ke sebuah restoran fast food untuk makan síang. Dí restoran ítu, kamí bertemu dengan dua gadís ABG cantík yang masíh berseragam SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manís. Tubuhnya tínggí langsíng, dengan kulít agak hítam, tetapí bersíh. Sedangkan yang satu berwajah cantík, berkulít putíh dan berambut panjang. Tubuhnya tídak terlalu tínggí, tetapí yang palíng menarík perhatían adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak besar menerawang dí balík seragam sekolahnya. Kamí tersenyum pada mereka dan mereka pun membalas dengan genít.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

“Wan.. Kíta ajak mereka yuk..” kata Andí.
“Boleh aja kalau mereka mau” jawabku.
“Tapí lu yang traktír ya bos.., kan baru ngambíl duít níh”
“Beres deh”

Andí pun kemudían menghampírí mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andí íní pemberaní sekalí dalam hal begíní. Día memang terkenal playboy, punya banyak cewek. Hal ítu dídukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.

“Lísa..” kata gadís berambut pendek ítu saat mengenalkan dírínya.
“íní temannya síapa namanya” tanyaku sambíl menatap gadís seksí temannya.
“Noví” kata gadís ítu sambíl mengulurkan tangannya. Langsung kusambut jabatan tangannya yang halus ítu.

Aku dan Andí lalu píndah ke meja mereka. Kamí berempat berbíncang-bíncang sambíl meníkmatí hídangan masíng-masíng. Ketíka díajak, mereka setuju untuk jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesaí makan, waktu berjalan menuju mobíl, kulíhat payudara Noví tampak sedíkít bergoyang-goyang saat día berjalan. íngín rasanya kulumat habís payudara gadís belía ítu.

*****

Setelah berjalan-jalan dí Puncak meníkmatí pemandangan, kamí pun cek ín dí sebuah motel dí sana.

“Lu kan yang traktír Wan.. Lu pílíh yang mana?” bísík Andí saat kamí sedang mengurus cek-ín. Memang sebelumnya aku yang janjí akan traktír, karena aku baru saja meneríma pembayaran darí salah satu proyekku.
“Noví” jawabku pendek.
“Hehe.. Lu nafsu líat bodynya ya?” bísík Andí lagí sambíl tertawa kecíl. Setelah ítu, kamípun segera cek-ín. Kugandeng tangan Noví, sedangkan Andí tampak merangkul bahu Lísa menuju kamar.

Setelah kukuncí píntu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Noví. Langsung kucíum bíbírnya dengan penuh gaírah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan payudaranya. Setelah puas mencíumí bíbírnya, kucíumí lehernya, dan kemudían segera kubuka kancíng baju seragamnya.

“ííh Mas.. Udah nggak sabar pengín nyusu ya?” godanya.

Tak kuhíraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak kekecílan untuk menampung payudaranya yang besar ítu. Langsung kuhísap dengan gemas dagíng kenyal mílík Noví, gadís SMA cantík íní.

“Ahh.. Ahh” erangnya ketíka putíng payudaranya yang telah mengeras kujílatí dan kuhísap. Tangan Noví mengangkat payudaranya, sambíl tangannya yang laín menekan kepalaku ke dadanya.
“Enak Mas.. Ahh” erangnya lebíh lanjut saat mulutku dengan ganas meníkmatí payudara yang sangat menggoda nafsu bírahíku.
“Jílatí putíngnya Mas..” píntanya. Erangannya semakín menjadí dan tangannya menjambak rambutku ketíka kuturutí permíntaannya dengan senang hatí.

Puas meníkmatí payudara gadís belía íní, kembalí kucíumí wajahnya yang cantík. Lalu kutekan bahunya, dan díapun mengertí apa yang aku mau. Dengan berjongkok dí depanku, díbukanya restletíng celanaku. Tak sabar, kubantu día membuka seluruh pakaíanku.

[nextpage title=”4 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

“íh.. Mas, gede banget..” desahnya líríh ketíka penísku mengacung tegak dí depan wajahnya yang cantík. Díelusnya perlahan batang kemaluanku ítu.
“Memang kamu belum pernah líat yang besar begíní?”
“Belum Mas.. Punya cowok Noví nggak sebesar íní.” jawabnya. Tampak matanya menatap gemas ke arah kemaluanku.
“Arghh.. Enak Nov..” erangku ketíka Noví mulaí mengulum kepala penísku.

Díjílatínya lubang kencíngku, dan kemudían díkulumnya penísku dengan bernafsu. Sementara ítu tangannya yang halus mengocok batang penísku. Sesekalí díremasnya perlahan buah zakarku. Rasa níkmat yang tíada tara menghínggapí tubuhku, ketíka gadís cantík íní memompa penísku dengan mulutnya. Kulíhat kepalanya maju mundur menghísapí batang kejantananku. Kuusap-usap rambutnya dengan gemas. Karena capaí berdírí, akupun píndah duduk dí kursí. Noví kemudían berjongkok dí depanku.

“Noví ísap lagí ya Mas.. Noví belum puas..” katanya líríh.

Kembalí mulut gadís belía íní menghísapí penísku. Sambíl mengelus-elus rambutnya, kuperhatíkan kemaluanku menyesakí mulutnya yang mungíl. Ruangan segera dípenuhí oleh eranganku, juga gumaman níkmat Noví saat menghísapí kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan dagíng kenyal ítu.

“Nov.., jepít pakaí susumu Nov..” píntaku.

Noví langsung meletakkan penísku dí belahan payudaranya, dan kemudían kupompa penísku. Sementara ítu tangan Noví menjepítkan payudaranya yang besar, sehíngga gesekan dagíng payudaranya memberíkan rasa níkmat luar bíasa pada penísku.

“Yes.. Yes..” akupun tak kuasa menahan rasa níkmatku. Setelah beberapa lama, kusodorkan kembalí penísku ke mulutnya, yang dísambutnya dengan penuh nafsu.

Setelah puas meníkmatí mulut dan payudara gadís SMA íní, kumínta día untuk bangkít berdírí. Kucíumí lagí bíbírnya dan kuremas-remas rambutnya dengan gemas. Tanganku melepas restletíng rok seragam abu-abunya, kemudían kuusap-usap vagínanya yang mulaí mengeluarkan caíran membasahí celana dalamnya. Kusíbak sedíkít celana dalam ítu dan kuusap-usap bíbír vagína dan klítorísnya. Tubuh Noví menggelínjang dí dalam dekapanku. Erangannya semakín menjadí.

Aku sudah íngín menyetubuhí gadís muda íní. Kubalíkkan badannya dan kumínta día menunggíng bertumpu dí meja rías. Kubuka celana dalamnya sehíngga día hanya tínggal mengenakan baju seragamnya yang kancíngnya telah terbuka.

“Ahh..” jerítnya panjang ketíka penísku mulaí menerobos vagínanya yang sempít.
“Gíla.. Memekmu enak banget Nov..” kataku ketíka merasakan jepítan díndíng vagína Noví.

Langsung kupompa penísku dí dalam vagína gadís cantík ítu. Sementara ítu, tanganku memegang pínggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Noví pun menjerít-jerít níkmat saat tubuh belíanya kusetubuhí dengan gaya doggy-style. Kulíhat dí kaca meja rías, wajah Noví tampak begítu merangsang. Wajah cantík gadís belía yang sedang meníkmatí persetubuhan. Payudaranya pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan dí balík baju seragamnya yang terbuka.

Bosan dengan posísí íní, aku kembalí duduk dí kursí. Noví lalu duduk membelakangíku dan mengarahkan penísku ke dalam vagínanya. Kusíbakkan rambutnya yang panjang índah ítu dan kucíumí lehernya yang putíh mulus. Sementara ítu tubuh Noví bergerak naík turun meníkmatí kejantananku. Tanganku tak ketínggalan síbuk meremas payudaranya.

“Ahh.. Ahh.. Ahh..” erang Noví seírama dengan goyangan badannya dí atas tubuhku. Terkadang erangan ítu terhentí saat kusodorkan jemaríku untuk díhísapnya.

Beberapa saat kemudían, kuhentíkan goyangan badannya dan kucondongkan tubuhnya agak ke belakang, sehíngga aku dapat menghísapí payudaranya. Memang enak sekalí meníkmatí payudara kenyal gadís cantík íní. Dengan gemas kulahap bukít kembarnya dan sesekalí kujílatí putíng payudara yang berwarna merah muda. Erangan Noví semakín keras terdengar, membuat aku menjadí semakín bergaírah. Setelah selesaí aku meníkmatí payudara ranumnya, kembalí tubuh belía Noví mencarí pelepasan gaírah mudanya dengan memompa penísku naík turun dengan líar. Tak kusangka seorang gadís SMA dapat begíní bínal dalam bermaín seks.

Cukup lama aku meníkmatí persetubuhan dengan gadís cantík íní dí atas kursí. Lalu kumínta día berdírí, dan kembalí kamí bercíuman. Kubuka baju seragam sekolah beríkut BH-nya sehíngga sekarang kamí berdua telah telanjang bulat. Kembalí dengan gemas kuremas dan kuhísap payudara gadís 17 tahunan ítu. Aku íngín segera menuntaskan permaínan íní. Lalu kutuntun día untuk merebahkan dírí dí atas ranjang. Aku pun kemudían mengarahkan penísku kembalí ke dalam vagínanya.

[nextpage title=”5 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

“Ahh..” erang Noví kembalí ketíka penísku kembalí menyesakí líang kewanítaannya.

Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah íní. Erangan níkmat kamí berdua memenuhí ruangan ítu, dítambah dengan bunyí derít ranjang menambah panas suasana. Kulíhat Noví yang cantík menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kírí menahan níkmat. Tangannya meremas-remas spreí ranjang.

“Mas.. Noví hampír sampaí Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh” jerítnya sambíl tubuhnya mengejang dalam dekapanku.

Tampak día telah mencapaí orgasmenya. Kuhentíkan pompaanku, dan tubuhnya pun kemudían lunglaí dí atas ranjang. Kuperhatíkan butír keríngat mengalír dí wajahnya nan ayu. Payudaranya naík turun seírama dengan helaan nafasnya. Payudara belía yang índah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas kembalí meníkmatí payudara ítu dengan bernafsu.

Setelah ítu, kucabut penísku dan kembalí kujepítkan dí payudaranya. Kalí íní aku yang menjepítkan dagíng payudaranya pada penísku. Noví masíh tampak terkulaí lemas. Lalu kupompa kembalí penísku dalam belahan payudara gadís íní. Jepítan dagíng kenyal ítu membuatku tak dapat bertahan begítu lama. Tak lama aku pun menyemburkan spermaku dí atas payudara gadís SMA yang seksí íní.

*****

Kamí akhírnya mengínap dí motel tersebut. Selama dí sana, aku sangat puas meníkmatí tubuh síntal Noví. Berulang kalí aku menyetubuhínya, baík dí atas ranjang, dí meja rías, dí kursí, ataupun dí kamar mandí sambíl berendam dí bathtub. Sebenarnya íngín aku mengínap lebíh lama lagí, tetapí harí Senín ítu aku harus menemuí klíenku dí pagí harí, sementara ada bahan yang masíh perlu dípersíapkan.

Harí Mínggu malam, kamí pun kembalí ke Bogor. Kalí íní gantí Andí yang menyetír mobílku. Lísa duduk dí kursí penumpang dí depan, sedangkan Noví dan aku duduk dí belakang. Dalam perjalanan, melíhat Noví yang cantík duduk dí sebelahku, dengan rok míní yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembalí bergaírah. Akupun mulaí mencíumínya sambíl tanganku mengusap-usap pahanya. Kusíbakkan celana dalamnya, dan kumaínkan vagínanya dengan jemaríku.

“Ehmm..” erangnya saat klítorísnya kuusap-usap dengan gemas.

Erangannya terhentí karena mulutnya langsung kucíum dengan penuh gaírah. Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya sehíngga payudaranya yang besar ítu segera mencuat keluar menantang.

“Suka banget síh Mas.. Nyusuín Noví” ucapnya líríh.
“íya habís susu kamu bagus banget” bísíkku.

Desah Noví kembalí terdengar ketíka lídahku mulaí menarí dí atas putíng payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhísap dengan gemas gunung kembar gadís cantík íní híngga membuat tubuhnya menggelínjang níkmat.

“Gantían dong Nov” bísíkku ketíka aku sudah puas meníkmatí payudaranya yang ranum.

Kamí pun kembalí bercíuman sementara tangan Noví yang halus mulaí membukaí resletíng celanaku. Díturunkannya celana dalamku, sehíngga penísku yang telah membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Noví pun kemudían mendekatkan wajah ayunya pada kemaluanku ítu, dan rasa níkmat menjalar dí tubuhku ketíka mulutnya mulaí mengulum penísku. Sambíl menghísapí penísku, Noví mengocok perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan níkmatku.

“íhh.. Gede banget.. Lísa juga pengen dong..”. Tíba-tíba aku díkagetkan oleh suara Lísa yang ternyata entah sejak kapan memperhatíkan aktífítas kamí dí belakang.
“Píndah aja ke síní” kataku sambíl mengelus-elus rambut Noví yang masíh menghísapí penísku.

[nextpage title=”6 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

Lísa pun kemudían melangkah píndah ke bangku belakang. Langsung kucíumí wajahnya, yang walaupun tídak secantík Noví tetapí cukup manís. Lídahku dan lídahnya sudah salíng bertaut, sementara Noví masíh síbuk meníkmatí penísku.

“Dí.. Bentar ya nantí gantían..” kataku pada Andí yang melotot melíhat darí kaca spíon.
“Oke deh bos..” jawabnya sambíl terus melotot melíhat pemandangan dí bangku belakang mobílku. Setelah puas bercíuman, kucabut penísku darí mulut Noví.
“Ayo Lís.. Katanya kamu suka” kataku sambíl sedíkít menekan kepala Lísa agar mendekat ke kemaluanku.
“íya.. Abís gede banget..” katanya sambíl dengan ímutnya menyíbakkan rambut yang menutupí telínganya.
“Ahh.. Yes..” desahku saat Lísa memasukkan penísku ke dalam mulutnya. Díhísapínya batang kemaluanku sepertí anak kecíl sedang memakan permen lolípop. Rasa níkmat yang tak terhíngga menjalarí seluruh syarafku.

Cukup lama juga Lísa meníkmatí penísku. Sementara ítu Noví kembalí menyodorkan payudara mudanya untuk kuníkmatí. Setelah beberapa lama kuhísapí payudaranya, Noví kemudían mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan mencíumí buah zakarku, sementara Lísa masíh síbuk mengulum batang kemaluanku.

“Níh gantían Nov..” katanya sambíl menyorongkan penísku ke mulut Noví yang berada dí dekatnya. Noví pun dengan sígap kembalí mempermaínkan kemaluanku dengan mulutnya. Sementara ítu, kalí íní gantían Lísa yang menjílatí dan mencíumí buah zakarku.

Saat ítu aku merasa sepertí sedang berada dí surga. Dua orang gadís SMA yang cantík sedang menghísapí dan menjílatí penísku secara bergantían. Kuelus-elus kepala gadís-gadís ABG yang sedang meníkmatí kelelakíanku ítu. Níkmat yang kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagí. Tetapí sebelumnya aku íngín menyetubuhí Lísa. íngín kurasakan níkmat jepítan vagína gadís hítam manís íní.

Kumínta día untuk duduk dí pangkuan sambíl membelakangíku. Kusíbakkan celana dalamnya, sambíl kuarahkan penísku dalam líang níkmatnya. Sengaja tak kumínta día untuk membuka pakaíannya, karena aku tak mau menarík perhatían kendaraan yang melíntas dí luar sana.

“Ah..” desah Lísa ketíka penísku mulaí menyesakí vagínanya yang tak kalah sempít dengan kepunyaan Noví.

Lísa kemudían menaík-turunkan tubuhnya dí atas pangkuanku. Noví pun tak tínggal díam, dícíumínya aku ketíka temannya sedang memompa penísku dalam jepítan díndíng kewanítaannya. Goyangan tubuh Lísa membuatku merasa akan segera menumpahkan spermaku dalam vagínanya. Aku berusaha sekuat tenaga agar tídak ejakulasí terlebíh dahulu sebelum día orgasme. Sambíl mencíumí Noví, tanganku memaínkan klítorís Lísa.

“Ah.. Terus Mas.. Lísa mau sampaí..” desahnya. Semakín cepat kuusap-usap klítorísnya, sedangkan tubuh Lísa pun semakín cepat memompa penísku.
“Ahh..” erangnya níkmat saat mengalamí orgasmenya.

Tubuhnya tampak mengejang dan kemudían terkulaí lemas dí atas pangkuanku. Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasíku dalam vagína gadís manís íní. Setelah berístírahat sejenak, kamí segera membersíhkan dírí dengan tísu yang tersedía.

“Mau gantían Dí? ” tanyaku pada Andí yang tampak sudah tídak tenang membawa mobílku.
“So pastí dong” jawab Andí sambíl menepíkan mobíl dí tempat yang sepí.

Kamí pun bergantí tempat. Aku yang membawa mobíl, sedangkan Andí píndah duduk dí jok belakang. Rencananya día juga akan maín threesome, tetapí Noví juga íkut beranjak ke bangku depan.

“Aku cape ah Mas..” katanya.

Andí tampak kecewa, tetapí apa boleh buat. Kamí pun segera melanjutkan perjalanan kamí. Kudengar suara lenguhan Andí dí jok belakang. Lewat kaca spíon kulíhat Lísa sedang mengulum penísnya. Karena sudah puas, aku tak begítu mempedulíkannya lagí.

Sesampaínya dí Bogor, kedua gadís ítu kamí turunkan dí tempat semula, sambíl kuberí uang beberapa ratus ríbu serta uang taksí.

[nextpage title=”7 Cerita Panas Indahnya Toket Kimcil”]

“Kalau ke Bogor hubungí Noví lagí ya Mas..” kata Noví manís saat kamí akan berpísah. Kulíhat beberapa orang memperhatíkan mereka. Mungkín mereka curíga kok ada dua gadís berseragam SMA dí harí Mínggu, malam lagí he.. He..
“Wan.. Gue doaín lu dapat banyak proyek deh.. Bíar lu traktír gue kayak tadí lagí..” kata Andí ketíka aku turunkan dí depan rumahnya.
“Síp deh..” jawabku sambíl pamít pulang.

Kukebut mobílku menyusurí jalan tol Jagorawí menuju Jakarta. Aku tersenyum puas. Yang dulu selalu menjadí obsesíku, kíní bísa menjadí kenyataan. Ternyata hídup ítu índah.

Pencarian Konten:

  • Cersex sedarah bergambar terbaru kisah nyata
  • cersex teman sekolah
  • Cersex sedarah bergambar
  • Cersex sedarah bergambar terbaru nyata

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *