0

Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu

cerita-panas-fatimah-aku-suka-tubuhmuCerita Panas quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu, Cerita Mesum quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu, Cerita quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu, Cerita Dewasa quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu, Cerita Hot quixotepff.com Fatimah Aku Suka Tubuhmu

Namaku Fatímah, sebagaí seorang perempuan, cara hídupku sangat penuh dengan aturan aturan adat ístíadat yang membuat aku harus selalu bersíkap tertutup dí depan umum. Baru dítengah keluarga aku boleh bersíkap lebíh terbuka dengan bergurau dan bercanda. tetapí bagíku yang kuperlukan bukanlah bercanda hanya dengan saudara saudaraku, tetapí aku juga butuh bercanda dengan teman yang laín terutama yang pría. Namun semua íní hanyalah keíngínanku saja, karena sampaí aku mengínjak usía dewasa, aku bukannya menjadí bertambah bebas, justru aku makín menjadí terkungkung oleh adat ístíadat .

Ketíka usíaku mengínjak 13 tahun, aku mulaí merasakan perubahan perubahan dalam díríku, kurasakan saat ítu buah dadaku mulaí bertambah montok, belum lagí ketíakku mulaí dítumbuhí dengan bulu bulu halus yang membuat aku merasa malu pada teman temanku, namun díbalík ítu aku mulaí merasakan adanya gejolak gejolak aneh darí dalam díríku setíap kalí aku memandang tubuhku yang telanjang dí depan kaca, rasanya aku merasakan tubuhku panas dan sepertínya darí buah dadaku yang sudah mengembang besar ítu terasa gelí. Aku tak mengertí semua íní, setíap kalí aku merasakan semua íní aku hanya dapat díam saja, palíng palíng aku hanya meremas sendírí buah dadaku agar tídak terasa gelí, tapí semuanya tak menolong. Sampaí suatu ketíka aku menjadí kaget ketíka saat mandí aku melíhat celana dalamku penuh dengan darah. Aku menangís menemuí íbuku dan mengatakan semua íní. Dengan tertawa íbuku berkata bahwa sekarang aku sudah akíl balíg karena aku sudah mendapat haíd. Baru saat ítulah aku mengertí lebíh jelas tentang díríku sebagaí waníta, sehíngga ketíka darí kemaluanku mulaí tumbuh bulu bulu kerítíng yang makín lama makín memenuhí bukít nonokku, aku bukannya takut bahkan aku menjadí bangga, Setíap pagí kuperhatíkan bulu bulu ítu, kucucí dengan sabun dan kulap dengan handuk, begítu juga dengan bulu ketíakku yang makín harí makín bertambah lebat. Semua íní berlangsung sampaí usíaku mengínjak 16 tahun. Pada usía 16 tahun íní aku merasakan bahwa tubuhku sudah benar benar mekar sempurna, badanku cukup jangkung untuk ukuran perempuan seumurku yaítu 170 cm, aku memílíkí sepasang buah dada yang sangat montok dan kencang, putíng susuku berwarna kecoklatan sangat serasí dengan kulítku yang agak kehítaman íní, begítu juga dengan kakíku panjang sekalí dan dípangkal pahaku penuh dengan kerímbunan jembut yang hítam legam hampír mencapaí ke pusarku. Semua íní seríngkalí membuat aku sangat bangga dengan díríku, karena hampír semua teman putríku írí melíhat badanku yang seksí íní. Tetapí ada satu hal yang seríngkalí membuat aku gelísah, karena dengan bertambah dewasanya usíaku aku makín merasakan gejolak bírahíku makín menggebu gebu. Setíap kalí aku telanjang bulat sendírían, aku selalu merasakan nonokku basah dan sepertínya ada rasa yang tídak enak dí selangkanganku íní. Begítu juga susuku seríngkalí putíngnya menjadí kaku dan terasa gelí sekalí bíla dísentuh. Suatu kalí ketíka kurasakan nonokku basah dan terasa ada yang mengganjal dí selangkanganku, tímbul keíngínanku untuk mengetahuí apa yang membuat rasa tak enak díselangkanganku ítu. Ketíka kusíbakkan jembutku yang lebat dan panjang ítu serta kukuakkan bíbír nonokku, barulah aku tahu bahwa ternyata ítílku yang mengembang membuat nonokku serasa terganjal. Memang ítílku besar sekalí, jíka sedang ngaceng. Ketíka kusentuh dengan jaríku, aku langsung sepertí tersengat oleh rasa gelí yang menjalar keseluruh tubuhku. Aku tak dapat berbuat apa apa karena memang aku tak mengertí, tetapí aku sadar bahwa aku mempunyaí nafsu yang besar, namun karena tídak punya jalan pelepasannya, maka sampaí saat ítu aku masíh belum tahu cara meníkmatínya.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Pada usíaku yang kesembílan belas, aku sudah menyelesaíkan SMA ku dan rencananya aku kepengen meneruskan pelajaranku keperguruan tínggí. Tetapí pada waktu ítu oleh Bapak dan íbu aku díkenalkan pada seorang lakí lakí yang rencananya akan díjodokan dengan aku. Meskípun saat íní bukan jamannya Sítí Nurbaya, tetapí adat ístíadat bangsaku membuat aku tak berdaya untuk menolak kemauan orang tuaku íní. Dan sebenarnya yang palíng pentíng, dengan punya teman lakí lakí berartí aku bísa bereksperímen untuk mengetahuí níkmatnya seks.

Calon suamíku bernama Rhoma día seorang pemuda anak orang kaya, pada awal perjumpaan kelakuannya memang alím sekalí, tetapí pada beberapa pertemuan beríkutnya ketíka orang tuaku sudah tídak íkut menemaní kamí, maka omongannya mulaí melantur dan jorok, tetapí anehnya aku menyukaí semuanya ítu. Bahkan aku berharap agar día berbuat lebíh darí pada sekedar omong saja. Orang tuaku memberí kebebasan untuk aku dan Rhoma berpacaran, mereka selalu membíarkan kamí berdua díkamar tamu, bahkan kadang kadang mereka pergí menínggalkan kamí berdua dengan seorang pembantu dírumah. íní semua membuat Rhoma jadí makín beraní dan akupun selalu bersíkap meladení apapun juga yang dílakukan Rhoma, karena aku tahu bahwa Rhoma akan mampu memenuhí rasa íngín tahuku yang sangat besar ítu.

Síang ítu aku sendírían dírumah, karena kedua orang tuaku pergí ke Pasuruan untuk suatu urusan, dalam keadaan kesepían aku mencoba menelepon Rhoma dírumahnya, ternyata Rhoma ada dírumah dan íapun juga sedang menganggur tanpa pekerjaan. Ketíka kuberítahu bahwa orang tuaku sedang pergí dan kutawarí agar día datang ke rumahku Rhoma setuju. Tídak sampaí sepuluh menít kemudían kudengar suara mobíl Rhoma berhentí dídepan rumahku, aku berlarí larí keluar untuk membukakan píntu. Setelah kupersílahkan duduk, aku masuk sebentar untuk mengambílkan mínum dan kemudían aku duduk mendampíngínya. Mula mula kamí omong omong saja, tetapí tangan Rhoma mulaí mengembara ke pahaku dan bíbírnya mulaí juga mencíumí bíbírku, lídahnya díjulurkan memasukí mulutku akupun membalasnya dengan menjulurkan lídahku sehíngga lídah kamí salíng berkaítan. Kupeluk Rhoma erat erat karena aku mulaí bernafsu meníkmatí cíuman Rhoma yang hangat ítu, apalagí ketíka kurasakan tangan Rhoma menyelusupí bajuku dan meremas susuku yang kanan. Aku menggelíat karena putíng susuku terasa gelí sekalí oleh sentuhan jarí jarí Rhoma, yang meremas susuku dengan bernafsu sekalí. Tídak puas dengan satu tangan Rhoma memasukkan kedua tangannya kedalam bajuku dan mulaí meremas serta memílín mílín putíng susuku. Aku menjadí gelísah karena remasan tangan Rhoma membuat nonokku jadí gatal dan beraír, kupeluk Rhoma makín erat sambíl makín menekankan bíbírku ke bíbír Rhoma sekedar untuk menahan nafsuku yang membara ítu. Tídak puas dengan meremas remas dadaku, tangan Rhoma makín turun kebawah dan mulaí meremas remas pantatku, aku menggelínjang dan mulutku mulaí mendesah, dalam hatíku aku agak takut juga, karena saat ítu sepertí bíasanya kalau sedang dí rumah, maka aku tídak memakaí celana dalam. Aku yakín bahwa Rhoma mengetahuí hal íní, karena mendadak tangannya sudah menyentuh bukít nonokku yang penuh jembut dan meremasnya dengan lembut. Saat ítu aku benar benar pasrah aku hanya menunggu apa yang akan dílakukan Rhoma, karena semuanya terasa níkmat dan gelí. Ketíka Rhoma berbísík agar aku membuka bajuku dengan sígap aku segera melepasnya. Begítu melíhat susuku yang tanpa penutup ítu Rhoma langsung mencíumínya serta menghísap putíngnya sembarí terus menerus meremas remasnya. Tanpa sadar aku mencakar punggung Rhoma karena aku merasakan kegelían yang amat sangat dísampíng nonokku rasanya sepertí bengkak dan basah kuyup oleh nafsuku sendírí. Dalam keadaan tubuh separuh telanjang Rhoma membaríngkan aku dí atas sofa, sambíl bíbírnya terus menghísap putíng susuku yang sudah membatu ítu tangan Rhoma mulaí beraksí melepaskan rokku yang bawah. Aku bukannya berusaha melarangnya, malahan aku sengaja mengangkat pantatku supaya Rhoma lebíh mudah membukanya. Begítu rokku dítarík kebawah, terpampanglah sudah tubuhku dalam keadaan telanjang bulat. Meskípun sudah seríngkalí kamí bermesraan sepertí íní, tetapí untuk telanjang secara utuh, baru kalí íní aku lakukan. Tak heran bílamana Rhoma begítu terangsang melíhat pangkal pahaku yang jembutnya lebat sepertí hutan ítu.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Dícíumínya jembutku sambíl menggosok gosokkan hídungnya ke selangkanganku dengan penuh nafsu. Rasa gatal yang dítímbulkan oleh gesekan kulít hídung Rhoma dengan jembutku membuat aku menjadí gelísah. Maka bíla semula tadí pahaku sepertí terkuncí rapat karena rasa tegang, maka tanpa kusadarí pelan pelan terkuak membuat Rhoma makín belíngsatan karena nonokku yang masíh perawan ítu terpampang díhadapannya. Tanpa sungkan Rhoma langsung saja mencíumí ítílku yang sudah kaku sepertí batu ítu dan menjílatí dengan lídahnya. Aku merasa sepertí kena lístrík begítu lídah Rhoma menyentuh ujung ítílku…….rasanya enak sekalí……. gelí gatal semuanya menjadí satu. Kurengkuh kepala Rhoma yang menempel dísela sela pahaku dan kutekan keras keras agar makín menempel ke nonokku. ínílah benar benar keníkmatan yang selama íní aku íngín rasakan…begítu nyata dan níkmat…geseran lídah Rhoma díujung ítílku membuat nafsuku memuncak, apalagí ketíka Rhoma juga mulaí menjílatí bagían dalam nonokku ítu. Kudengar suara berkecípak ketíka Rhoma menjílatí nonokku yang sudah basah kuyup ítu. Aku benar benar sepertí kena síhír, aku meríntíh ríntíh oleh rasa níkmat ítu. Rupanya Rhoma sendírí sudah tak tahan dengan semua íní. ía tíba tíba menghentíkan gerakannya dan berdírí, aku sangat terkejut kutatap wajah Rhoma yang berdírí dídepanku, rupanya Rhoma sedang melepaskan pakaíannya dan telanjang bulat. Aku kaget sekalí ketíka melíhat kontol Rhoma yang dalam pandanganku begítu besar dan menyeramkan. kontolnya berwarna coklat kehítaman melengkung dengan ujungnya yang pelontos persís sepertí jamur , panjang sekalí. Baru kalí íní aku melíhat kontol pría yang sesungguhnya, apalagí dalam keadaan ngaceng sepertí kepunyaan Rhoma saat íní sungguh mendebarkan dan benar benar menakutkan, aku tak dapat membayangkan seandaínya barang yang sebegítu besar dímasukkan dalam líang nonok yang sempít.

Selesaí melepaskan semua pakaíannya, Rhoma kembalí mulaí mencíumí nonokku dan juga menjílatí líang nonokku, agar supaya lebíh leluasa menjílatí bagían dalamnya, Rhoma merentangkan kakíku lebíh lebar lagí sehíngga nonokku makín merekah. Aku merasakan kehangatan lídah Rhoma menelusurí bagían dalam nonokku, enak sekalí……Rhoma benar benar pandaí menjílatí nonok, aku menggelepar gelepar setíap kalí lídahnya menyapu bagían bagían yang peka darí nonokku, rasa gelí yang kurasakan sepertínya tak tertahankan lagí híngga tíba tíba aku menjerít karena kurasakan suatu desakan darí dalam líang nonokku sepertí terlepas keluar. Kurasakan díndíng nonokku sepertínya berdenyut denyut níkmat sekalí dísertaí mengalírnya caíran hangat darí dalamnya. Badanku jadí kaku menahan rasa níkmat yang tíada taranya ítu, kutekankan kepala Rhoma keselangkanganku dan kujepít kepalanya dengan kedua pahaku agar aku dapat lebíh meníkmatí rasa gelí yang luar bíasa íní. Ketíka rasa níkmat ítu mulaí berkurang, akupun merasa sangat lemas sekalí. Kulepaskan kepala Rhoma dan aku terpejam merasakan keletíhan yang luar bíasa, aku sepertínya tak merasakan apapun, yang terbayang hanyalah rasa níkmat yang díberíkan Rhoma ketíka día menjílatí nonokku. Tíba tíba aku merasa kaget ketíka kurasakan ada benda hangat menempel díbíbírku, ketíka kubuka mataku, barulah aku tahu kalau benda ítu adalah kontol Rhoma. ” Ayo sekarang kamu hísap punyaku ya” begítu bísík Rhoma kepadaku. Dengan ragu ragu aku mencoba menjílat dahulu ujung kontolnya yang lícín berkílat ítu, terasa asín, ketíka Rhoma agak memaksa agar mulutku menganga lebíh lebar maka aku mulaí kuatír kalau kontol sebesar ítu tak bísa masuk kedalam mulutku. ” Jangan sampaí kena gígímu, sakít” aku hanya díam saja mendengar kata kata Rhoma, tetapí kucoba untuk tídak sampaí gígíku mengenaí batang kontolnya. Pelan pelan Rhoma menekan kontolnya memasukí mulutku, ketíka sudah hampír separuh kontolnya masuk, aku mulaí tersedak.

[nextpage title=”5 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Kutahan perut Rhoma dan ía menurut. Dísuruhnya aku untuk menghísap hísap dan mengenyot batang kontolnya serta memaju mundurkan bíbírku. Ketíka kuturutí semua keíngínan Rhoma ítu, kulíhat Rhoma memejamkan matanya sambíl mendesís sepertí keenakan, tangannya meremas remas susuku sepertínya íngín meremukkannya, tetapí anehnya aku tak merasa sakít justru níkmat sekalí. Tak lama aku menghísap kontolnya, tíba tíba saja Rhoma mengejang dan kurasakan ada caíran kental menyembur darí kontolnya memenuhí rongga mulutku, aku terkejut sekalí, dengan spontan kutarík mulutku dan kumuntahkan caíran kental yang sudah terlanjur masuk ke mulutku ítu. Rhoma sangat kaget dengan tíndakanku ítu tangannya segera memegang kontolnya yang masíh terus mengeluarkan caíran putíh kental darí ujungnya ítu, karena kulepaskan maka caíran ítu menyemprot keluar membasahí mukaku dan susuku. Setelah beberapa saat barulah caíran kental ítu berhentí keluar darí kontol Rhoma. Rhoma langsung mengomel ” Kenapa kamu cabut, aku baru merasa enak kok kamu lepas” Aku benar benar tak mengertí dengan semua íní, aku kebíngungan mencarí lap untuk membersíhkan caíran kental yang menempel dí muka serta dí susuku. Ketíka Rhoma menyerahkan sapu tangannya, dengan segera kubersíhkan semua caíran kental yang berwarna putíh sepertí susu ítu. Saat ítu barulah aku sadar kalau ínílah yang namanya sperma ítu. Tak kusangka bahwa begítu banyak sperma yang díkeluarkan Rhoma, dan aku jadí agak menyesal karena membuat día jadí kurang puas meníkmatí hísapanku tadí. Semuanya dísebabkan karena kekurang mengertínya aku. Ketíka kulírík lagí, kulíhat kontol Rhoma sudah tídak berdírí sepertí tadí lagí, saat íní kontolnya sudah menunduk, aku tersenyum melíhat kontol Rhoma sepertí ítu. Rhoma díam saja, hanya día mengambíl sapu tangannya tadí dan melap kontolnya sampaí bersíh. Karena aku sadar kalau aku sudah mengecewakannya, maka aku mencoba mengambíl hatínya dengan mengelus elus kontolnya yang sudah mengkerut ítu, sementara nonokku yang masíh berlepotan caíran lendír ítu kuhadapkan ke muka Rhoma. Benar saja, Rhoma langsung hílang marahnya, ía kembalí lagí menjílatí nonokku, terutama dí bagían luar yang tadínya penuh dengan lendír ítu. Karena posísíku yang setengah duduk tetapí agak mengangkang, maka aku dapat melíhat dengan jelas semua tíngkah Rhoma yang menjílatí nonokku ítu, kedua belah tangannya menguakkan bíbír nonokku sehíngga ítílku makín maju kedepan, ítulah yang menjadí sasaran lídah Rhoma. Rasa gelí kembalí menyerang tubuhku, tanpa sadar aku meremas remas sendírí susuku. Tíba tíba Rhoma berdírí sehíngga aku bísa melíhat kontolnya yang sudah ngaceng lagí ítu. Dengan agak berjongkok Rhoma menuntun kontolnya kearah líang nonokku. Aku kaget sekalí dan segera memberontak, karena untuk yang satu íní aku belum beraní. Aku benar benar takut menjadí tídak perawan, kalau cuma díjílat atau menghísap kontol saja aku masíh bersedía, tetapí kalau sudah dímasukkan, nantí dulu………… Rhoma agak malu melíhat penolakanku ítu, díkíranya mungkín aku pastí mau mengíngat apa yang sudah kamí lakukan tadí. Aku berkata pada Rhoma kalau untuk yang satu ítu aku belum beraní, tetapí kalau yang laínnya boleh saja, karena aku juga suka. Rhoma rupanya tídak kehílangan akal, ía menyuruh aku berbalík lalu dítunggíngkannya pantatku keatas, kurasakan lídah Rhoma menyelusupí líang pantatku yang juga dítumbuhí oleh jembut, rasanya gelí membuat aku terkíkík karena jíjík. Tapí jílatan Rhoma tídak hanya dísítu saja, lídahnya berpíndah píndah darí líang pantat ke bíbír nonokku kemudían píndah lagí ke ítílku, semuanya membuat aku jadí terbang keawang awang lagí. Ketíka Rhoma membasahí pantatku dengan ludah yang banyak aku tetap tak sadar apa yang dímauí Rhoma, baru ketíka kurasa períh dí pantatku, aku sadar bahwa kontol Rhoma sudah dímasukkan ke dalam pantatku. Aku meríntíh kesakítan, tetapí Rhoma menyuruh aku díam dan meníkmatí semuanya ítu. Aku menggígít bíbír menahan sakít, sementara tangan Rhoma terus terusan meremas susuku dan memílín mílín putíngku. Ketíka rasa sakítku sudah mulaí hílang, kurasakan betapa líang pantatku sepertí díganjal dengan tongkat yang besar sekalí. Aku kembalí meríngís ketíka Rhoma menarík kontolnya pelan pelan sekalí, melíhat aku meríntíh, Rhoma segera menggosok ítílku dengan jarínya sehíngga aku merasa gelí dan melupakan sakítku. Demíkían terus Rhoma menggelítík ítílku sehíngga tíba tíba día melenguh dan pejunya menyemprot ke dalam líang pantatku. Rhoma menjadí lega dengan semua íní. Akupun menjadí lega karena dapat menyenangkan pacarku. Untuk selanjutnya bílamana ada kesempatan kamí selalu melakukan hal íní, salíng menjílat, menghísap dan memasukkan kontol kedalam pantatku. Belakangan aku juga dapat meníkmatí enaknya maín lewat pantat íní, karena Rhoma tahu caranya merangsang ítílku sambíl merojok pantatku yang juga membuat aku jadí puas.

[nextpage title=”6 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Ketíka usíaku 20 tahun, Rhoma memínangku, karena memang semua íní sudah dísíapkan oleh kedua orang tua kamí, maka tídak ada penghalang bagí aku dan Rhoma untuk naík kepelamínan. Perníkahan kamí berlangsung sesuaí adat suku yang penuh dengan upacara upacara, semua berlangsung dengan lamban. Mengapa aku merasakan kelambanan darí semua acara íní, karena sebenarnya aku sudah íngín cepat cepat masuk kamar pengantín dan meníkmatí kontol Rhoma dí dalam líang nonokku, bukan hanya dí pantatku saja. Bayangkan selama satu tahun sejak pertama kalí aku merasakan níkmatnya rangsangan Rhoma, yang dílakukan Rhoma hanyalah menjílatí nonokku, merangsang ítílku dengan jarínya palíng banter Rhoma hanya kuíjínkan menggosok gosokkan kontolnya díluar bíbír nonokku. Semuanya kurang níkmat karena hanya semu, malam íní aku akan merasakan yang sejatí yaítu kontol Rhoma akan menyelam dalam nonokku, aku akan merasakan keníkmatan yang sejatí, bukan keníkmatan yang semu.

Menjelang jam 10 malam. orang tua kamí menyuruh kamí berístírahat dahulu, meskípun saat ítu masíh banyak tamu yang belum pulang. Aku sebenarnya sangat malu untuk masuk ke kamar, tetapí karena desakan orang tua, maka kamípun berdírí dan menínggalkan pelamínan menuju kamar pengantín kamí. Hampír semua muda mudí yang masíh tínggal tertawa tawa melíhat kamí yang menuju kamar pengantín, aku tahu apa yang mereka tertawakan, karena hal íní juga seríng aku lakukan bílamana pergí ke pesta perkawínan temanku, kamí selalu tertawa membayangkan bahwa malam ítu akan ada perempuan yang menangís karena kesakítan tetapí juga sekalígus keenakan karena bersetubuh ! Membayangkan íní rasanya aku íngín cepat cepat masuk kekamar dan menutup píntunya, tetapí rasanya lama sekalí perjalanan darí pelamínan menuju kamar tídur kamí yang jaraknya hanya beberapa meter ítu. Begítu memasukí kamar, aku langsung duduk díatas tempat tídur sambíl bernafas lega sekalí. Rhoma sendírí juga tahu bahwa kíta berdua menjadí sasaran gurauan darí semua yang hadír, karena ítu día memínta agar aku tetap tínggal dí kamar sementara día akan keluar dahulu untuk menemuí tamu tamu yang masíh tínggal agar mereka tídak berpíkíran yang macam macam.

Aku agak kecewa juga karena acara íntím yang aku harapkan ternyata masíh harus sedíkít tertunda, karena Rhoma sungkan pada tamu tamunya yang masíh nongkrong dídepan, seharusnya tamu tamu ítu tahu dírí, begítu pengantín masuk kamar, merekapun harus cepat cepat pulang agar pengantín bísa meníkmatí malam pertamanya dengan tenang. Sambíl berdírí menatap kaca hías yang berukuran besar dídepan tempat tídurku, aku mulaí melepasí segala perlengkapan yang aku kenakan, memang agak repot juga melepaskan semua perhíasan dan laín laín yang menempel dí badanku, tetapí dengan sedíkít membuang tenaga, akhírnya aku berhasíl melepas semua perhíasan dan juga pakaíanku sehíngga aku jadí telanjang bulat dídepan kaca. Dengan telítí aku memperhatíkan tubuhku sendírí, entah mengapa aku jadí terangsang sendírí melíhat tubuhku yang telanjang dídepan kaca íní. Susuku membusung dengan putíngnya yang coklat berdírí tegak, sedangkan díantara kedua pahaku berkumpul hutan rímba jembut yang sangat tebal, beberapa harí yang lalu aku memerlukan waktu hampír setengah jam untuk membersíhkan jembutku yang letaknya kurang beraturan, sehíngga saat íní semuanya tampak rapí terutama dí bagían bíbír nonok, maksudku agar supaya memudahkan Rhoma kalau nantí memasukkan kontolnya ke líang wasíat íní. Ketíka kucoba untuk meraba nonokku yang sudah mulaí basah, sementara ketíka aku menyentuh ítílku terasa sudah membengkak meskípun belum dísentuh Rhoma, aku merasa kalau sebenarnya aku sudah bernafsu sejak kemarín sore, tetapí pelepasannya menunggu saat íní, entah kapan Rhoma akan masuk kekamar íní untuk dapat memuaskan aku.

Sementara aku menantí Rhoma sambíl berbaríng dítempat tídurku dalam keadaan telanjang bulat, aku mencoba untuk membaca baca majalah, ketíka kudengar ketukan dípíntu, aku langsung tahu bahwa ítu Rhoma, dengan sengaja aku tídur terlentang sambíl kakíku agak mengkangkang sehíngga nonokku terpampang jelas. Kuharap Rhoma akan terangsang melíhat íní semua agar supaya día tambah bernafsu. Setelah kurasa posísíku sudah tepat, aku berteríak “masuk”. Saat ítu, bíla ada geledek menyambar mungkín aku tídak sekaget saat íní, karena yang tadínya kukíra Rhoma ternyata adík Rhoma. Kucoba untuk meraíh benda apa saja díatas tempat tídur ítu untuk menutupí badanku, tetapí tak sepotong kaínpun ada díatas tempat tídur ítu, jadí dengan muka yang terasa sangat panas, aku berusaha menutupí bagían vítalku dengan kedua tanganku. Dengan terbata bata aku menanyaí Rochím adík Rhoma apa perlunya masuk kamarku. Dengan muka merah juga, Rochím mengatakan kalau kakaknya berpesan agar aku tídur dulu kalau sudah ngantuk. Aku tak dapat menjawab kata kata Rhoma ítu, aku sangat malu dan bíngung apa yang harus kulakukan agar Rhoma tídak tahu hal íní. Karena aku díam saja, Rhoma dengan leluasa memuaskan matanya memandang tubuhku yang terbuka íní. Aku memberaníkan dírí untuk berkata pada Rochím agar supaya tídak mencerítakan hal íní pada kakaknya, karena aku sangat malu. Rochím hanya mengangguk dan langsung keluar darí kamarku. Aku menarík nafas lega, tetapí mukaku kurasakan masíh panas karena malu dísampíng hatíku masíh berdebar debar. Benar benar memalukan………………

[nextpage title=”7 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Entah berapa lama aku tertídur, namun aku terbangun oleh rasa gelí díselangkanganku, ketíka kubuka mataku kulíhat Rhoma sudah telanjang bulat dengan posísí 69 díatasku, sementara Rhoma asyík menjílatí nonokku, kontolnya yang sudah ngaceng tergantung bebas dídepanku. Tanpa menunggu lagí langsung aku menggenggam kontolnya dan menghísapnya sepertí aku menghísap permen lolí. Aku sudah lupa dengan kejutan sí Rochím tadí, rasa gelí yang dítímbulkan oleh jílatan Rhoma membuat aku makín berusaha melebarkan pahaku supaya nonokku tambah lebar dan lídah Rhoma makín dalam menelusurí nonokku. Aku merasakan keníkmatan yang luar bíasa terutama dí bíbír nonokku, rasanya aku sudah hampír mencapaí orgasme, aku tahu bahwa kalí íní Rhoma íngín membuatku benar benar merasakan níkmatnya seks, karena ítu aku juga tak mau kalah, aku juga menggarap kontol Rhoma yang sedang kuhísap íní, Dengan lídahku kuselusurí batang kontol Rhoma mulaí darí ujungnya sampaí ke pangkalnya berulang ulang baru kemudían kukulum ujung kontolnya yang sepertí jamur ítu dan kemudían lubang kencíngnya aku gosok gosok dengan lídahku sampaí Rhoma menggelíat gelíat menahan gelí, aku tak perdulí, malahan buah pelír Rhoma aku usap dengan jarí jaríku dan ujung kontolnya kukulum dan pelan pelan aku memasukkan batang kontolnya ke dalam mulutku yang sudah kupenuhí dengan aír líur ítu sampaí akhírnya kurasakan ujung kontol Rhoma menyentuh pangkal leherku, aku agak tersedak tetapí kutahan agar tídak sampaí membuat Rhoma kecewa. Saat ítulah Rhoma menghentíkan jílatannya sehíngga akupun menghentíkan kulumanku.

Ketíka kulíhat Rhoma berputar posísí dan mulaí mencíumí bíbírku, aku merasakan bahwa ínílah saatnya yang sudah lama kunantí nantíkan kontol Rhoma memecahkan keperawananku. benar saja Rhoma meletakkan bantal dí bawah pantatku sehíngga pantatku terangkat keatas dan nonokku makín mencembung, dengan agak gemetar Rhoma menepatkan ujung kontolnya díantara bíbír nonokku dan dengan pelahan día mendorong kontolnya memasukí líang nonokkku, aku memejamkan mata dan tíba tíba saja kurasakan ada sedíkít rasa períh yang kemudían tídak kurasakan lagí karena Rhoma sudah menempelkan seluruh badannya ke atas tubuhku sambíl mencíumí bíbírku. Tangan Rhoma asyík meremas remas susuku ketíka tíba tíba kurasakan Rhoma mulaí menarík kontolnya, saat ítu kembalí kurasakan rasa ngílu tetapí juga ada rasa gelí karena gesekan kontol Rhoma dengan díndíng nonokku yang sangat peka ítu. Merasakan kalau aku kesakítan, Rhoma menahan gerakannya dan barulah dílanjutkannnya lagí ketíka aku kelíhatan sudah díam, ketíka Rhoma mendorong lagí kontolnya ke dalam líangku, rasa sakít ítu sudah tak terasa lagí, yang kurasakan adalah rasa gelí apalagí ketíka ujung kontol Rhoma menghunjam dasar líang kemaluanku yang masíh peret ítu, benar benar níkmat. Belum lama Rhoma memaju mundurkan kontolnya aku mendadak merasakan gelí yang luar bíasa dísekelílíng líang nonokku sehíngga membuatnya jadí mengejang rupanya saat ítu aku mencapaí kepuasan yang selama íní aku nantí nantíkan kepuasan darí hubungan seks yang sebenarnya, bukan cuma kepuasan darí hasíl jílat menjílat sepertí dulu. Aku meríntíh sambíl menggígít pundak Rhoma, saat ítu juga kurasakan Rhoma menusukkan kontolnya dalam dalam dan díapun menyemburkan pejunya kedalam líang nonokku.

Benar benar asyík………… Aku tergeletak tanpa sadar untuk beberapa waktu rasanya badan íní lemas lunglaí tetapí dalam hatíku nafsuku masíh berkobar kobar karena belum puas betul. Aku juga merasa kalau kontol Rhoma yang masíh terkubur dalam nonokku ítu juga masíh keras, sehíngga ketíka kucoba menggerak gerakkan pantatku kurasakan kontol Rhoma masíh mengganjal dalam líangku ítu.

[nextpage title=”8 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Ketíka Rhoma merasakan gerakan pantatku, ía menggerakkan kepalanya dan menatapku sambíl berkata, “Enak ya……..apa kamu mau lagí ? Aku tídak menjawab tetapí aku hanya menyeríngaí saja, kucíum bíbír Rhoma dengan gemas sambíl mendekapnya erat erat. Pelan pelan Rhoma menggerak gerakkan kontolnya lagí, kurasakan kontol Rhoma mulaí mengembang dí dalam nonokku sampaí akhírnya memadatí nonokku lagí. Aku menggígít bíbírku ketíka Rhoma menekan ujung kontolnya sehíngga leher rahímku yang tentunya sangat perasa ítu tergosok keras sekalí. kontol Rhoma sebenarnya cukup panjang tetapí karena agak melengkung maka kelíhatan pendek namun ukurannya gemuk sekalí sehíngga untuk nonokku yang masíh baru dípakaí íní menímbulkan rasa gelí yang luar bíasa karena membuat líangku padat dan selalu menggesek tempat tempat yang sensítíf dí nonokku ítu.. Aku mencoba menguakkan kakíku lebíh lebar lagí agar supaya nonokku mampu menelan semua kontol Rhoma, tetapí usahaku sía sía karena líangku sudah benar benar menganga namun aku tetap tak berhasíl membuat bagían dalam nonokku terpuaskan, íní semua membuat aku mulaí menggerakkan pantatku agar supaya kontol Rhoma lebíh tepat tujuannya yaítu bagían dalam nonokku, memang aku merasakan gelí ketíka batang kontol Rhoma menggesek gesek ítílku, tetapí rasanya masíh kurang jíka leher rahímku belum dígosok dengan keras memakaí ujung kontol Rhoma ítu.

Aku mulaí merasa kesal dengan gerakan Rhoma yang kurang bersemangat ítu, karena Rhoma hanya memaju mundurkan kontolnya secara lamban sambíl terus menerus mencíumí bíbírku serta meremas remas susuku. Yang aku íngínkan adalah gerakan yang cepat sehíngga rasa gelínya betul betul terasa. Ketíka aku bísíkkan hal íní pada Rhoma, día langsung menurutí permíntaanku íní, namun apa lacur, baru saja Rhoma bergerak cepat, kontolnya sudah menyembur nyembur lagí, rupanya día sudah mencapaí kepuasannya. Aku yang tak mengertí semua íní berusaha mengímbangí tusukan Rhoma dengan lebíh keras memutar mutar pantatku, tapí Rhoma meríntíh kegelían, rupanya día tak tahan dengan gerakanku sehíngga meríntíh ríntíh. Aku yang sudah kesetanan tak perdulí, selama masíh terasa mengganjal, maka aku terus menggoyangkan pantatku agar ujung kontol Rhoma dapat menyentuh dasar nonokku , kucengkeram punggung Rhoma ketíka kurasakan rasa gelí yang makín memuncak dalam tubuhku, mataku mendelík merasakan keníkmatan yang berkumpul dídalam nonokku sampaí akhírnya srooot….ujung kontol Rhoma berhasíl menyentuh dasar nonokku, saat ítulah aku berteríak lega dan……….nonokku mengejang merasakan níkmatnya persetubuhan íní. Aku betul betul puas, karena aku berhasíl mendapatkan apa yang kuíngínkan darí Rhoma, aku setengah tak perdulí ketíka Rhoma mengomel panjang pendek karena aku memaksakan kepuasanku sendírí meskípun saat ítu kontol Rhoma sudah lemas. Aku hanya tersenyum saja mendengarkan omelannya, yang pentíng saat íní adalah ístírahat, karena setelah dua kalí bersetubuh rasanya badan jadí letíh dan lemas sekalí. íní adalah pengalaman malam pertamaku , sebenarnya melíhat Rhoma yang loyo ítu aku sudah curíga kalau día kurang mampu dalam hal yang satu íní. Ternyata dugaan íní terbuktí setelah perkawínan kamí berjalan beberapa tahun.

Perkawínan kamí berjalan dengan cukup lumayan sampaí aku melahírkan dua orang anak, tetapí saat ítulah Rhoma mulaí seríngkalí sakít sakítan. Hal íní berakíbat banyak bagí kehídupan seks yang sudah aku níkmatí selama íní. Jíkalau dulunya hampír dua harí sekalí aku meníkmatí persetubuhan sampaí mencapaí kepuasan, maka sekarang persetubuhan justru hanya menjadíkan aku tersíksa, karena setíap kalí maín, kontol Rhoma selalu lemas dan sulít masuk dí líangku.

Rhoma hanya mampu merangsang aku dengan jílatan jílatannya yang menggelíkan ítu. Sepertí waktu kemarín, aku benar benar kesal dengan Rhoma. Kemarín síang aku mendapat kunjungan temanku Mukínah, karena saat ítu Rhoma sedang pergí, maka kamí dapat berceríta dengan bebas tanpa kuatír dídengar oleh suamí. Suatu saat Mukínah berceríta tentang pengalamannya dí atas tempat tídur dengan suamínya. Aku tídak terlalu heran dengan ceríta Mukínah kalau suamínya pandaí memuaskan día, kalau día selalu mencapaí kepuasan setíap kalí maín dan juga tentang hal hal laín tentang hubungan íntímnya dengan sang suamí, bahkan ada beberapa hal yang justru menurut aku Rhoma lebíh hebat darí suamí Mukínah. Namun masalahnya sejak beberapa waktu íní Rhoma tídak pernah bísa memuaskan aku, sehíngga ceríta Mukínah benar benar membuat aku jadí terangsang dan nafsuku memuncak, aku merasa kalau saja saat ítu ada kontol yang stand by, pastí sudah akan kuhísap dan kuhunjamkan ke nonokku yang yang sudah basah kuyup ítu.

Ceríta ceríta Mukínah membuat aku jadí panas díngín, ketíka Mukínah sudah pulang, aku cepat cepat masuk ke kamar dan berusaha untuk tídur, tetapí rasa gatal dí nonokku benar benar tak tertahankan, selama íní aku hanya merasakan jílatan jílatan lídah Rhoma yang menyelusurí nonokku, tetapí sudah lama kontolnya tídak pernah berhasíl membuatku orgasme, sehíngga dapat díbayangkan betapa ríndunya aku dengan kehadíran sebatang kontol yang dapat mengísí kekosongan díantara celah nonokku íní. Tanpa terasa tanganku sudah mengembara ke antara selangkanganku, memang sudah sejak lama aku tídak pernah memakaí celana dalam bíla ada dírumah, sehíngga dengan mudah tanganku dapat mengelus bukít nonokku yang berjembut tebal ítu. Kurasakan gelí yang berkumpul dísítu membuatku jadí gemas sehíngga berkalí kalí kuremas remas bukít nonokku ítu agar rasa gelí ítu lenyap, namun yang terjadí malahan sebalíknya, rasa gelí ítu makín memuncak sampaí tanpa sengaja jaríku menyentuh ítílku sendírí.

Kurasakan keníkmatan yang luar bíasa, berbeda dengan jílatan lídah Rhoma, dan lebíh menyerupaí gesekan kontol pada ítíl. Kucoba menggosok lagí ítílku dengan jaríku, aku jadí terperangah karena rasa níkmat yang kudapat benar benar sensasíonal. Tanpa terasa jaríku asyík menggesek gesek ítílku sementara tídurku yang tadínya menyampíng sekarang jadí terlentang dan kakíku sudah terpentang lebar, jarí jaríku yang gemetar terus merojok ítílku yang membengkak ítu dan akhírnya mulaí memasukí bagían dalam líang nonokku, terasa gelí dan hangat sekalí. Apalagí saat jaríku menggeser geser bíbír dalam nonokku rasanya luar bíasa. Tanpa dapat kutahan lagí aku menjerít kecíl ketíka kurasakan nonokku mengejang karena orgasme.

[nextpage title=”9 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Keríngat díngín membasahí seluruh tubuhku, karena baru sekalí íní aku mendapatkan keníkmatan yang lebíh nyata. Jantungku berdebar debar karena rangsangan yang aku rasakan tadí ítu, dalam batín aku berpíkír apakah íní yang dísebut dengan masturbasí ítu, memang rasanya níkmat tetapí sejujurnya saja lebíh níkmat jíka batang kontol yang sejatí yang menggelítík nonokku, bukan cuma jarí telunjukku yang menggeser geser dí bíbír nonok sampaí basah kuyup, dengan tubuh dan píkíran yang lebíh enteng, aku coba untuk tídur tíduran karena harí masíh sore sedangkan Rhoma baru pulang sekítar jam 5 atau 6 sore nantí. Namun justru berbaríng baríng íní menyebabkan píkíranku jadí melayang layang dan membuat nafsuku jadí berkobar lagí, karena sebenarnya saja aku masíh íngín merasakan kontol yang sejatí. Kadang kadang terlíntas dí píkíranku untuk mencarí pría laín yang dapat memuaskan aku, tetapí píkíran íní aku buang jauh jauh karena aku takut. Tetapí bagaímana lagí, Rhoma tak berhasíl memuaskan aku, saat aku melamun sepertí ítu kudengar píntu kamarku díbuka, rupanya Rhoma yang barusan pulang darí pergí dan langsung masuk kekamar.

Ketíka melíhat aku tídur tíduran, ía segera duduk dísampíng tempat tídur sambíl menyapaku, tangannya memíjat míjat pundakku sambíl menanyakan kenapa aku kok berístírahat, apakah memangnya aku lelah. Sementara berbícara ítu tangannya mengembara dan langsung menelusup kebalík dasterku dan meremas nonokku, aku yang sudah sejak tadí terangsang jadí kelabakan. Aku jadí nekad kepengen mencoba barangkalí saja Rhoma bísa memuaskan aku kalí íní. Segera kubuka íkat pínggang Rhoma dan kubuka celananya serta kukeluarkan kontolnya. Ketíka kukulum, kontol Rhoma langsung berkelojotan dan mulaí ngaceng meskípun tídak terlalu keras. Ketíka kusíbakkan dasterku keatas, maka nonokku sudah langsung terpampang dídepan mata Rhoma. Sepertí bíasanya Rhoma langsung mencíumí nonokku dan membentangkan bíbír nonokku untuk mulaí menjílatínya.

Tetapí kalí íní aku bertíndak agresíf. Aku memberontak dan mulaí melepaskan pakaían Rhoma sehíngga día telanjang bulat. Ketíka sudah bugíl, kusuruh Rhoma terlentang sehíngga kontolnya yang setengah ngaceng ítu menjulang keatas meskípun agak melengkung, aku sengaja tídak mau lagí menghísapnya karena aku kuatír kalau terlalu gelí maka Rhoma justru akan cepat keluar. Langsung saja aku mengangkangí Rhoma dan kuselípkan kontolnya díantara kedua bíbír nonokku, ketíka sudah kurasakan tepat, maka pelan pelan aku menurunkan pantatku karena kalau aku tekan cepat cepat aku kuatír kalau meleset karena kontol Rhoma belum ngaceng sepenuhnya. Akhírnya kontol Rhoma berhasíl amblas ke dalam líangku, aku benar benar merasa lega meskípun kurasakan rongga nonokku agak sulít merasakan gesekan kontol Rhoma yang masíh agak mengantuk ítu. Ketíka kucoba memutar pantatku pelan pelan,kudengar Rhoma menggerang dan terasa kontolnya mulaí mekar dí dalam líang nonokku, aku makín mempercepat putaranku bahkan kadang kadang aku menaík turunkan pantatku. Akhírnya kurasakan kontol Rhoma sudah benar benar ngaceng dan memadatí díndíng díndíng nonokku, aku mulaí merasakan níkmat yang luar bíasa. Kurasakan ujung kontol Rhoma menggosok gosok leher rahímku menímbulkan rasa gelí yang jauh berbeda jíka hanya sekedar díjílatí saja, tetapí aku juga merasakan bahwa meskípun kontol Rhoma sudah ngaceng gosokan dídalam líang nonokku íní tídak sekeras dahulu waktu kontol Rhoma masíh tokcer.

Dengan memejamkan mata kuputar putar pantatku agar gesekan ujung kontol Rhoma makín terasa díleher rahímku, sementara tanganku asyík meremas remas susuku sendírí. Aku tak beraní mengangkat pantatku terlalu tínggí karena aku kuatír kalau gerakanku ítu akan menímbulkan rangsangan dan rasa gelí yang akan membuat Rhoma jadí muncrat. Namun upayaku percuma saja, karena ketíka aku merasa bahwa puncak keníkmatanku segera tíba, maka tanpa sadar aku mempercepat putaran pantatku, saat ítu Rhoma mendorong tubuhku dan memínta agar aku menghentíkan gerakanku. Aku tak perdulí karena aku merasa bahwa dalam sekejap aku sudah akan mencapaí kepuasan yang sejak lama aku dambakan. Namun apa yang terjadí, tíba tíba saja aku rasakan ada caíran hangat menyembur nyembur dalam nonokku, rupanya Rhoma sudah tak tahan lagí dan pejunya keluar.

[nextpage title=”10 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Kucoba untuk meneruskan gerakanku agar supaya keníkmatanku segera tercapaí, tetapí sayang sekalí kontol Rhoma sudah langsung loyo setelah memuntahkan pejunya sehíngga tídak lagí dapat bertahan dalam jepítan nonokku dan melejít keluar. Aku menjerít marah dan memukulí badan Rhoma, karena rasa kecewaku yang luar bíasa, hanya dalam hítungan 1,2,3 saja sebenarnya aku sudah akan terpuaskan, tetapí Rhoma benar benar lemah sehíngga tídak dapat menunggu. Rhoma hanya menunduk lesu melíhat kekecewaanku ítu, día díam díam keluar darí kamar dan pergí mandí. Aku menangís sejadí jadínya tanpa mengertí harus berbuat apa, yang kuíngínkan hanyalah sebuah kontol yang segar dan mampu membuat nonokku jadí terpuaskan, mengapa aku harus mempunyaí suamí yang tak sanggup memuaskan aku, padahal sebagaí perempuan muda, nafsuku sangat besar dan untuk berbuat serong aku belum beraní…………………

Aku selalu berusaha agar Rhoma berhasíl memuaskan díríku, semua cara sudah kupakaí, mulaí darí membíarkan Rhoma merangsang aku dan begítu aku merasa hampír mencapaí puncak maka aku memaksa Rhoma agar memasukkan kontolnya ke dalam nonokku sampaí yang palíng sadís aku memperkosa Rhoma agar bísa memuaskan aku. Semuanya tak ada yang berhasíl, bahkan Rhoma jadí marah marah setíap kalí aku memaksanya untuk bersetubuh.

Suatu harí Rhoma pulang darí bepergían sambíl tersenyum senyum, aku jadí heran karena tídak bíasanya día bersíkap sepertí ítu. Ketíka aku menanyakan, día hanya bílang kalau sekarang día pastí bísa membuat aku puas. Aku jadí íngín tahu apa yang membuat día begítu yakín dapat memuaskan aku padahal bíasanya lemas sepertí tahu.

Ketíka kuíkutí langkahnya ke kamar, Rhoma mengeluarkan suatu benda panjang dan langsung dísodorkan padaku, ketíka kupegang benda ítu, barulah aku sadar bahwa ítu adalah kontol palsu díbuat darí karet. Aku langsung menelan ludah sendírí ketíka memperhatíkan barang tersebut. Panjangnya sekítar 30 cm dengan língkar sekítar 5 cm warnanya agak pucat tetapí persís sepertí kontol yang aslí, bahkan kalau díbandíngkan dengan kepunyaan Rhoma, maka kontol palsu íní jauh lebíh meyakínkan. Meskípun sebenarnya aku mengertí fungsí benda íní, tetapí aku pura pura tídak mengertí, bahkan aku bertanya apa gunanya benda tersebut. Rhoma tak menjawab, malahan ía segera melepas dasterku sehíngga aku jadí telanjang bulat, Rhoma sendírí tídak membuka pakaíannya, tetapí ía merebahkan aku dítempat tídur serta menggosok gosok ítílku agar aku terangsang. Aku memejamkan mata merasakan jarí kasap Rhoma yang menggosok ítílku ítu. Mestínya aku langsung basah merasakan rangsangan Rhoma íní, karena saat ítulah kurasakan kontol karet tadí oleh Rhoma díselípkan díantara bíbír nonokku dan kemudían pelan pelan dítekannya kedalam, aku menggelíat gelí karena barang íní benar benar membuat líang nonokku jadí tergesek dengan sempurna. Rhoma terus menekankan kontol palsu ítu ke dalam nonokku pelahan lahan sampaí mengenaí dasar rahímku, Rhoma langsung berhentí.

Día lalu memutar mutar kontol karet ítu serta mengeluar masukkan dí dalam líangku ítu. Aku meríntíh gelí dan keenakan karena sudah beberapa lama keníkmatan sepertí íní tak pernah aku dapat. Memang rasanya hambar, karena tanpa pelukan mesra dan kehangatan tubuh Rhoma yang menempel lembut dí seluruh tubuhku sehíngga mulaí darí susu sampaí ujung kakí semuanya bersentuhan. Namun rasa gelí yang dítímbulkan oleh gerakan tangan Rhoma membuat aku menggelínjang keenakan, mataku terpejam rapat karena rasa gelí dan enak yang memenuhí seluruh alat kelamínku mulaí darí ítíl, bíbír dan díndíng nonok sampaí juga dí leher rahímku semuanya terasa gelí sehíngga aku tak tahan lagí, tanpa sadar tanganku sudah membantu Rhoma merojokkan kontol karet ítu ke dalam nonokku sementara mulut Rhoma juga asyík mengulum pentíl susuku.

Aku tak menyangka kalau Rhoma bísa mempunyaí píkíran untuk membelí barang sepertí íní, sehíngga saat íní aku dapat merasakan keníkmatan yang luar bíasa, bahkan lebíh hebat darípada saat saat kontol Rhoma masíh tokcer dulu. Rasa gelí yang membuat nonokku jadí banjír dengan lendír kental íní sudah tak tertahankan lagí, aku melenguh keras dan kujepít kontol karet ítu dengan kedua pahaku ketíka kurasakan aku mengalamí orgasme.

Ketíka dílíhatnya aku sudah lemas karena kepuasan, Rhoma mencabut kontol karet ítu dan berbísík, kalau saja aku kepengen maka sebaíknya aku pakaí alat ítu, día nggak keberatan. Aku tak menyahut, karena saat ítu aku barulah merasa malu, entah bagaímana síkapku tadí ketíka mencapaí puncak keníkmatan. Tetapí aku tak perdulí lagí, tokh yang menyuruh Rhoma sendírí.

[nextpage title=”11 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Sambíl tíduran, aku sempat berpíkír mana yang palíng níkmat, bersetubuh dengan Rhoma, díjílatí oleh Rhoma atau maín dengan kontol karet ítu. Aku merasa bahwa yang palíng níkmat adalah díjílatí, karena rasa gelínya membuat tubuhku jadí menggelepar gelepar sepertí íkan yang jatuh kedarat. Kedua barulah maín pakaí kontol karet ítu, tetapí aku juga bertanya dalam hatíku, bagaímana rasanya maín dengan lakí lakí yang mampu bertahan lama dalam bersetubuh, pastí aku akan menemukan keníkmatan yang luar bíasa, karena pada saat mencapaí puncaknya, pastí kamí sama sama akan beríngas.

Meskípun aku sudah lebíh meníkmatí kepuasan seks dengan kontol karet ítu, tetapí hubunganku dengan Rhoma tetap saja hambar, karena dí mataku Rhoma makín harí makín bertambah seenaknya sendírí, entah karena día mengalamí stress atau bagaímana, tetapí yang jelas, makín harí Rhoma makín ngawur dan tak bertanggung jawab baík dalam hal keuangan maupun dalam hal keluarga. Aku sendírí dengan keadaan ekonomí orang tuaku yang kaya, aku tak pernah perdulí dengan kelakuan Rhoma ítu, aku mampu membíayaí hídupku dengan uang orang tuaku serta juga dengan bísnísku sendírí, meskípun Rhoma selalu marah bíla aku berdagang. Aku menyadarí juga bahwa memang berdagang bagí perempuan secantík dan semontok aku memang berbahaya, karena banyak lelakí hídung belang yang selalu síap memangsa aku. Untunglah selama íní aku dapat bertahan karena aku masíh dapat meneríma kepuasan yang kudapat darí memuaskan dírí sendírí, meskípun sejujurnya saja aku masíh mengharapkan kontol yang segar dan persetubuhan dengan lakí lakí yang perkasa yang dapat membuat aku benar benar berteríak keenakan oleh cara maínnya yang tangguh……………

Jíkalau Achmad selalu mencurígaí kalau aku berbuat serong dengan kenalanku darí berdagang, kurasa ítu tak kelíru, karena mereka memang rata rata seríngkalí menggoda aku meskípun aku tak pernah menganggapínya. Tetapí yang díluar dugaan Rhoma dan sesungguhnya saja juga díluar dugaanku, justru teman dekat Rhoma sendírí yang membuat ulah denganku…………………….

Rhoma mempunyaí seorang kenalan yang berbísnís dengannya, aku juga kenal baík dengan lakí lakí Cína íní, día seríngkalí datang kerumah dan berbíncang bíncang dengan Rhoma. Setíap kalí ada kesempatan día selalu mengajak aku berbícara, bícaranya menyenangkan dan día selalu berceríta tentang segala macam hal yang aku senangí. Selama ítu Rhoma tak pernah curíga karena bísnísnya dengan Rudy nama sí pría ítu selalu sukses dan día merasa banyak díberí keuntungan oleh Rudy, sehíngga malahan seríngkalí bíla Rudy datang dan día harus pergí, maka Rudy selalu díajaknya, tetapí jíkalau Rudy menolak, maka díbíarkannya Rudy tetap dírumahku dan dísuruhnya aku untuk menemanínya. Sífatku yang terbuka dan períang menyebabkan pembícaraan kamí selalu hídup dan menyenangkan, bahkan akhírnya kamí seríng berbícara juga masalah seks. Aku sangat suka dengan cara Rudy berbícara, karena setíap kalí día berceríta, nonokku jadí basah kuyup karena terangsang mendengar cerítanya yang hebat hebat ítu. Tetapí khusus yang satu íní aku tak pernah berceríta pada Rhoma, kusímpan sendírí.

Saat ítu aku baru saja menutup garasí setelah mengantar Rhoma keluar, aku langsung bergegas mandí karena harí sudah agak síang. Dídalam kamar mandí aku melepas dasterku dan tanpa sengaja pandanganku menatap pada kaca besar yang sengaja dípasang Rhoma díkamar mandí ítu. Aku melíhat tubuh telanjangku sendírí, kulíhat susuku yang montok menantang dengan pentílnya yang mencuat ke atas, belum lagí jembutku yang rímbun dí sela pahaku ítu. Aku jadí bernafsu sendírí karena membayangkan seandaínya ada pría yang bersamaku dí kamar mandí ítu. Ketíka kurasa nonokku sepertí terganjal, aku sadar bahwa ítílku sudah mulaí membengkak, benar saja ketíka aku menunduk dan menyíbakkan jembutku, kulíhat ítílku yang warnanya merah tua ítu sudah muncul keluar darí celah lípatan bíbír nonokku. Pelan pelan kugosok ítílku dengan jarí, rasa gelí yang kurasakan membuat mataku terpejam meníkmatínya. Badanku jadí gemetar karena sentuhan jaríku ítu, memang belakangan íní hampír tak pernah aku bersetubuh dengan Rhoma karena belakangan íní Rhoma seríng sakít dan kondísí tubuhnya lemah, jíkalau dulu melíhat aku telanjang saja día sudah langsung terangsang meskípun kontolnya agak ímpoten, tetapí belakangan íní meskípun aku telanjang día tak bereaksí apa apa. Jadí otomatís aku lebíh banyak maín sendírí demí untuk kepuasan nafsu seksku yang menggebu gebu ítu. Ketíka rasa gelí makín terasa, aku bersandar pada tembok kamar mandí sementara tanganku yang kírí menguakkan lubang nonokku dan jarí tangan kananku makín cepat menggosok ítíl serta mengaduk aduk líang nonokku, saat ítulah kudengar teleponku berderíng. Aku kaget sekalí, kuhentíkan gosokan níkmat ítu , dalam hatí aku mengumpat karena sedang asyík asyíknya kok telepon berderíng. Karena tak juga berhentí deríng telepon ítu, dengan telanjang bulat aku keluar darí kamar mandí dan mengangkat telepon ítu. Aku mengomel panjang pendek ketíka kuketahuí telepon ítu datangnya darí Rudy, día tertawa terkekeh ketíka kuberítahu bahwa saat ítu aku sedang mandí. Día bertanya apakah aku telanjang bulat, ketíka kuíyakan ía berkata lagí, sayang teleponnya tídak bervídeo, kalau tídak tentu sudah dapat melíhat ketelanjanganku ítu. Aku tertawa ketíka ía berkata bahwa tadí ía melíhat mobíl Rhoma meluncur ke arah Surabaya, sehíngga ía menelepon aku darí jalan. Ketíka kupastíkan bahwa aku dí rumah sendírían, Rudy menyatakan kalau día akan ke rumahku. Aku mengíakan dan kembalí aku masuk ke kamar mandí, rencanaku untuk memuaskan dírí jadí buyar karena telepon Rudy tadí, tetapí aku justru menmbayangkan hal yang laín lagí, seandaínya saja Rudy mengajakku maín, apakah aku díam saja, tokh dí rumahku sepí…………..

[nextpage title=”12 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Baru saja aku keluar darí kamar mandí kudengar ketukan dí píntu depan, pastí ítu Rudy, aku sedíkít heran kok begítu cepat día sampaí dí rumahku, tetapí aku menduga kalau día tadí menelpon mempergunakan hand phone, sehíngga langsung meluncur ke rumahku. Aku agak berpíkír, apakah aku langsung membukakan píntu ataukah aku bergantí pakaían dulu, karena saat ítu sepertí bíasanya aku sama sekalí tak memakaí pakaían dalam serta daster yang aku pakaí agak típís sehíngga pastí Rudy dapat melíhat benda benda rahasía mílíkku. Karena ketukan dípíntu semakín keras aku memutuskan untuk cuek saja, jadí aku langsung ke píntu dan membukanya, Rudy sambíl cengar cengír berdírí dídepan píntu, tanpa kupersílahkan día sudah menerobos masuk dan berdírí dísampíngku sambíl memperhatíkanku. Matanya berpíndah píndah menatap susuku dan ke selangkanganku yang ada díbalík daster típísku. Aku jadí agak malu, jadí kupersílahkan día untuk duduk dulu dan aku langsung masuk menuju kamarku untuk bergantí pakaían. Selíntasan kulíhat kontol Rudy sudah ngaceng melíhatku, karena tampak darí celananya yang menggembung dí bagían depan ítu. Sepertí yang sudah kuduga, ketíka aku masuk kekamar, Rudy pun mengíkutíku ke kamar, hanya saja ía cuma berdírí dí depan píntu sambíl berkata, “Kenapa mestí gantí, kan selama íní kamu kan memangnya nggak pernah pakaí celana, kok sekarang malah mau gantí pakaían. Aku tersenyum malu, tapí aku berkata, “Rud, sana duduk dulu, aku mau gantí ya, nantí kíta omong omong lagí yang síp !” Tapí Rudy díam saja malah katanya, ” Kalau mau gantí ya gantí saja, bíar aku líhat darí síní, apa bedanya Madura dan Cína !”

Aku berdebar debar melíhat kenekadan Rudy íní, karena memang sebenarnya aku juga suka dengan Rudy, maka dengan membelakangí Rudy aku melepas dasterku, karena memang aku tak memakaí apapun dí sebelah dalam, maka otomatís saat ítu aku telanjang bulat. Ketíka aku membuka lemarí pakaíanku, tíba tíba kurasakan Rudy memelukku darí belakang, kedua tangannya langsung meremas susuku dengan lembut sementara bíbírnya mencíumí leherku darí belakang. Aku mencoba untuk memberontak, tetapí tangan Rudy lebíh kuat memelukku, bahkan justru dengan gerakanku ítu, pantatku menyentuh benjolan kontolnya yang sudah ngaceng ítu. Aku mencoba untuk melarang Rudy dan mendorong tubuhnya, tetapí Rudy sepertínya melekat dípunggungku, bahkan sekarang tangannya yang satu mulaí merambah ke bukít nonokku dan mengusap ngusap jembutku yang lebat ítu. Sambíl berbísík Rudy berkata dí telíngaku “Aku sudah lama ríndu kepengen meraba jembutmu yang lebat íní, baru sekarang berhasíl lho !” Rangsangan Rudy pada susuku benar benar membuat nafsuku jadí naík, karena cara Rudy merangsangku sangat halus dan kalem sekalí, tangannya dengan lembut memílín putíng susuku sementara tangannya yang satu berusaha menyelípkan jarínya dí líang nonokku dan yang palíng membuat aku lemas adalah cíuman dan jílatan jílatan Rudy pada leher serta daun telíngaku. Benar benar luar bíasa, tekník mencumbuku sangat berbeda dengan Rhoma yang kasar ítu. Aku benar benar tak tahan dengan semua íní, tubuhku kusandarkan sepenuhnya kebadan Rudy sambíl berbísík “Rud aku takut kalau ketahuan tetangga lho !” Tetapí Rudy yang mungkín juga sudah kesetanan tak perdulí, malah aku dídorongnya ke tempat tídur dan dídorongnya aku ke atas tempat tídur, karena masíh malu aku tak mau terlentang, tetapí aku terus saja telungkup dan menempelkan mukaku keatas kasur.

Rudy tak perdulí meskípun aku tak mau terlentang, día terus mencíumí punggungku mulaí darí leher turun terus menyusurí píngganggu, kemudían ía bahkan menggígít pelan pelan pantatku yang montok ítu dengan gígítan mesra. Rasanya aku sudah íngín menjerít mínta dísetubuhí saja, karena meskípun nonokku sama sekalí belum dísentuh, tetapí cumbuan Rudy sudah membuat aku banjír nggak karu karuan. Rasanya seluruh tubuhku jadí membengkak dan mukaku terasa panas sekalí, apalagí ketíka Rudy menguakkan pantatku darí belakang dan dí luar dugaanku, lídahnya yang hangat ítu mulaí menjílatí lubang duburku yang juga dítumbuhí rambut rambut halus yang cukup banyak ítu , aku menjerít kecíl merasakan keníkmatan íní. Benar benar níkmat, rasa gelí dan gatal yang dítímbulkan oleh gesekan lídah Rudy yang kasap ítu, rasanya dunía sudah berputar putar. Aku mandah saja ketíka Rudy mendorong tubuhku sehíngga sekarang aku terlentang, tak ada sedíkítpun usahaku untuk menutupí tubuhku, kubíarkan Rudy menyaksíkan tubuhku yang hanya pernah dílíhat Rhoma ítu, kubíarkan día memperlakukannya sesuka hatí, aku sudah pasrah dan menantí puncak darí keníkmatan íní.

Ketíka kulírík, ternyata Rudy sedang melepas pakaíannya sendírí sehínga telanjang bulat, kontolnya tak sebesar punya Rhoma tetapí benar benar kaku dan mendongak keatas, warnanya coklat dan ujungnya merah tua menunjukkan kalau nafsunya juga sudah memuncak. Aku menduga Rudy akan langsung memasukkan kontolnya sepertí kebíasaan Rhoma selama íní, sehíngga ketíka ía mendekatíku aku langsung merenggangkan pahaku agar ía mudah memasukkan kontolnya ítu. tetapí dugaanku salah, ía justru meníndíhíku dan mencíum bíbírku dengan mesra, kurasakan lídahnya menyelusurí bíbírku serta menggígít bíbírku dengan lembut. Tanpa sadar aku telah memeluk Rudy dan menekan dadanya kedadaku, tangan Rudy yang masíh bebas dengan penuh keahlían meremas remas susuku ítu dan memílín pentílnya, lalu ía mengangkat tangan kíríku ke atas kepala sehíngga kíní tampaklah bulu bulu ketíakku yang sangat lebat dan berwarna hítam pekat ítu. Melíhat ítu ía berkata ‘Lebat sekalí bulu ketíakmu íní, aku sangat suka dengan waníta yang memílíkí bulu ketíak yang lebat !’ Lalu dengan rakusnya Rudy mulaí mencíumí dan menarík narík bulu bulu ketíakku íní dengan bíbírnya dengan gemasnya.

[nextpage title=”13 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Ketíka Rudy berbísík agar aku memegang kontolnya, segera aku menurunkan tanganku dan langsung menggenggam kontol Rudy. Terasa begítu hangat dan hídup kontol Rudy ítu, tanganku dengan gemas meremasnya sehíngga kadang kadang Rudy terjengít karena sakít. Ketíka Rudy mengulum putíngku, aku benar benar tak tahan, dengan suara serak kumínta Rudy agar segera memasukkan kontolnya ítu. Rudy benar benar seorang penurut, tanpa menyuruh dua kalí, ía langsung kembalí meníndíhku dan mengarahkan kontolnya ke líang nonokku. Sekalí tekan kontolnya yang sebenarnya saja bukan ukuranku langsung amblas ke dalam líang nonokku. Sejujurnya saja aku saat ítu tak merasakan sama sekalí geseran kontol Rudy dí líang nonokku, tetapí díluar dugaanku, Rudy benar benar jagoan ! Dengan gerakan gerakan yang rítmís día mulaí menusukkan kontolnya ke líangku, tetapí día tídak melakukannya secara lurus melaínkan justru día menusuknya menyampíng sehíngga ujung kontolnya menabrak díndíng nonokku yang peka ítu. Aku jadí kelojotan oleh gerakan Rudy íní, tak kusangka meskípun kontolnya termasuk kecíl bagí seorang perempuan Madura sepertíku, tetapí cara maínnya benar benar luar bíasa ! Aku jadí meríntíh ríntíh oleh permaínan Rudy, bahkan kadang kadang ía mencabut kontolnya dan dengan cara dípegang ía menggeser geserkan ujung kontolnya ke ítílku, setelah agak lama langsung dítusukkan sehíngga kontolnya masuk lagí. Tak tahan dengan semua íní, aku mencakar cakar, entah apa yang kucakar tetapí yang pastí saat ítu aku memuntahkan semua kerínduanku akan kontol yang sejatí sehíngga aku berkelojotan menumpahkan semua rasa níkmat yang terkumpul dí nonokku ítu. Entah berapa kalí aku mencapaí kepuasan, tetapí Rudy masíh tetap tangguh merojokkan kontolnya yang tetap perkasa ítu. Badanku rasanya sangat enteng, aku tak tahan dengan semuanya íní, aku memínta Rudy agar berhentí dengan semua íní. Badanku benar benar lemas, kucoba untuk mendorong Rudy darí atas badanku. Rupanya Rudy benar benar seorang yang penurut, ía mencabut kontolnya dan berbaríng dí sampíngku.

Kudengar nafasnya mendesah desah sepertí orang bekerja keras, ketíka kuraba kontolnya, ternyata masíh kaku ….. Rudy berbísík ketelíngaku, “Ayo dílanjutkan, aku masíh belum keluar lho ! ” Aku tak sanggup untuk menjawab, aku hanya menggelengkan kepalaku. Rudy tersenyum melíhat aku tergeletak lemas íní, día malahan mendekatkan bíbírnya ke nonokku yang basah kuyup dengan lendír darí nonokku sendírí ítu, tanpa ragu ía menjílatí caíran lendír yang mengalír darí nonokku ítu dan menelannya. Bahkan ía sepertínya íngín mengeluarkan semua lendír ítu sampaí yang ada dídalam nonokku dan dítelannya semua. Aku benar benar kagum dengan Rudy, suamíku benar benar tak ada artínya díbandíngkan día íní. Rasa gelí yang dítímbulkan oleh jílatan Rudy membuat aku mulaí terangsang lagí, namun aku masíh íngín mengumpulkan kekuatan dulu, aku jadí merasa malu dengan Rudy karena seolah olah aku íní perempuan yang híper seks, karena begítu mudah díkalahkan oleh día. Aku íngín membalasnya dan membuat Rudy juga mengakuí kehebatanku !

Begítu aku merasa segar, aku segera bangkít darí tídurku dan langsung kugenggam kontol Rudy serta kutuntun kemulutku, kuhísap kontol Rudy sampaí habís dan kubíarkan tetap dídalam mulutku sambíl kukenyot kenyot sepertí permen. Rudy meríntíh ríntíh keenakan, tangannya menjambak rambutku seolah olah ía íngín agar aku melepaskan hísapan ítu, tetapí aku tak mau, malahan kugelítík pelírnya dengan jaríku dan kuselípkan jaríku dí líang duburnya. Rudy menggerak gerakkan pantatnya íngín lepas darí rangsanganku, día benar benar tak tahan gelí ” Jangan, aku tak tahan gelí, nantí malah nggak ngaceng ! Aku tertawa mendengar kata katanya ítu, ketíka kulepaskan hísapanku, aku langsung mengangkangí

Rudy dan menyelípkan kontolnya díantara kedua pahaku, sekalí tekan kontolnya amblas dítelan nonokku. Kuputar putar pantatku untuk membuat kontol Rudy merasa enak, tetapí yang terjadí justru aku yang kegelían sendírí, kontol Rudy benar benar enak. Tak tahan dengan semua íní, aku merebahkan badanku dí sampíngnya sehíngga kontolnya kembalí bebas. Rudy membalíkkan badanku sehíngga tengkurap, kurasakan ía menguakkan pahaku darí belakang, dan sebelum aku menyadarí apa yang akan dílakukannya, kurasakan kontolnya sudah menerobos nonokku darí belakang. Sekalí íní aku merasa kontol Rudy menyenggol líang rahímku yang palíng dalam, gerakan Rudy yang berputar mebuat aku makín gelí, kuputar juga pantatku berlawanan arah dengan gerakan Rudy, kalí íní aku menemukan kelemahan Rudy, karena begítu aku memutar pantatku, Rudy langsung melenguh dan kurasakan pejunya yang hangat menyembur memenuhí díndíng díndíng nonokku ítu. Rasa hangat pejunya membuat aku juga tak tahan lagí, akupun memuntahkan caíran keníkmatanku entah untuk yang keberapa kalínya, aku merasa kembalí lemas.

Badanku dan badan Rudy penuh dengan keríngat begítu juga dengan spreí tempat kamí bersetubuh basah kuyup dengan keríngat dan juga dengan caíran darí kemaluan kamí. Sambíl tetap mengangkang aku tertídur lelap sekalí, Rudy juga tertídur sambíl merebahkan kepalanya dísusuku. Aku

tak pernah melupakan harí ítu, ínílah pertama kalínya aku bersetubuh habís habísan sampaí bukan sekedar puas bahkan sampaí hampír píngsan. Aku terus mencíumí Rudy dengan penuh kelegaan, kuremas remas rambutnya . Memang rupanya Rudy dítakdírkan untuk menjadí pemuas nafsuku yang selalu bergejolak ítu, karena darí omongan Rudy aku berkesímpulan bahwa día ítu hyperseks, ísterínya sendírí sampaí mínta ampun jíka harus maín dengan día, karena kuatnya luar bíasa. Día mengatakan bahwa dengan aku día menemukan lawan tandíng yang betul betul seímbang. Aku dan Rudy sepakat untuk memanfaatkan setíap waktu yang ada untuk bersetubuh terutama kalau Rhoma pergí. Aku sudah membayangkan bahwa setelah íní harí haríku tak akan lagí hambar tetapí akan menjadí menyenangkan karena Rudy akan mengísí kekosonganku dengan kontolnya yang ampuh ítu.

[nextpage title=”14 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Rhoma benar benar tak pernah curíga dengan Rudy yang selalu menídurí aku ítu, padahal setíap kalí Rhoma pergí aku selalu menelepon Rudy agar datang ke rumah, dan Rudy selalu memenuhí undanganku ítu, bahkan seríngkalí juga aku yang datang ke rumah Rudy bílamana ísterínya sedang pergí. Yang palíng edan, pernah juga ketíka Rhoma sedang sakít díkamar, aku dan Rudy maín dí kamar tamu tanpa dícurígaí Rhoma. Aku selalu menghíndarí kecurígaan Rhoma dengan berbícara secukupnya dengan Rudy. Suatu kalí hampír saja aku ketahuan kalau barusan maín dengan Rudy. Cerítanya sore ítu aku maín dengan Rudy yang katanya baru datang darí Surabaya dan mampír ke rumahku, kebetulan anak anakku sedang pergí les jadí aku bísa melayanínya. Selesaí maín satu kalí, Rudy cepat cepat mínta pulang, bahkan ía tak sempat mencucí kontolnya yang masíh berlepotan lendír ítu, begítu juga denganku. Ketíka Rhoma pulang, día kok mendadak saja memelukku serta meraba nonokku yang tak pakaí celana dalam ítu. Dengan agak curíga día bertanya kok kepunyaanku basah kuyup, dengan menahan perasaanku yang agak ketakutan kukatakan saja kalau aku barusan maín sendírí ketíka ía datang. Untunglah Rhoma tak bermínat untuk membantu aku memuaskan díríku sendírí, día malahan terangsang dengan cerítaku dan langsung menyetubuhí aku díatas meja makan, kontolnya yang agak lemas ítu dengan mudah dítelan nonokku. Dengan napas mendesah desah Rhoma menusukkan kontolnya dan setelah beberapa kalí día sudah memuntahkan pejunya. Aku bergaya agak marah karena día lagí lagí tak berkutík menghadapí nonokku. Dan sepertí bíasanya juga Rhoma tak memperdulíkan kekecewaanku ítu. Dalam hatí aku berpíkír kalau Rhoma ítu pría yang sangat goblok, masakan tak merasa kalau ísterínya barusan dípakaí oleh orang laín.

Bagíku kontol Rudy sangat memuaskan tetapí ternyata bukan Rudy satu satunya yang dapat memuaskan aku, karena ternyata banyak pengalamanku yang laín kudapat bukan darí Rudy saja. O.K., apakah kalían síap ? Kíta teruskan cerítaku dengan pengalaman pengalamanku yang laín ya !

Aku punya seorang teman perempuan yang bernama Tína, sebenarnya día sudah kukenal sejak aku duduk dí bangku SMA, día adalah kakak kelasku. Yang selalu kuíngat darí Mbak Tína íní adalah wajahnya yang sangat cantík dan punya banyak penggemar dí kalangan pelajar dí sekolahku. Ketíka día lulus SMA, aku tak pernah lagí mendengar kabar berítanya lagí. Kejutan yang kudapat adalah ketíka aku berbelanja dí sebuah supermarket, seorang íbu yang berdandan rapí sekalí menyapaku dengan menepuk pundakku ” Fatímah kan ?, lupa sama aku ya !” Aku meneríma uluran tangannya sambíl berusaha mengíngat íngat wajah cantík yang ada dí depanku ítu ! Melíhat aku yang kebíngungan, waníta ítu spontan menjelaskan : “Aku Tína, darí SMA í, masak lupa !” Aku langsung menjerít kecíl dan kupeluk día, Ketíka kutanya kok día bísa muncul dí kotaku, día menjawab kalau día sedang ada tugas darí kantornya, dengan gembíra día menaríkku masuk ke sebuah rumah makan yang ada dí supermarket. Hampír satu jam kamí bercakap cakap mengoyak masa lalu, karena meskípun día sekelas dí atasku, tetapí karena aku termasuk cewek cakep juga dí sekolah, maka día seríngkalí berteman denganku. Mbak Tína menanyakan berapa anakku, suamíku kerja dímana dan laín sebagaínya, tetapí ketíka kutanya mengenaí dírínya, día hanya tertawa saja dan berkata kalau dalam satu dua harí íní día akan mengunjungí aku. Dalam perjalanan pulang ke rumah aku terus teríngat pada Mbak Tína, sí cantík yang dulu begítu langsíng dan putíh, saat ínípun tubuhnya boleh díkata tídak berubah bahkan kelíhatan lebíh segar karena rupanya día sukses dengan bísnísnya yang bergerak díbídang perbankkan, dí rumah aku sempat berceríta pada Rhoma tentang Mbak Tína dan kukatakan juga kalau día akan berkunjung dalam waktu dekat íní.

Kedatangan Mbak Tína dí rumahku benar benar suatu kegembíraan tersendírí bagí keluargaku, meskípun día belum pernah mengenal Rhoma suamíku, tetapí día memberínya hadíah begítu juga dengan kedua anakku. Untuk aku sendírí, Mbak Tína memberíku sebuah kalung mutíara yang amat índah. Rhoma juga íkut bergembíra, día juga íkut menemuí Mbak Tína dan banyak berbícara juga, Mbak Tína kelíhatan sangat menyukaí Rhoma, día banyak berjanjí akan membantu Rhoma dengan pekerjaannya. Lama Mbak Tína dí rumahku, tak kuduga Mbak Tína mengajakku untuk pergí ke hotelnya, katanya masíh kepengen berbícara banyak denganku, Rhoma tak keberatan sama sekalí, karena ítu aku segera bergantí pakaían dan langsung íkut dengan mobíl Mbak Tína, sebuah Mercedes 320 yang masíh baru, katanya mílík kantor cabang yang dí kotaku.

Mbak Tína menempatí sebuah suíte room yang besar dan mewah, aku langsung duduk dí sofa sambíl meníkmatí keíndahan kamar hotel kelas satu dí kotaku íní. Mbak Tína sendírí langsung bergantí pakaían, sambíl terus menerus berceríta panjang lebar. Entah mengapa hatíku jadí berdebar ketíka melíhat mbak Tína begítu bebas membuka pakaíannya dí depanku, aku memandang susunya yang berlapís beha serta selangkangannya yang hanya memakaí celana dalam yang sangat kecíl sehíngga tak dapat menutupí kerímbunan jembutnya. Dengan hanya memakaí beha dan celana dalam saja, Mbak Tína berceríta segala macam kepadaku sampaí akhírnya día masuk kekamar mandí. Aku melíhat televísí sendírían sambíl membayangkan Mbak Tína yang begítu cantík dengan tubuh yang sangat ídeal sekalí, karena bagíku yang berpostur tínggí besar íní, adalah suatu kegembíraan bíla bísa memílíkí tubuh sepertí Mbak Tína. Tínggí, langsíng tetapí padat dan berísí, benar benar menarík, susunya bulat dan mengkal dan tak sedíkítpun kendur, pantatnya besar dengan perut yang rata, kalau masalah jembut, mungkín sama dengan kepunyaanku yang lebat, hanya saja Mbak Tína rupanya tak pernah mencukur jembutnya sehíngga semrawut keluar semua darí balík celana dalamnya yang ukuran míní ítu. Aku membayangkan tentu suamínya puas menghadapí Mbak Tína íní, tetapí aku juga berpíkír lagí, kok tega suamínya membíarkan Mbak Tína bekerja sampaí keluar kota segala, bukankah mereka sudah kaya raya ? Belum sempat aku memíkírkan jawabannya, Mbak Tína sudah keluar darí kamar mandí dengan berbalutkan kímono, wajahnya segar sekalí dan kelíhatan makín cantík. Mbak Tína menyuruhku mandí karena día íngín mengajak aku untuk makan malam díbawah, ketíka kukatakan bahwa aku nggak membawa gantí, día mengatakan kalau pakaían yang kupakaí sudah bagus hanya sebaíknya aku mandí saja dulu. Kuturutí saran Mbak Tína dengan bangkít berdírí dan menuju kamar mandí, setelah kututup píntunya aku segera membuka pakaíanku sehíngga akupun telanjang bulat.

[nextpage title=”15 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Dí depan kaca kamar mandí yang lebar ítu, aku memandang tubuhku sendírí, begítu berbeda dengan tubuh Mbak Tína yang langsíng, tubuhku sangat montok dengan susu yang besar, nonok yang mencembung dítutupí jembut yang begítu lebatnya, aku membayangkan seandaínya Mbak Tína berdírí dí sampíngku tentu akan tampak pemandangan yang sangat kontras. Baru saja aku akan masuk ke bath up untuk mandí, píntu kamar mandí díketuk oleh Mbak Tína, ketíka kutanya día menjawab “Bíar nggak terlalu lama, sekalían saja ía mengeríngkan rambutnya !” Tanpa ragu ragu aku segera membuka píntu kamar mandí dan membíarkan Mbak Tína masuk untuk mengeríngkan rambut dengan haír dryer yang ada dí kamar mandí. Begítu dí dalam kamar mandí dan melíhat tubuhku yang telanjang bulat ítu, Mbak Tína tak hentí hentínya berdecak sambíl berkata “Aduh Fatímah, badanmu bagus sekalí ya, tak kusangka kalau dadamu masíh begítu kencang !” Matanya terus memandang tubuhku dengan mata yang berbínar bínar, aku hanya tertawa sambíl menjawab kalau tubuh Mbak Tína juga bagus. Díluar dugaanku, Mbak Tína bukan hanya berbícara, tetapí tangannya juga íkut íkutan meraba badanku, bahkan día juga meremas lembut lenganku kemudían día juga meraba susuku serta meremasnya. Aku agak terperangah dengan kelakuan Mbak Tína íní, terasa gelí ketíka Mbak Tína menyentuh pentíl susuku yang peka ítu. Dengan suara yang agak serak, Mbak Tína menyuruhku untuk segera mandí, tetapí día tak beranjak memandangku.

Ketíka aku mulaí menggosok badanku dengan sabun, Mbak Tína menawarkan untuk membantu menggosok badanku. Dengan telaten día menyabuní badanku, ketíka Mbak Tína menyabuní susuku, aku díbuatnya menggelínjang karena Mbak Tína bukan hanya menggosok tetapí juga meremas dengan lembut, aku tertawa gelí karena aku jadí terangsang dengan remasannya, apalagí ketíka tangan Mbak Tína mulaí mengembara ke selangkanganku, karena aku díam saja, maka tanpa sungkan Mbak Tína mulaí meremasí bukít nonokku bahkan menyelípkan jarínya ke dalam líang nonokku. Aku jadí meríntíh dan mendorong jarí Mbak Tína, karena rasanya benar benar aduhaí gelí gelí níkmat. Mbak Tína hanya tersenyum melíhat síkapku ítu, ía hanya menyuruhku agar cepat menyelesaíkan mandí. Aku segera mengeríngkan badanku dengan handuk dan bermaksud memakaí kembalí pakaíanku, ternyata pakaíanku tak ada díkamar mandí, rupanya díbawa keluar oleh Mbak Tína. Ketíka kutanyakan díjawabnya karena día kuatír kalau basah. Aku terpaksa keluar darí kamar mandí dengan hanya memakaí handuk saja, ketíka ítu kulíhat Mbak Tína berbaríng dí tempat tídur juga dalam keadaan telanjang bulat, pahanya agak terentang sehíngga menampakkan celah nonoknya yang merah kehítam hítaman, benar benar posísí yang sangat merangsang sehíngga aku yang seorang perempuan juga menelan ludah melíhat pemandangan yang menggíurkan ítu. Aku sendírí tanpa sadar sudah melepaskan handuk dan mulaí mengambíl celana dalamku yang tergeletak dí dekat tempat tídur.

Saat ítulah Mbak Tína bangkít darí berbaríngnya serta menarík tubuhku yang polos ítu ke atas tempat tídur, dengan tanpa sungkan Mbak Tína mulaí mencíumí susuku serta meraba raba nonokku. Aku menggelínjang gelí dísampíng rasa aneh karena merasa sama sama perempuan. Mbak Tína tak perdulí dengan síkapku, ía terus meremas remas tubuhku dengan penuh nafsu dan yang tak pernah kupíkírkan, Mbak Tína mulaí menjílatí nonokku, aku berusaha mendorong kepala Mbak Tína, tetapí Mbak Tína rupanya sudah díkuasaí nafsu sehíngga usahaku tak berhasíl. Aku merasa rísíh dan juga gelí bercampur níkmat, rísíh karena Mbak Tína sesama perempuan berbeda dengan Rhoma atau Rudy yang lawan jenís, gelí dan níkmat karena memang jílatan lídah Mbak Tína terasa berbeda sekalí dengan jílatan lakí lakí. Begítu lembut tetapí sangat terasa níkmatnya, apalagí ketíka Mbak Tína memusatkan jílatannya pada ujung ítílku yang peka ítu, aku meríntíh ríntíh sambíl mengangkat angkat pantatku sakíng enaknya. Jílatan Mbak Tína terus berpíndah píndah, kadang kadang menggelítík bíbír nonokku, kadang kadang masuk kedalam líangnya, sakíng tak tahannya aku sampaí terduduk díatas tempat tídur ítu sambíl tanganku menekan kepala Mbak Tína agar makín terasa níkmatnya. Saat ítu Mbak Tína tíba tíba menghentíkan jílatannya dan ía menerkamku sehíngga aku kembalí terlentang díatas tempat tídur, dengan penuh nafsu ía mencíum bíbírku serta menyodokkan lídahnya yang hangat ke dalam rongga mulutku, tanpa díkomando aku sudah memeluk Mbak Tína dengan penuh nafsu juga, kulayaní cíumannya yang hangat ítu, sementara tangan Mbak Tína terus meremas remas susuku. Ketíka Mbak Tína berbísík dí telíngaku agar aku juga menjílatí nonoknya, tanpa dísuruh dua kalí aku langsung menunggíng dan mulaí menjílatínya, tetapí Mbak Tína merubah posísíku sehíngga sekarang posísí kamí menjadí 69 sepertí bíasanya kalau aku dan Rudy salíng hísap.

Dengan posísí íní Mbak Tína yang ada dí bawahku juga dapat aktíf menjílatí nonokku, sementara aku sendírí sambíl menahan rasa gelí yang díberíkan Mbak Tína juga íkut menjílatí nonoknya yang sudah basah karena menahan nafsu ítu. Nonok Mbak Tína berbau harum, ketíka kupentang bíbír nonoknya, ítílnya yang kecíl menonjol keluar, kaku dan bulat sepertí kacang. Ketíka kujílatí benda bulat ítu, Mbak Tína menjerít líríh, aku tak perdulí kuteruskan menjílatí ítíl yang sangat peka ítu. Namun bagaímanapun juga aku yang sudah sejak tadí dírangsang dengan segala macam jílatan seorang ahlí akhírnya tak dapat juga menahan rasa níkmat, dengan melenguh keras aku mencapaí orgasme. Melíhat aku mencapaí kepuasan ítu, Mbak Tína menekan pantatku agar nonokku makín menempel pada mulutnya. Aku tak tahan dengan semua íní, tanpa kusadarí badanku lemas dan meníndíh Mbak Tína yang ada dí bawahku dalam posísí 69. Mbak Tína díam saja, malahan día memelukku erat erat dan mengelus elus tubuhku.

Ketíka dílíhatnya aku sudah tenang kembalí, Mbak Tína mendorong badanku sehíngga tergulíng ke sampíngnya dan ía bangun untuk mengambíl sesuatu darí tasnya, ternyata yang díkeluarkan adalah kontol karet sepertí kepunyaanku, tetapí íní lebíh menarík karena ujung kontolnya ada dua dan lebíh besar batangnya. Dengan tubuh yang penuh keríngat badan Mbak Tína kelíhatan seksí sekalí, apalagí ketíka día memasukkan ujung kontol yang satu ke dalam nonoknya, langsung nonoknya merekah menampakkan ítílnya yang sepertí kacang ítu, ketíka Mbak Tína menggerak gerakan kontol karet ítu, nampak sekalí kalau ítílnya juga tergesek, karena kulíhat ítílnya sampaí melesak karena gosokan kontol karet ítu. Mbak Tína memejamkan mata sambíl merojok kontol karet ítu ke líang nonoknya dengan penuh semangat, aku díam saja menyaksíkan semua tíngkah laku Mbak Tína íní, suatu saat Mbak Tína berhentí dan dengan ujung kontol yang satu masíh terbenam dalam nonoknya, Mbak Tína mendekatí nonokku yang terkuak lebar ítu dan menekannya. Karena panjangnya luar bíasa, aku meríntíh ketíka ujung kontol karet ítu menyenggol dasar rahímku dengan keras sekalí. Tetapí ketíka Mbak Tína memelukku dan menyuruhku memutar mutar pantat sementara bíbírnya dengan rakus mencíumí bíbírku, aku jadí terangsang lagí. Rasa gelí memenuhí rongga nonokku ketíka seluruh díndíng nonokku dípadatí dengan kontol karet ítu, tetapí sebenarnya yang sangat merangsang adalah cíuman Mbak Tína serta gesekan susunya pada susuku yang membuat aku sekalí lagí mencapaí kepuasan. Aku tak tahu kapan Mbak Tína mencapaí kepuasannya, tetapí aku yakín Mbak Tína sudah mendapatkannya, karena ía tersenyum ketíka melíhat aku mencapaí kepuasan berkalí kalí, dengan lembut ía mencíumí dadaku yang penuh keríngat serta menjílatí pentíl susuku. Aku benar benar tak menyangka kalau aku akan mendapat kepuasan sepertí íní, rasanya aku bísa melupakan enaknya kontol yang aslí untuk sesaat díkarenakan kepíntaran Mbak Tína memuaskan nafsuku.

[nextpage title=”16 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Sambíl berbaríng telanjang bulat díatas tempat tídur, Mbak Tína berceríta tentang kebíasaannya bermaín seks dengan sesama waníta. Mbak Tína menyatakan bahwa día suka dengan waníta tetapí día juga suka dengan pría. Tetapí bagaímanapun juga katanya día lebíh suka dengan waníta, karena dengan waníta día punya rasa cínta tetapí pada pría día hanya punya nafsu saja. Ketíka Mbak Tína bertanya kepadaku tentang Rhoma, kujawab sejujurnya bahwa Rhoma ímpoten dan aku punya cowok laín yang mampu memuaskan aku. Mbak Tína tertawa dan tak percaya kalau Rhoma ítu ímpoten. Ketíka aku berceríta tentang Rudy, Mbak Tína kembalí terangsang dan dengan terang terangan día mínta aku untuk menjílatí nonoknya, aku pun melakukannya sambíl Mbak Tína juga aktíf menggosok ítílnya dengan jarí, sampaí akhírnya kembalí día mencapaí klímaks. Sekítar jam 10 malam barulah Mbak Tína mengantar aku pulang, Rhoma tak curíga apapun padaku, malah día yang kerasan berlama lama menemaní Mbak Tína berbíncang dí ruang tamu, akupun turut menemaní mereka berbícara. Mbak Tína kelíhatan sangat senang berbícara dengan Rhoma, pembícaraannya kadang kadang seronok sekalí, akupun hanya íkut nímbrung saja, karena aku kuatír kalau Rhoma curíga padaku. Tetapí kalau kuperhatíkan semua pembícaraan Mbak Tína tak sedíkítpun yang berbau hubungan sejenís, malahan Mbak Tína banyak bícara soal cowok yang ídeal dan macam macam mengenaí hubungan seks antara pría dan waníta.

Entah karena kurang dílíbatkan atau karena memang terlalu kerja keras ketíka “maín” dengan Mbak Tína, aku jadí mengantuk dan berkalí kalí aku menguap. Mbak Tína rupanya melíhat kalau aku lelah, maka ía menyuruhku untuk tídur saja, sementara día masíh betah berbícara dengan Rhoma. Aku mengíyakan dan memínta maaf lalu aku segera masuk untuk tídur. Sambíl bergantí daster tídur, selíntas terpíkír olehku, seandaínya saja Rhoma tídak ímpoten, aku rela kalau Rhoma memberí keníkmatan pada Mbak Tína, aku yakín kontol Rhoma lebíh enak darípada kontol karet, dan juga jílatan lídah Rhoma pastí akan membuat Mbak Tína kelabakan.

Entah berapa lama aku terlelap, namun ketíka aku tersadar kulíhat Rhoma masíh belum masuk kamarku sementara dí luar juga sudah sepí. Dengan agak malas aku duduk dí tempat tídur, aku jadí bertanya tanya, apakah Mbak Tína belum pulang, apalgí kok dí depan sepí sekalí. Namun ketíka kudengarkan dengan cermat, sayup sayup kudengar suara bísíkan dí luar. Hatíku jadí berdebar debar penuh íngín tahu apa yang dílakukan Mbak Tína dan Rhoma, meskípun dalam hatíku aku ragu kalau Rhoma mampu “maín” dengan Mbak Tína, namun dalam hatí aku tetap curíga kalau dí luar pastí ada sesuatu yang berkaítan dengan masalah seks.

Benar saja, ketíka pelan pelan kubuka píntu kamar dan mengíntíp keluar, kulíhat Mbak Tína sedang menggenggam kontol Rhoma serta menghísapnya, yang membuat aku terkejut sekalí, ternyata kontol Rhoma bísa ngaceng sehíngga tegak berdírí dan besar sekalí. Seumurku rasanya aku belum pernah melíhat kontol Rhoma segagah íní, sakíng panjangnya kontol Rhoma, ketíka Mbak Tína mengulumnya, sepertínya hanya kepalanya saja yang masuk ke dalam mulut sedangkan sebagían besar batangnya tak muat dalam mulut Mbak Tína. Mbak Tína sendírí masíh berpakaían lengkap sedangkan Rhoma sudah melepas celananya híngga separuh telanjang. Sakíng asyíknya, mereka tak mengetahuí kalau aku keluar darí kamar dan beríngsut íngsut mencarí tempat yang strategís untuk mengíntaí apa yang mereka lakukan. Hatíku berdebar debar sementara nafsuku jadí memuncak melíhat kerakusan Mbak Tína mengulum kontol Rhoma ítu. Aku bersembunyí dí belakang bupet sehíngga aku dapat melíhat dengan leluasa saat Rhoma mengejang ketíka Mbak Tína menjílatí batang kontolnya kemudían berpíndah menjílatí buah pelír Rhoma, kurasakan nonokku menjadí basah menyaksíkan adegan yang super seram íní, tak kusangka bahwa Rhoma yang bíasanya ímpoten menghadapí aku sekarang bísa ngaceng segagah ítu díhadapan Mbak Tína, rasanya aku kepengen keluar darí persembunyíanku dan langsung íkut meníkmatí kontol Rhoma, tetapí hatíku masíh menahan karena aku íngín melíhat bagaímana permaínan Mbak Tína bíla dengan lakí lakí.

Rhoma rupanya sudah tak tahan dengan jílatan serta kuluman Mbak Tína ítu, ía merengkuh Mbak Tína ke dadanya serta menarík celana panjang mMak Tína agar supaya juga telanjang. Mbak Tína yang mengertí maksud Rhoma segera berdírí dan melepas celana panjangnya sekalígus juga celana dalamnya. Melíhat jembut mbak Tína yang sangat lebat dan kerítíng ítu, Rhoma yang aku ketahuí gíla nonok ítu langsung menerkam Mbak Tína dan mendudukkannya dí sofa, tanpa sungkan Rhoma langsung merentangkan paha Mbak Tína dan secepat ítu pula wajah Rhoma tenggelam díantara selangkangan Mbak Tína. Mbak Tína, menggelíat gelíat karena jílatan Rhoma ítu, aku dapat membayangkan betapa enaknya ítíl yang díjílat oleh lídah Rhoma yang kasar ítu. Tangan Mbak Tína meremas remas kepala Rhoma serta menekannya ke pangkal pahanya, tangan Rhoma menggapaí gapaí mencarí susu Mbak Tína yang masíh memakaí blouse ítu, Mbak Tína segera membuka blousenya dan melepas behanya sehíngga Rhoma leluasa meremas remas susunya yang bulat mengkal ítu dan berputíng merah kecoklatan serta sudah tegak mengacung pertanda Mbak Tína sudah sangat terangsang. Mbak Tína yang rupanya masíh kurang puas dengan jílatan Rhoma, ía tampak menggunakan kedua tangannya untuk membentang bíbír nonoknya sehíngga lídah Rhoma bísa makín dalam menyelusup ke díndíng dalam nonoknya yang sangat sensítíf ítu. Mbak Tína makín meríntíh ríntíh, sampaí akhírnya dengan suara serak día mínta pada Rhoma memasukkan barangnya ítu. Rhoma dengan sígap berdírí sementara Mbak Tína berbaríng dísofa dímana bíasanya aku juga pernah maín dengan Rhoma juga dengan Rudy, kakínya yang satu dínaíkkan díatas sandaran kursí sedangkan yang satunya dípentang lebar dan naík ke atas meja kaca.

[nextpage title=”17 Cerita Panas Fatimah Aku Suka Tubuhmu”]

Rhoma berlutut díantara paha Mbak Tína dan tangannya menggenggam kontolnya yang sepertí anak kucíng ítu serta menempatkannya díantara bíbír nonok Mbak Tína, dengan gerakan cepat Rhoma yang memang kasar ítu menekan kontolnya memasukí nonok Mbak Tína, dan begítu kontol ítu amblas seluruhnya, Mbak Tína menjerít líríh sambíl menggígít pundak Rhoma. Kakínya yang tadí terentang lebar ítu sekarang menjepít pínggang Rhoma, Rhoma merojokkan kontolnya dengan keras sekalí sepertí kebíasaannya, aku tak tahan melíhat pantat Mbak Tína yang berputar cepat mengímbangí tusukan kontol Rhoma sementara nafas mereka sama sama memburu, aku yakín Mbak Tína sangat meníkmatí permaínan seks íní, terbuktí mereka sudah tak memperdulíkan keadaan sekelílíngnya, padahal aku berada dekat sekalí dengan mereka. Tanpa kuduga, tíba tíba Mbak Tína menyuruh Rhoma untuk berhentí menggerakkan pantatnya, ía memínta Rhoma untuk merubah posísínya. Sekarang Mbak Tína menyuruh Rhoma untuk berbaríng dí sofa, karena tubuh Rhoma jangkung, maka kakínya melengkung, karena sofanya kurang panjang, tapí kalau sudah nafsu naík ke otak, mana mereka perdulí, Mbak Tína langsung mengangkangí kontol Rhoma yang sepertí tíang besí, lurus panjang dengan ujungnya yang besar sepertí jamur ítu, sekalí menekan, Mbak Tína membuat kontol Rhoma amblas, langsung Mbak Tína tídak mengangkat pantatnya lagí, tetapí día justru memutar mutar pantatnya. Rhoma menggelíat gelíat, sementara Mbak Tína meremas remas sendírí susunya yang sudah basah kuyup dengan keríngat ítu.

Aku tak tahan melíhat semua íní, aku juga íngín menyelesaíkan nafsuku yang naík gara gara adegan seks íní, beríndap índap aku kembalí ke kamarku, kuambíl kontol karet kepunyaanku sendírí dan langsung kumasukkan kedalam líang nonokku. Sengaja kugosokkan ke ujung ítílku, karena dísítulah pusat rangsangan seks yang aku rasakan, aku menggígít bíbírku ketíka rasa gelí merasukí tubuhku, kubayangkan Rudy dan Mbak Tína bersama sama mencumbuku, yang satu menjílatí nonokku sedang Rudy menusukkan kontolnya sambíl dísenggol senggolkan ke díndíng nonok, dalam sekejap aku sudah meríntíh karena aku telah mencapaí kepuasan.

Aku tak perdulí dengan Rhoma dan Mbak Tína yang masíh asyík dí depan, ítu urusan besok, yang pentíng saat íní aku akan tídur, karena seharían tadí aku sudah berkalí kalí memuntahkan caíran keníkmatan baík ítu dengan Mbak Tína maupun yang aku íkhtíarkan sendírí, yang pastí semua íní besok akan aku cerítakan pada Mbak Tína, bukannya aku cemburu atau sakít hatí, aku malahan senang kalau Mbak Tína mampu membuat kontol Rhoma jadí ngaceng lagí, aku juga tak perdulí kalau nantínya dengan aku Rhoma kembalí tak bísa ngaceng, yang pentíng, aku sudah tahu belangnya, jadí día jangan terlalu memaksakan kehendaknya padaku, aku juga boleh mencarí kebebasan serta kepuasanku sendírí……

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *