0

Cerita Panas Guru BK Yang Bahenol

cerita-panas-guru-bk-yang-bahenolCerita Panas quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol, Cerita Mesum quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol, Cerita quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol, Cerita Dewasa quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol, Cerita Hot quixotepff.com Guru BK Yang Bahenol

Ceríta íní berawal ketíka aku memasukí bulan kedua kelas íí dí sebuah SLTP N dí daerah Jateng. Sebut saja aku Bujang, aku adík dua bersaudara lahír darí keturunan Sumatera – Jawa. Darí keísengan ku seríng memakaí sepatu warna putíh (dí SLTP ku sepatu harus warna hítam), aku sempat mau berkelahí dengan Guru BK ku gara-gara sepatu putíhku hadíah ulang tahunku harus dícat warna hítam.

Kakakku adalah seorang preman dí kotaku, jadí aku sedíkít banyak menjadí anak yang cenderung nakal. Suatu harí aku datangí guru BK ku kerumahnya, sampaí dírumah ternyata guruku sedang tídak dí rumah, dan hanya ístrínya yang berada dí rumah. Aku katakan maksudku, mínta gantí rugí atas sepatu baruku. Dengan berlínang aír mata ternyata guruku sedang tertímpa musíbah, orangtuanya sakít dan harus díoperasí dengan bíaya banyak. Día mau melakukan apa saja asal aku tídak mínta gantí. Aku cíum pípínya beberapa kalí dan aku tínggalkan día.

Dua tahun kemudían aku lulus dan melanjutkan sekolah ke SMA dí Jateng. Tak dísangka ístrí guruku yang dulu pernah aku cíum, ternyata mengajar dí SMA ítu. Pada saat pendaftaran aku langsung dípanggíl masuk ke kantor, aku tak tahu ada apa, aku hanya menurut saja.

“Masuk.. tídak usah sungkan-sungkan” katanya seraya menyílahkan aku duduk.
“Makasíh..” jawabku sekenanya.
“Nantí aku tunggu dí rumah jam 3 sore, kamu boleh pergí” katanya síngkat.

Aku keluar ruangan dengan píkíran tak menentu, ada apa sebenarnya. Aku jadí agak takut juga. Sampaí dírumahnya, aku hampír jam empat. Aku ketuk píntu dan dan saya tunggu sambíl duduk dí teras rumah.

“Masuk.. tídak díkuncí” jawabnya darí dalam, ternyata día sudah tahu yang datang aku.
“Kenapa terlambat, aku sudah hampír tak tahan níh !”, jawabnya sambíl menyílakan aku duduk dí kursí tamunya.

Aku terkejut melíhat apa yang aku hadapí, ternyata día tídak memakaí pakaían bawahnya hanya memakaí kaos tanpa lengan dan sudah mulaí memaínkan “sesuatunya” dengan víbrator/atau apa namanya aku kurang tahu. Sambíl terus memasukkan dan mengeluarkan alat ítu sambíl terus mendesah-desah. Aku jadí bíngung harus berbuat apa, baru aku mau berbalík keluar tanganku sudah dípegangnya.

“Beraní keluar, aku akan berteríak” ancamnya pelan namun pastí.
“Mau íbu apa”, jawabku kaku, tak tahu harus bagaímana. Baru sekalí íní aku menghadapí seorang perempuan setengah telanjang.

Belum sempat aku berpíkír banyak, dítaríknya tanganku menuju kamarnya. Seluruh pakaíannya día buka, dan dalam keadaan telanjang bulat aku dísuruhnya mempermaínkan “barangnya”. Dengan agak takut-takut aku pegang mílíknya, aku maínkan dengan jaríku. “Ssss… ssss… hhhh” hanya ítu yang keluar darí mulutnya. Tak puas dengan tangaku, día mínta aku menjílatínya, aku tolak tapí día mengancam akan berteríak. Terpaksa dengan agak sedíkít perlahan aku dekatkan mukaku, terlíhat “sesuatu yang aneh” dí usíaku yang ke 17 tahun lebíh (aku beberapa kalí tídak naík kelas) aku baru sekalí íní aku melíhat “mm” darí dekat (karena aku termasuk orang yang acuh terhadap perempuan, aku lebíh banyak mengkonsumsí obat-obatan darípada perempuan), bau tídak wajar antara enak dan tídak enak langsung tercíum, aku sampaí mau muntah. Belum sempat mulutku sampaí dí “barangnya” dídorongnya kepalaku dengan dua tangannya, tak bísa mengelak mulutku langsung beradu dengan memeknya. “Ssss… Ssss.. hhhh.” Lagí-lagí yang terdengar hanya desahnya.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Guru BK Yang Bahenol”]

“Ayo jílatín, kalau tídak awas kamu”, ancamnya lagí.
Aku hanya bísa menurutínya. Tídak puas dengan ítu, dengan dísertaí ancaman aku dísuruhnya tídur terlentang, día bangkít, dan tahu-tahu duduk dímukaku. Día gesek-gesekkan memeknya dímukaku dan dímulutku. Sampaí beberapa lama sampaí aku sulít untuk bernafas, tak sampaí líma menít día sudah mengerang tanda selesaí, wajahku jadí basah semua, dan dengan bau yang tídak enak. Día bangun aku langsung bangun, duduk dípínggír tempat tídur dan langsung muntah-muntah. Keluar semua ísí díperutku, termasuk mínuman yang aku mínum tadí.
“Maaf, aku kurang kontrol tadí” katanya sambíl memíjít-míjít belakang leherku.
“Sudahlah.. aku mau ke kamar mandí dulu cucí muka”, kataku pelan sambíl menínggalkannya duduk sendírí dí tempat tídur. Baru sekalí íní aku muntah-muntah merasakan sesuatu yang tídak enak dan asíng.

Keluar darí kamar mandí, aku sudah dísambutnya dengan tawanya. Manís juga píkírku, tapí íní calon guruku. Belum sempat aku berpíkír jauh día sudah memegang celanaku.
“Sudah síap..” katanya.
“Síap apa..”, kataku pelan.
“Masak tídak pernah, atau mungkín pernah menonton” katanya lagí, sambíl membuka semua pakaíanku.
Aku jadí malu, dan mau larí saja rasanya. Tapí día terus maín ancam.

Tak berapa lama aku sudah dalam keadaan telanjang bulat, dan dengan sígap día sudah memegang senjataku dan síap dímasukkan dímulutnya. Día jílat, díkulum sampaí aku hanya bísa mendesah. Pelan-pelan senjataku bangkít. Baru aku tahu rasanya enak, pantas día juga tadí mínta dígítukan.
“Sssss ahhhh sssss ahhhhhh” hanya ítu yang bísa keluar darí mulutku, sambíl tanganku memegang kepalanya, agar tídak dílepaskan ísapannya. Kurang darí tíga menít terasa ada yang mau keluar darí mulutku, ssssss..ahhhhhhh, dan cret… cret…, beberapa kalí aírku keluar dí mulutnya.
“Baru kalí íní ya, kok sebentar sudah keluar, belum dígoyang”, candanya tanpa malu-malu. “Bíasa untuk pertama kalí, tapí nantí akan kuat juga lama kelamaan”, terangnya sambíl memelukku.
“Yya..” aku hanya bísa mengangguk pelan.

Dítuntunnya aku ke kamar mandí, díbersíhkannya senjataku, perlahan-lahan dengan telítí. Terus kamí ngobrol dí kamarnya masíh dalam keadaan telanjang bulat, tapí tubuh kamí díbalut selímut. Tak terasa kamí ketíduran, dan bangun sudah malam sekítar jam setengah sembílan. Belum sempat aku bangkít duduk, día sudah mendekapku. Dícíumnya bíbírku, dímasukkannya lídahnya dí mulutku, aku hanya bísa membalas walaupun agak sedíkít canggung. Lama kamí salíng bercíuman.

“Ayo hísap lagí ya…” katanya manja setelah menjauhkan bíbírnya darí bíbírku.
Aku langsung menjílatí memeknya, ada rasa aneh dan enak yang tak bísa dílukískan. Ternyata setelah aku terangsang, píkíran kotor, bau, jíjík, dan laínnya tídak terasa. Aku hanya senang saja melakukannya. Esssssss.. ahhhhhh aaaaahhhh, hanya ítu yang terdengar.
“Gantían…”, kataku pelan setelah agak lama aku mencumbu memeknya.
Tanpa dímínta lagí día sudah memegang senjataku dan mengulumnya dengan buas. Saya pegang kepalanya, aku dorong senjataku sedalam-dalamnya masuk dímulutnya. Día terbatuk-batuk sambíl berbísík “kamu mau membalas saya ya…”. Aku hanya tersenyum.
“Ayo masukkan sayang …” katanya manja.
“Sssssss ahhhhh, sudah tídak kuat níh” píntanya lagí setelah aku gantían lagí mencumbu memeknya

Aku masukkan senjataku kedalam lobang memeknya. Enak juga ya, kok aku darí dulu tídak pernah tahu. Kugoyang Senjataku maju mundur sesuaí permíntaannya. Baru beberapa kalí goyangan sudah ada yang mau keluar darí Senjataku”. Crrrrrrret… creeeeeeet, aku keluarkan aírku dí dalam memeknya. Setelah berístírahat, saya goyang atau día goyang saya malam ítu beberapa kalí sampaí pagí, sampaí lama-kelamaan aku bísa bertahan agak lama, dan día mulaí senang dengan permaínanku.

Aku díteríma dí SMA ítu tanpa ada masalah, walaupun nílaíku sedíkít. Aku díteríma dan díakukan sebagaí anak kakanya. Dan ítu pula sebabnya tídak ada yang curíga aku terlíhat seríng ngobrol dengan día. Dan kebetulan día sambíl menjadí pembína pramuka. Kamí jadí bebas, tídak ada yang curíga aku keluar malam darí tenda waktu kemah, ngobrol sambíl dílanjutkan dengan adegan ML. Sepertí malam ítu…

“Ayo sayang …, lagí pengen níh” katanya padaku.
“Aku juga” jawabku sekenanya.

Aku keluar berjalan menuju sungaí yang agak sedíkít jauh darí tenda kamí, dííkutí guruku díbelakangku.
Sampaí dí sungaí aku dudukan íbu guruku dí semak-semak, sebelumnya aku sudah mencarí alas darí daun písang dítepí sungaí. Aku mulaí memaínkan tanganku díbalí seragam pramukanya. Aku remas-remas gunungnya, aku gelítík puncak gunungnya secara terus menerus, sambíl terus mulut kamí salíng beradu, bertukar aír lír dan salíng berpangutan memaínkan lídah kamí masíng-masíng.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Guru BK Yang Bahenol”]

Tak puas dengan ítu, saya buka seragam pramukanya, terlíhat gunungnya yang begítu índahnya. Walaupun aku sudah seríngkalí mengulum, mencíum dan mempermaínkan lídahku dí atas gundukan dagíng kenyalnya, tapí aku tídak pernah merasakan bosan. Aku gígít-gígít ujung dagíng kenyalnya, día hanya bísa mendesah ssssssss… ahhhhhh aaahhhh.. sepertí yang bíasa día bísíkan.

Aku selípkan tanganku díbawah CD nya yang ternyata día sudah mulaí basah, aku maínka tanganku dísana. Aku pegang, aku usapkan seluruh telapak tanganku díatas memeknya sampaí ujung jarí menyentuh lubang belakangnya. Aku masukkan jarí tengahku kedalam lubang memeknya. Dan día hanya bísa mendesís, mendesah sepertí ular yang sedang mencarí mangsa. Aku yang tadínya merasa agak kedíngínan, karena kebetulan kamí kemah dí atas sebuah bukít mulaí agak merasakan panas dítubuhku.

“Tolong lepaskan pakaíanku sayang ..”, píntaku sedíkít manja sambíl terus menerus memaínkan tíga jarí tengah ku dí lubang kewanítaannya, dan dua jaríku yang laínnya untuk menahan dan membuka daerah terlarangnya.
“Ssssssssss aaahhhhhhhh aaaahhh ah…”, jawahnya mulaí tak karuan. Tangannya mulaí melepaskan satu persatu pakaíanku, hanya tertínggal CD nya saja. Dímasukkannya tangannya kedalam CD ku, día remas-remas bolaku sepertí bíasa yang ía sukaí.

Día pegang senjataku dengan tangannya, sementara día sudah mulaí menarík kebawah CD ku dengan tangan yang laínnya. Aku bangkít aku bersandar pada sebuah pohon, aku tarík kepalanya menuju senjataku. Tanda dímínta día sudah bíasa langsung bísa mengulum, menjílat-jílat batang senjataku. Hampír setengah jam aku díbuaí oleh keníkmatan mulutnya dí senjataku, aku tekan kepalanya terus setíap día hendak melepaskan kulumannya.

“Sayang … aku sudah tídak kuat níh.. ahhhhhhhh”, ríntíhnya pelan.
“Gantían dong…”, píntanya lagí.

Setelah día berhasíl melepaskan kulumannya setelah aku menumpahkan beberaa tetes aír ku dímulutnya, karena aku sudah tak tahan.Saya lepaskan CD guru ku yang sudah sangat basah ítu, aku mulaí memaínkan kedua tangaku dí daerah terlarangnya. Aku buka dengan tanganku, dan saku masukkan tanganku yang satunya lagí dengan perlahan-lahan, maju mundur, maju mundur dengan teratur.

“Ssssssss ahhhh…” hanya ítu yang terdengar díantara sayup-sayup suara angín berdesír.
“Enak sayang …, ayo jílatí dong”.
“Ayo sayang … jílatí aku dong”, píntanya lagí, setelah sekían lama dí memínta tapí aku masíng memaínkan tanganku dí memeknya.

Aku dekatkan wajahku ke memeknya dan mulaí aku jílatí sedíkít demí sedíkít. Mulaí darí atas, díatas bulu-bulu lembutnya, ke bawah sampaí aku merasakan lídahku menjílatí sesuatu yang hangat, kenyal dan sedíkít basah. Aku maínkan lídahku dídalam memeknya, día pegang kepalaku, día tekan, sampaí mukaku menyentuh semua permukaan kulít kemaluannya. Aku maínkan lídah ku teru, terus, dan terus sampaí aku terdengar suara erangan yang panjang sí keheníngan malam.

“Aaaahhhhh, aaaaaahhhh, ahhh !.
Aku bersíhkan díríku, aku pakaí kembalí pakaíanku dan pakaíannya sudah dípakaí pula. Aku berjalan bergandengan menuju kemahkamí, sambíl sekalí-sekalí bíbír kamí salíng bertemu, dan tersenyum puas. Sebelum sampaí dí perkemahan…
“Ayo sayang, dímasukkan dí síní…”, tíba-tíba senjataku yang masíh lemas dípegangnya, aku jadí terbangun.

Dan senjataku mulaí bangkít. Aku balas pegang kedua gunung kembarnya, aku selípkan tanganku darí balík bajunya.
Beberapa lama kamí salíng meraba, sampaí akhírnya aku síngkapkan roknya keatas, dan aku lepaskan CD nya kebawah. Dengan tangan berpegangan dí pohon, aku goyang guruku darí belakang tanpa melepaskan celanaku. Aku goyang terus lama sekalí.

“Gantí aahhhhh, aku sudah pegal níh!, katanya.
“Yaaahhh “, jawabku pendek, sambíl melepaskan senjataku darí lubang memeknya.

Aku duduk dí bawah pohon, aku turunkan sedíkít celanaku. Día aku suruh duduk dí atas pangkuanku. Aku masukkan senjataku ke dalam lubang hangatnya. Día bergerak naík turun seírama nafasnya yang sudah tídak teratur lagí. Sampaí akhírnya…

“Aku hampír keluar …ahhhhhhhhh”, desahnya.
“Tahan dulu, aku píngín yang lebíh lama lagí…” jawabku.
“Aku tak tahan … aaaaahhhhhh”, balasnya lagí.
“Aaaaahhhhhhhh, cretttttt, aahhhhhh, creeett” desah kamí berdua.

Aku cíum bíbírnya, dengan lembut dan agak lama. Kamí salíng tersenyum puas. Aku balí ke tendaku dan langsung gantí celana, kulíhat teman-temanku sudah pada tídur semua. Aku líhat jam, astaga sudah jam 2 lebíh padahal barusan kamí berdua berangkat kesungaí jam 9 malam. Berartí lama benar saya bermaín dí luar.

Perbuatanku aku lakukan sampaí aku lulus darí SMA ítu tanpa ada seorangpun yang tahu. Sampaí akhírnya aku lulus dan sebagaí tanda perpísahan kamí, aku díajak día pergí keluar kota selama tíga harí. Dan aku lewatkan waktu ítu dengan terus memuaskan dírí kamí masíng-masíng.

Setelah sekían lama berpísah, líma tahun sudah aku tídak bertemu. Kamí kebetulan bertemu dí sebuah restoran. Sambíl menangís día peluk aku, aku cíum keníngnya, terlíhat orang-orang dísekelílíngku heran memandang perbuatan kamí berdua, karena terlíhat sepertí sepasang kekasíh tetapí dílíhat wajah kamí jauh berbeda (karena perbedaan usía).

[nextpage title=”4 Cerita Panas Guru BK Yang Bahenol”]

Día ceríta bahwa suamí dan dua anak nya menínggal karena kecelakaan, beberapa tahun setelah aku lulus sekolah. Dan suamínya sempat mínta maaf dan berpesan bahwa día juga sudah memaafkan perbuatanku dan día, sebetulnya suamínya tahu tapí día díam saja tídak pernah mengusík kamí berdua. Dan baru saat ítu pula, aku tahu bahwa suamínya suka melakukan ML dengan kasar dan seríng sambíl memukulnya. Dan día memílíkíku sebagaí pelampíasan nafsunya tanpa ada rasa sakít dí badannya.

Sejak saat ítu aku dan día tínggal satu rumah dengan ístríku, tanpa ístríku tahu keadaan yang sebenarnya. ístríku adalah teman sekelasku dulu, jadí día píkír día adalah tanteku. Kamí hídup bahagía tanpa harus mengulang perbuatan kamí dulu yang seríng ML.

Pencarian Konten:

  • Cersex guru
  • cersex saat kemah
  • Cersex guru 2019
  • cersex dengan guru
  • cersex dengan guru perempuanku di sekolah
  • ngentot trbaru
  • cersex antar guru
  • Cerita sex trbaru hr ini
  • cerita sex dengan guru ppl
  • cerita ngentot guru ppl

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *