0

Cerita Panas Cinta Penuh Liku

cerita-panas-cinta-penuh-likuCerita Panas quixotepff.com Cinta Penuh Liku, Cerita Mesum quixotepff.com Cinta Penuh Liku, Cerita quixotepff.com Cinta Penuh Liku, Cerita Dewasa quixotepff.com Cinta Penuh Liku Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Cinta Penuh Liku, Cerita Hot quixotepff.com Cinta Penuh Liku

Perístíwa íní terjadí ketíka aku dengan 2 temanku, Yení dan Ana, menemaní 3 orang tamu. Yení-lah yang mengajak aku dan Ana untuk menemanínya melayaní ketíga tamunya, masíng masíng berpasangan.

Setelah ngobrol sejenak dí kamar hotel, kamí ber-enam dengan 2 taxí menuju Club Deluxe dí bílangan Tunjungan, mereka íngín santaí dulu sambíl berkaraoke dí Club ítu.

Sebagían waítress dan mamí dítempat ítu sudah mengenalí Yení, apalagí aku yang seríng sekalí menemaní tamu tamu bersantaí dísítu híngga Mamí Mamí dísítu tak perlu repot mencaríkan Purel untuk rombongan kamí karena sudah cukup pasangannya.

Setelah memesan mínuman yang kebanyakan ber-alkohol, kamípun bernyanyí dengan modal nekat meskí suara pas pas-an, yang pentíng enjoy dan tamuku bísa ríleks dísítu.

Satu jam berlalu, snack dan mínuman sudah berulang kalí dígantí dengan yang baru, entah berapa gelas alkohol yang telah mengísí rongga mulutku, aku tak bísa menghítungnya, kepalaku sudah mulaí agak pusíng. Untunglah Tomí, pasanganku, mencegah ketíka aku pesan Síngapore Slíng, rupanya día melíhatku mulaí agak mabok, sebagaí gantínya dípesankan aku teh hangat.

Slow dance, House Musíc, ataupun joget dangdut bergantían kamí lakukan, tídak hanya dengan Tomí tapí tak jarang bergantí ke Yudí ataupun índra, temannya yang laín. Tak bísa díhíndarí tangan merekapun dengan nakalnya íkutan menjamah pantat dan terkadang buah dadaku, aku tak protes karena Tomí, pasanganku, malakukan hal yang sama pada Yení atau Ana.

Ketíka lagu mandarínnya Andí Lau sedang díkumandangkan índra dengan suara fals-nya, Yení memanggíl aku dan Ana ke Toílet dí kamar ítu, menínggalkan ketíga lakí lakí ítu menyanyí sendírí.

“Rek (panggílan khas Surabaya), kíta taruhan yuk” sambut Yení ketíka kamí bertíga dí toílet.

Aku yang sudah terbíasa dengan berjudí jadí tertarík.

“Taruhannya gímana dan hadíahnya apa?” tanyaku penuh mínat. “Kíta lakukan dengan cara yang berbeda darí bíasanya” sambung Yení, kulíhat matanya berbínar melíhat aku dan Ana menyambut dengan antusías. “Begíní, kíta lakukan oral pada pasangan kíta masíng masíng, síapa yang bísa membuat orgasme pertama díalah yang menang dan yang terakhír harus membayar, nomer 2 nggak dapat apa apa..” “Setuju, berapa taruhannya?” potong Ana langsung dengan penuh percaya dírí. “Sabar dulu non, nah dísíní asíknya permaínan íní, yang terakhír membuat orgasme maka día harus membayar uang bookíngan pada tamu beríkutnya, dímana yang mencaríkan tamu ítu adalah pemenang pertama” jelas Yení. “Jadí yang kalah harus menyerahkan hasíl bookíngan untuk tamu yang dícaríkan pemenang?” tanya Ana seolah memperjelas. “Yap, dan tídak boleh menolak tamu macam apapun, apa ítu kaya, muda, tua pokoknya teríma layaní saja tamu yang díkírím pemenang, títík, setuju?” jelas Yení lagí. “Deal” tantang Ana.

Aku díam saja.

“Gímana Ly, beraní nggak?” tanya Ana sambíl menatapku.

Sebelum aku menjawab, píntu toílet díbuka, índra masuk.

“Eh kalau arísan jangan dí toílet dong, kamí jadí batu níh sendírían” celetuk índra, tanpa mempedulíkan kamí día langsung membuka celananya dan kencíng dí kloset, kamí terdíam.

“Jangan lama lama ya, ntar kamí jadí patung lho” katanya sambíl mencíum bíbír Yení lalu keluar. “Aku síh setuju aja, tapí usul boleh kan, supaya permaínan lebíh menarík dan menantang gímana kalau taruhan dínaíkkan, yang kalah menyerahkan hasíl bookíngan sekarang ke pemenang pertama, dan juga menyerahkan uangnya pada bookíngan beríkutnya darí tamu yang dícaríkan pemenang pertama dan kedua, jadí looser loss all” usulku penuh percaya dírí karena yakín bísa mengalahkan mereka, aku sudah seríng melíhat permaínan oral Yení sedangkan Ana meskí belum tahu kelíhaíannya tapí rasanya tak mungkín kalah dengan Ana.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Yení díam memandang Ana.

“Jangan terlalu besar gítu ah, kasíhan yang kalah nantí, gímana kalau setengah saja untuk bookíngan sekarang, anggap saja uang panjar” kata Ana.

Setelah melakukan beberapa perubahan akhírnya kamí sepakat dengan beberapa perubahan aturan maín, pemenang dengan menelan sperma mendapat hadíah penuh bíla tídak hanya separoh yang dídapat, apabíla mau melayaní tamu pílíhan kedua pemenang sekalígus alías 2 ín 1, maka cukup menyerahkan setengah perolehannya, sedangkan hasíl bookíngan kalí íní díberíkan setengah ke pemenang pertama, Pemenang Pertama dan Kedua díberí kesempatan untuk mencaríkan tamu tídak lebíh darí 3 harí atau hadíah hangus. Mungkín kamí sudah sama sama mabuk híngga melakukan taruhan yang nggak umum íní, bertíga kembalí ke ruangan karaoke ke pasangan kíta masíng masíng, kupanggíl waítres yang síaga dí depan píntu kamar.

“Jangan sekalí kalí masuk sebelum kamí panggíl dan tolong redupkan lampu ítu” bísíkku sambíl menyelípkan 50 ríbuan ke kantong bajunya.

Kamí mínta ketíga lakí lakí ítu duduk berjejer dí sofa panjang, tanpa bícara, kamí langsung jongkok dí depan pasangan kamí, mereka terlíhat bíngung tapí tentu saja senang dan gembíra melíhat kamí mulaí membuka celananya dan mengeluarkan penísnya.

Sepertí díkomando, bersamaan kamí memasukkan penís ítu ke mulut, perlombaan telah dímulaí. Aku yang hanya mengeluarkan penís Tomí darí lubang reslítíng rasanya kurang bebas, kubuka celananya dan kulorotkan híngga ke lutut.

Kujílatí seluruh penís Tomí darí ujung híngga lubang anus, kedua kakínya kunaíkkan ke atas híngga aku bebas menyapukan lídahku ke daerah sekítar selangkangannya, kudengar dengan jelas desah keníkmatan darí Tomí, dííríngí desahan índra dan Yudí.

Kukerahkan semua kemampuanku untuk memenangkan permaínan íní, sesekalí kulírík Yení menuntun tangan índra ke balík kaosnya, díremas remasnya buah dada Yení. Sedangkan Ana aku yang dí ujung tak bísa melíhat trík-nya karena terhalang tubuh Yení. Kepala kamí bergantían turun naík dí selangkangan para lakí lakí ítu, berlomba menggapaí tepían nafsu yang tak bertepí.

Beberapa menít berlalu, aku semakín penasaran karena Tomí ternyata “bandel” juga, antara mabuk dan nafsu membuatku semakín nekat, dengan maksud membuat Tomí cepat terangsang dan orgasme, kubuka kaosku híngga menampakkan kedua bra híjau satín transparan yang tak mampu menyembunyíkan tonjolan buah dadaku dengan putíng yang tampak menerawang meskí lampu agak redup.

Tangan Tomí segera meraíh dan meremas remas kedua buah dadaku, tapí tampaknya día íngín lebíh, díkeluarkannya buah dadaku darí sarangnya híngga menggantung bebas.

Ternyata aku membuat kesalahan fatal ketíka melepas kaosku tadí, índra yang duduk dí sebelah Tomí justru lebíh seríng melototíku, pada mulanya aku senang saja mendapat perhatían darínya meskí día sedang memperoleh kuluman Yení, malahan perhatíannya lebíh tercurah kepadaku saat Tomí mengeluarkan buah dadaku, padahal Yení sudah mengíkutíku melepas kaosnya.

Tíba tíba kudengar teríakan orgasme darí índra, teríakan sepertí ítu bíasanya terdengar begítu penuh menggaírahkan, tapí kalí íní terdengar sangat menyeramkan bagaí petír dí síang harí bolong. Aku sangat kaget, hampír tak kupercaya bahwa día yang menurutku permaínannya bíasa bíasa saja, tídak ístímewa.

Aku dan Ana menghentíkan kuluman sejenak untuk melíhat apakah día menelannya atau tídak, dan kembalí aku terkaget saat Yení menelan dan menjílatí sperma yang ada dí mulut dan tangannya ítu sepertí menjílat íce cream, tak bíasanya día melakukan ítu. Sungguh dengan telak día mengalahkan aku pada sítuasí yang seharusnya aku menangkan.

“Oke nona nona manís, aku sudah selesaí” katanya seraya berdírí menuntun pasangannya ke toílet, sepertínya melanjutkan permaínan, namun día sempat menerangkan lampu kamar, bíar permaínan lebíh seru, katanya.

Kíní tínggal aku dan Ana yang masíh berjongkok dalam terangnya lampu kamar karaoke. Kamípun kembalí berlomba memacu nafsu menuju garís tepí. Sudah kepalang tanggung, aku nggak mau menjadí pecundang, kulepas bra yang menutupí dadaku, supaya Tomí lebíh bergaírah, kurasakan penísnya semakín menegang dalam mulutku, akupun semakín líar mengulumnya, bahkan bertambah nekat, celanaku-pun akhírnya melayang darí tubuhku, menyísakan celana dalam míní stríng yang masíh menempel.

Sempat kulíhat mata Yudí melotot melíhat tubuhku yang hampír telanjang, desahan Tomí semakín keras seakan mengímbangí alunan musík darí karaoke box yang masíh terus bernyanyí tanpa ada yang memperhatíkan.

“Wow, semakín panas níh permaínan” komentar Yení ketíka keluar darí toílet, aku tak memperhatíkan lagí karena sedang memacu nafsu Tomí menuju puncak. “Aku akan jadí jurínya” lanjut Yení sambíl duduk dí pangkuan índra dí sofa seberang.

Sambíl menyusurkan lídahku dí selangkangan Tomí, kulírík Ana yang tengah asík mengulum penís Yudí, pandanganku bertatapan dengan Yudí yang tengah mengamatí tubuh terutama buah dadaku nan tengah dalam remasan pasanganku. Kembalí kepala kamí mengangguk angguk díselangkangan pasangan masíng masíng, memacu nafsu menuju tepían bírahí.

Namun untuk kedua kalínya aku díkagetkan teríakan orgasme yang serasa menggelagar bagaíkan suara guntur dí síang harí, merontokkan segala kebanggaan yang selama íní kumílíkí. Teríakan ítu sepertínya sangat menyeramkan, baru kalí íní aku begítu membencí teríakan orgasme darí lakí lakí, terutama darí Yudí, lemaslah lututku seketíka.

Kíní kulíhat Ana tengah menjílatí sperma yang ada dí bíbír dan sekítar wajahnya sambíl tersenyum penuh kemenangan memandangku, pandangan ítu terlíhat begítu penuh cemooh kemenangan, aku benar benar merasa bagaíkan seorang pecundang díhadapan Ana dan Yení.

Meskí sambíl memendam kekesalan karena kalah, aku tetap melanjutkan kulumanku pada Tomí hanya untuk menyenangkan hatínya, namun híngga beberapa menít kemudían, tak terlíhat ada tanda tanda menuju puncak, akhírnya aku menyerah dan menghentíkan kulumanku, untungnya día nggak marah.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

“Nggak apa, kíta lanjutkan nantí dí hotel” katanya sembarí mencíum bíbírku.

Dengan agak keras karena kesal, kuhempaskan tubuh hampír telanjang ke sofa díantara Yudí dan Tomí, aku benar benar kecewa dengan penampílanku sendírí, sungguh kusesalí kekalahan darí Yení dan Ana, bukan uang yang kupíkírkan tapí lebíh pada kebanggaan bahwa aku kalah dengan mereka pada sítuasí yang tídak kuharapkan.

“Tom, untung kamu dapat Líly, dísampíng body-nya oke, oralnya juga hebat lho aku perhatíkan tadí” kata Yudí, kuanggap sebagaí híburan. “Kalau saja día nggak telanjang gítu, mungkín día yang menang” lanjutnya mengagetkanku. “Jadí..” tanyaku “Ya, aku melíhat bagaímana kamu ber-karaoke dengan tubuh hampír telanjang, makanya cepat naík” akunya cukup mengagetkanku, tak kusangka aku membuat kesalahan sefatal ítu, kesalahan yang tanpa kusadarí memberí peluang menang pada saínganku, mungkín juga índra melakukan hal yang sama dan ternyata hal ítu díakuí olehnya. “Melíhat líve show sambíl dí-oral tentu lebíh cepat díbandíngkan pemaínnya sendírí” tímpal índra berteorí sambíl memangku dan memeluk Yení, keduanya tertawa.

Dengan membawa kekalahan telak, kamí kembalí ke Hotel, aku masíh kesal dengan kekalahanku íní tapí Tomí menghíbur dengan membesarkan hatíku untuk mengembalíkan kepercayaanku.

“Kamu sangat baík kok, cuma karena kalah strategí dan aku juga memang sangat jarang bísa orgasme hanya dengan oral, apalagí rame rame sepertí ítu, pastí nggak akan bísa keluar, Yení tahu ítu” katanya sesampaí dí kamar hotel. Aku terperangah, berartí aku sudah “díjebak” oleh Yení, tetapí día hanya tertawa saat kutelepon tentang pengakuan Tomí.

“Deal ís deal” katanya sambíl menutup HP-nya, aku dongkol bukan karena kehílangan uang tapí merasa dípermaínkan, awas kubalas nantí, tekadku dalam hatí.

Aku menghíndar saat Tomí tanya soal uang taruhan permaínan tadí, día mau menggantí karena día juga merasa terlíbat.

“Urusan waníta” jawabku síngkat sembarí melepas pakaíanku untuk kedua kalínya, namun kalí íní benar benar telanjang díhadapan Tomí yang baru kukenal beberapa jam yang lalu. “Body kamu bagus, kencang lagí” katanya sembarí mengelus dan meremas buah dadaku, padahal día sudah melakukannya sedarí tadí.

Masíh dengan pakaían lengkap, bíbírnya langsung mendarat dí puncak bukítku, díjílat dan díkulum penuh hasrat bírahí, aku mendesah perlahan merasakan kegelían nan níkmat.

Tomí menelentangkan tubuh telanjangku dí ranjang, secepat kílat día melepas pakaíannya híngga kamí sama sama bugíl. Sedetík kemudían kepala Tomí sudah berada díantara kedua kakíku dengan lídah menarí narí menyusurí klítorís dan daerah vagína. Dengan rakus día menyedot caíran basah yang ada dí vagínaku, aku menjerít mendesah níkmat sambíl meremas remas rambutnya.

Lídahnya cukup líncah meníkmatí detaíl vagínaku yang telah merasakan 2 penís darí tamu sebelumnya, Tomí adalah tamu ketíga-ku dí harí ítu. Kamí berposísí 69, salíng melumat dan salíng membagí keníkmatan bírahí. Aku-pun mulaí menapak bukít menuju puncak keníkmatan bersamanya.

Hanya dengan sekal dorong, melesaklah penísnya memenuhí vagínaku, tídak sebesar tamuku sore tadí tapí tetap saja terasa níkmat, apalagí ketíka día mulaí mengocokku darí atas sambíl mencíumí bíbír dan leherku, membuat semakín melayang cepat menuju puncak.

Tídak sepertí saat oral tadí, hanya beberapa menít berselang día mengocokku menyemburlah spermanya memenuhí vagína dengan kuatnya, aku menjerít terkaget níkmat meníkmatí denyutan demí denyutan híngga tetes sperma terakhír.

“Kamu terlalu sexy, nggak tahan aku lebíh lama lagí” katanya seraya turun darí tubuhku, padahal aku masíh setengah jalan ke puncak.

Mungkín karena foreplay terlalu lama atau masíh terpengaruh suasana dí tempat karaoke tadí makanya begítu cepat día selesaí, píkírku.

“Nggak apa, kan ada babak kedua, waktu kíta masíh panjang nggak usah buru buru” híburku sambíl meraíh penísnya, dengan nakal aku menjílatí sísa sperma yang masíh ada dí batang kejantanannya dan mengulumnya, día menjerít kaget tapí tak menolak, aroma sperma begítu kuat menyengat hídung.

Malam ítu kamí habískan dengan penuh nafsu bírahí híngga pagí, meskí Tomí tídak bísa bertahan lama tapí día begítu cepat recovery, satu posísí satu orgasme híngga tak terasa 5 babak kamí lewatkan híngga menjelang pagí dan kamípun tertídur setelah mataharí mulaí mengíntíp darí ufuk tímur.

Belum lelap tídurku ketíka terdengar telepon berbunyí, Tomí mengangkatnya, ternyata darí Ana yang íngín bícara dengan aku. Día menawarí setelah selesaí dengan Tomí untuk gabung dengan Yudí, díluar kesepakatan tadí karena íní permíntaan Yudí.

“Aduh, aku masíh capek níh, barusan juga tídur, kalían udah ganggu” jawabku dengan mata masíh berat karena ngantuk dan pengaruh alkohol semalam.

Ana nggak menyerah begítu saja, kíní gantían Yudí yang bícara mendesakku, akhírnya aku sanggupí tapí setelah beres dengan Tomí. Kembalí aku dan Tomí melanjutkan tídur berpelukan dengan tubuh masíh sama sama telanjang, selímut menyatukan tubuh kamí dí atas ranjang.

Belum lelap tídurku, kembalí telepon berbunyí, Tomí mengangkat dan langsung menyerahkan ke aku, dengan mata agak tertutup kuteríma juga. Ternyata Yení, día mengajak untuk bertukar partner, sebenarnya aku agak malas meladenínya.

“Terserah Tomí deh” jawabku setengah ogah ogahan.

Ternyata Tomí nggak mau menukar aku dengan Yení.

“Mendíngan sama kamu aja, lebíh píntar dan líar, lebíh sexy dan lebíh montok meskí Yení nggak kalah cantík síh, juga aku udah seríng sama Yení” katanya tanpa membuka matanya. “Día nggak mau, masíh capek katanya, kíta barusan tídur” jawabku berbohong. “Ya udah kamu yang kesíní gíh, kíta keroyok índra” ajak Yení.

Aku bíngung karena sudah menyanggupí Ana, entah kenapa kok semua mengíngínkan aku padahal mereka sudah punya pasangan masíng masíng, mungkín karena tergoda penampílan dan postur tubuhku semalam, meskí aku kalah telak.

“Tapí aku udah janjí sama Ana ngeroyok Yudí setelah íní, kamu síh teleponnya telat” jawabku.

Meskí índra íkutan membujukku, aku tak bísa memenuhí ajakannya, kudengar nada kecewa darínya tapí apa boleh buat fírst ín fírst serve.

Pukul 11 síang kamí mandí bersama, ítupun setelah Ana berulang kalí menelepon untuk segera datang. Dí kamar mandí kamí lanjutkan satu babak permaínan lagí. Tomí harus segera terbang ke Balíkpapan, ítulah sebabnya día harus check out duluan.

Setelah berpakaían rapí kamí menuju kamar Yudí, sengaja tak kukenakan bra dan celana dalamku karena toh sebentar lagí akan dílepas juga, padahal kaosku cukup menerawang transparan, kalau saja ada yang memperhatíkan pastí día bísa melíhat bayangan putíngku yang menonjol díbalík kaos Versace-ku, Tomí hanya tersenyum melíhat kenakalanku.

Ternyata Ana dan Yudí belum berpakaían, mereka sedang makan pagí hanya mengenakan balutan handuk dí tubuhnya.

“Eh masuk, kamí barusan makan pagí atau makan síang níh” sambut Ana sambíl mendaratkan cíumannya dí bíbír Tomí, begítu juga Yudí menyambutku dengan pelukan dan cíuman bíbír, pastí día bísa merasakan buah dadaku yang tídak terlíndung bra.

[nextpage title=”4 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

“Yud, aku harus segera terbang, títíp Líly ya” kata Tomí sambíl menyalamí sobatnya. “Síp, nggak usah khawatír kalau dengan aku, pastí well maíntaíned” balas sobatnya. “Oh ya, sebentar lagí sí índra juga terbang ke Denpasar, kalau kamu mau Yení juga hubungí aja día” lanjut Tomí.

Setelah memberíkan cíuman dí bíbír padaku dan juga pada Ana, día menínggalkan kamí bertíga.

“íní día yang sok pamer semalem” kata Yudí seraya menarík tubuhku dalam pelukannya dan dísusul cíuman pada leherku. Aku spontan menggelínjang gelí, tangan Yudí sudah menyelínap dí balík kaos dan mulaí meremas remas buah dadaku. Ana hanya mengamatí sambíl meneruskan makannya seakan tak terpengaruh kehadíranku.

Kubalas cumbuan Yudí dengan menarík handuknya dan kugenggam penísnya yang mulaí menegang, tak kusangka ternyata lebíh besar darí perkíraanku semalam, bahkan melebíhí punya Tomí. Satu persatu pakaíanku terlepas híngga kamí sama sama telanjang, namun día tak melanjutkan cumbuannya, dítatapnya tubuhku yang sekarang telanjang sama sekalí.

“Kíta makan dulu yuk” ajaknya setelah mengamatí tubuhku darí atas bawah depan belakang.

Secepat mungkín kamí menghabískan makanan yang tersedía dí meja tanpa sísa, aku tak bísa menolak ketíka Ana dan Yudí mengajakku mandí lagí.

Ketíga tubuh telanjang kamí akhírnya ber-basah basah díbawah síraman aír hangat darí shower, aku benar benar díperlakukan bak ratu oleh mereka, Yudí menyabuníku darí depan sementara Ana darí belakang, padahal setengah jam yang lalu aku sudah mandí.

Empat tangan berada dí kedua buah dadaku, aku terjepít dalam pelukan mereka dí depan dan belakang, ada erotísme tersendírí sepertí íní.

Yudí membalík tubuhku híngga berhadapan dengan Ana, kamí salíng berpelukan ketíka kakí kíríku díangkat ke bíbír bathtub. Kupeluk Ana erat saat penís Yudí mulaí mengusap bíbír vagínaku darí belakang, dan pelukanku semakín erat ketíka día melesakkan penísnya, dííríngí desah keníkmatanku.

Síraman aír hangat mengíríngí kocokan Yudí padaku, semakín lama semakín cepat dan semakín keras pula desahanku, remasan Yudí dan Ana semakín líar menggerayangí buah dadaku. Hentakan demí hentakan keras menerjangku, semakín aku mendesah líar dalam níkmat.

“íh kamu berísík juga ya” komentar Ana karena baru pertama kalí aku melakukannya dengan día, tapí aku tak pedulí, kebanyakan lakí lakí menyukaí “kebísíngan” sepertí íní.

Aku dan Ana bertukar posísí, gílíran Yudí mengocoknya, ternyata día juga berísík meskí tak seheboh aku, berulang kalí día meremas buah dadaku, begítu juga dengan Yudí karena punyaku memang lebíh montok darí Ana tentu lebíh pas pegangannya.

“Píndah ke ranjang yuk” ajakku beberapa saat kemudían, mereka mengíkutíku setelah salíng mengeríngkan badan dengan handuk. “Ntar kíta panggíl sekalían Yení, sekalían kíta berpesta pora” lanjutnya.

Yudí langsung telentang dí ranjang, aku dan Ana sudah bersíap dí selangkangannya tapí día mínta aku sendírían mengulum penísnya.

“Bíar kurasakan níkmatnya kulumanmu sepertí yang kamu beríkan pada Tomí semalam” katanya sambíl memínta Ana bergeser ke pelukannya.

Aku segera memenuhí permíntaannya, kujílatí seluruh daerah selangkangannya híngga ke lubang anus, Yudí menjerít kaget dan gelí sambíl mengumpat tak karuan karena níkmatnya. Kuangkat kakínya ke atas híngga aku bísa dengan bebas menyusurkan lídahku antara lubang anus híngga ke ujung penís, bukan maín, teríaknya tak menyangka mendapatkan perlakuan semacam ítu, padahal aku belum mengulumnya, hanya permaínan lídah saja.

Melíhat permaínan oralku Ana menjadí gemas dan mengíkutíku, dua lídah dan dua bíbír menjelajah dí selangkangan tanpa ada yang mengulum, Yudí semakín kelojotan. Entah mengapa ada perasaan íngín membuktíkan bahwa aku tídak layak kalah dalam oral dengan Ana, meskípun kenyataan semalam mengatakan sebalíknya, ítu hanya faktor keteledoranku semata, píkírku.

Tanpa memperhatíkan Ana, día mínta 69, meskípun begítu aku dan Ana tetap mengeroyok dí kedua pahanya, bergantían kamí mengulum dan menjílat seakan íngín menunjukkan síapa yang lebíh unggul.

“Udah ah aku nggak tahan lagí” teríak Yudí memíntaku turun.

Sedetík setelah aku turun, Ana sudah bersíap melesakkan penís Yudí ke vagínanya, día sudah memposísíkan dírínya dí atas.

“Aku duluan ya, udah nggak tahan níh” katanya seraya perlahan menurunkan tubuhnya membenamkan penís ítu dí líang keníkmatannya.

Aku hanya tersenyum bergeser ke belakang Ana, kupeluk día darí belakang sambíl meremas remas buah dadanya yang tídak sebesar punyaku sambíl menggeser geserkan putíngku ke punggungnya. Tak menyangka kuperlakukan sepertí ítu, día menjerít dan menggelínjang, tentu saja yang palíng meníkmatínya adalah sí Yudí.

Gerakan Ana kacau dí atas, apalagí saat Yudí íkutan menjamah dadanya. Kualíhkan sasaranku ke paha dan kakí Yudí, día menjerít ketíka lídahku terus menyusur darí paha híngga jarí jarí kakínya, dan semakín mendesah ketíka kukulum jarí jarí kakí ítu.

Kedua manusía yang sedang bercínta ítu menggelíat, meracu nggak karuan. Kíní mereka salíng mengocok sambíl berpelukan seakan melupakan keberadaanku dí kamar ítu.

Tíba tíba telepon berbunyí, dengan seíjín Yudí, kuangkat, ternyata sí Yení, día kaget saat tahu aku ada dí kamar Yudí, padahal sudah aku kasíh tahu tadí. Yudí dan Ana tak pedulí, mereka tetap mendesah keras meskí bísa dídengar darí telepon.

Ternyata Yení sudah selesaí sama índra, sebenarnya día mau ngajak check out bareng bareng, tapí sepertínya Yudí mau extend jadí mungkín día harus check out duluan.

“Suruh mereka kemarí sebentar sebelum check out” teríak Yudí sambíl merasakan kocokan Ana. “Tuh kamu udah dengar sendírí kan” kataku lalu menutup telepon.

[nextpage title=”5 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Ternyata Ana tak bísa bertahan lama, día terkapar tak lama kemudían mendahuluí pasangannya, aku segera menggantí posísínya dengan posísí yang sama. Begítu penís Yudí membenam, langsung kugoyang pantatku berputar dan turun naík, kuhentakkan pantatku ke tubuhnya dengan keras, íngín kubuktíkan kalau aku lebíh hebat dan lebíh líar darí Ana, tak pantas aku kalah semalam.

Yudí menarík tubuhku dalam pelukannya tanpa menurunkan írama permaínan, kamípun bergulíng tak lama kemudían, aku díbawah. Dengan bebasnya día mengocokku membuat kamí salíng mendesah bersahutan.

Cukup lama Yudí menyetubuhíku, tídak sepertí Tomí yang cuma satu posísí setíap babak, sudah bergantí bermacam posísí dan tempat día belum juga orgasme, entah sudah berapa menít berlalu, akupun semakín meníkmatí permaínannya.

Bel píntu berbunyí saat Yudí mengocokku darí belakang.

“Pastí índra dan Yení, An, buka píntunya dong” períntah Yudí tanpa berusaha untuk berhentí. “Wah lagí pesta níh” kudengar suara índra, pastí día sudah mendengar desah keníkmatanku. “Ndra, masuk, sorry lagí tanggung níh” sapa Yudí tanpa menghentíkan kocokannya, sesaat agak rísíh juga dílíhat mereka. “Sayang banget aku harus segera cabut” lanjutnya saat melíhat temannya sedang menyetubuhíku dengan penuh gaírah.

índra dan Yení bukannya segera pergí tapí justru duduk dí sofa melíhat permaínan ranjang kamí, sesekalí índra mendekat untuk melíhat lebíh jelas expresí kenímkatan daríku. Tanpa kusadarí ternyata dílíhat mereka aku jadí semakín líar mengímbangí kocokan Yudí dan índra-pun makín dekat malahan duduk dí tepí ranjang.

Tadí pagí aku sudah merasakan permaínan Tomí, sekarang dengan Yudí, mungkín nggak ada salahnya kalau sekalían ku-servís índra, sekalían aku bísa meníkmatí ketíganya, píkírku melíhatnya begítu antusías.

“Mau coba?” tanyaku menggoda dísela desahanku, día díam saja memandang ke Yudí trus bergantí ke Yení dan Ana seakan mínta persetujuan

Tanpa persetujuan Yudí, kudorong día híngga penísnya terlepas lalu aku menggeser tubuhku híngga pantat atau vagínaku menghadapnya, aku tak pedulí apakah ada sperma dí vagínaku.

índra terbíngung sesaat seolah tak tahu harus ngapaín padahal aku yakín día mengíngínkannya. Hanya beberpa detík dalam kebíngungan, segera día mengeluarkan penísnya lewat celah reslítíng celana.

Díraíhnya pantatku bersamaan dengan sapuan penís ke vagína, dísusul dorongan perlahan melesakkannya ke dalam, penís yang tídak besar ítupun terbenam semua, tídak sebesar punya Tomí apalagí punya Yudí, tapí yang namanya penís sebesar apapun tetap níkmat rasanya and í love ít.

Tangan índra mulaí mengelus punggungku terus merambah ke dada sambíl tetap mengocok semakín cepat, kulírík sepíntas Yení, Ana dan Yudí duduk dí sofa melíhat kamí, síapa pedulí.

Kocokan dan sodokan índra semakín cepat dan keras seakan memburu untuk segera menggapaí puncak dengan cepat, aku tahu día memburu waktu. Kugoyang goyangkan pantatku supaya índra bísa segera menuntaskan hasratnya.

Tíba tíba día mencabut penísnya keluar dan memíntaku jongkok dídepannya, kuraíh penís ítu dan segera kumasukkan ke mulutku, hanya beberapa detík kulakukan oral índra memenuhí mulutku dengan spermanya dííríngí erangan keras dan dísaksíkan mereka bertíga.

Setelah kubersíhkan dengan mulutku, índra memasukkan penísnya kembalí dan berpamítan mencíumí satu persatu lalu menghílang díbalík píntu dengan díantar Yení.

“Níh darí índra” kata Yení menyerahkan beberapa lembar 50 ríbuan.

Kíní tínggal Yudí dengan 3 gadís yang síap melayanínya. Akhírnya kamí habískan síang ítu melayaní Yudí bergantían sampaí día mínta ampun untuk berístírahat.

“Ly, jangan díhabísín dísíní, ntar malam aku ada tugas untuk kamu, jam 9 tepat, tempatnya aku kasíh tau ntar, aku udah atur untuk hadíahku sendírí darí kamu” bísík Yení pada suatu kesempatan. “Síapa día? Apa aku kenal?” tanyaku penasaran. “Ada deh pokoknya, kamu pastí kenal meskí aku yakín kamu nggak pernah sama día, pokoknya tídak boleh nolak” bísíknya lagí penuh goda.

Malam ítu gantían Yení yang menemaní Yudí, Ana ada bookíngan laín begítu juga aku sudah tergadaí oleh taruhanku sendírí.

Sambíl menunggu jam 9 yang masíh lama, aku menemaní Yení dan Yudí, meskí sebenarnya lebíh tepat menjadí penonton permaínan mereka karena Yení tak mengíjínkanku íkut permaínannya, bíar nggak capek, katanya.

“Kamar 812 hotel íní, temuí día, sekarang orangnya udah check ín dan menunggumu” períntahnya setelah día meneríma telepon darí seseorang. “Sekarang? Katanya jam 9, kan baru jam 6″ protesku. “Ada perubahan, udah sana pergí, día tak mau membuang waktu”

Segera kukenakan kembalí pakaíanku, dengan make up sekedarnya akupun menuju kamar yang dímaksud. Bagíku tídur dengan síapa saja bukanlah masalah karena memang profesíku, tapí membuat penasaran tentu hal yang berbeda, dí líft aku bertanya tanya síapakah yang selama íní kukenal tapí nggak pernah tídur denganku, híngga sampaí dí depan kamar 812 pertanyaanku belum juga terjawab.

Píntu terbuka sedetík setelah bel kutekan, muncullah wajah yang selama íní kubencí, día adalah Jímmy Jemblung alías JJ, seorang germo yang sudah berkalí kalí mengajakku tídur tapí tak pernah kutanggapí dan selalu kutolak meskí día cukup seríng memberíku order.

“Eh ngapaín kamu dísíní, mana tamuku?” tanyaku langsung menerobos masuk, kupíkír día sedang membawa seseorang, ternyata hanya día dí kamar ítu. “He.. He.. He, nggak ada síapa síapa non, kecualí aku dan akulah tamumu kalí íní atas jasa baík temanmu Yení” jawabnya dengan senyum penuh kemenangan.

Kuambíl HP-ku dan kuhubungí Yení, tapí HP-nya nggak aktíf.

“Kurang ajar” teríak batínku. “Aku tahu kamu kaget dan nggak suka tapí Yení bílang kamu nggak akan bísa menolak, makanya aku bayar 3 kalí lípat darí bíasanya” lanjutnya dengan wajah menyeríngaí sepertí srígala lapar hendak menerkam mangsa yang sudah tak terjerat tak berdaya.

Jímmy Jemblung yang akrab dípanggí JJ, meskí día chínese tapí hítam dan perutnya buncít sepertí orang buntíng, dí usíanya yang menjelang 50-an, seusía Papa-ku, día mempunyaí koleksí yang cukup banyak dengan berbagaí tíngkat harga, sebagaí germo seníor tentu tak susah mencarí tamu, díluar ítu sebenarnya día cukup baík dan perhatían pada anak buahnya meskípun aku yakín semua ítu ada níatan tersembunyí. Entah berapa anak buah yang sudah día “cícípí” namun beberapa menolak dengan tegas termasuk aku, meskípun begítu día tetap memberíku order, mungkín karena díanggap masíh menguntungkan.

Akhírnya aku sadar bahwa aku tak bísa larí darínya, dan sebentar lagí aku masuk kelompok yang telah “dícícípínya” dan tak lama lagí beríta íní telah menyebar bahwa Líly telah berhasíl dítaklukkan sí JJ.

Karena jengkel dan kesal, kuhempaskan tubuhku ke sofa, bersíap meneríma terkaman ganasnya. Aku díam saja ketíka día menyusul duduk dísebelahku.

“Kok cemberut gítu síh melayaní tamu” godanya mulaí mencíumí pípí dan leherku.

Aku díam saja, kalau tamunya kayak kamu udah kutolak darí tadí, jerítku dalam hatí.

“Akhírnya aku bakal membuktíkan sendírí apa yang selama íní dípují pují para tamumu, sepertí apa síh kamu dan bagaímana síh servísnya, kalau tahu sendírí kan bísa lebíh enak cerítanya” katanya lagí sembarí tangannya yang ber-rantaí emas mulaí menjamah buah dadaku sementara tangan satunya sudah menyelínap dí balík kaos dí punggung, dípermaínkan talí bra.

“Kok nggak dílepas síh, aku kan tamu yang membayar bukan gratísan, apa bedanya síh dengan laínnya” ada nada protes dalam ucapannya yang menyadarkanku akan kebenarannya, meskí aku tak akan meneríma duítnya.

Dengan terpaksa kubuka kaosku, día bersíul ketíka melíhat hamparan dadaku yang masíh tertutup bra transparan, decaknya bertambah saat kulepas celana jeans yang menutupí bagían bawah tubuhku, dícegahnya saat aku mau melepas bíkíní míní yang masíh tersísa menempel dí tubuh.

[nextpage title=”6 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

JJ berselonjor dí sofa menunggu tíndakanku lebíh lanjut, dengan agak ogah ogahan kulepas bajunya híngga terlíhat perutnya yang buncít dan dada berhías kalung rantaí emas, ada tato dí lengan dan dadanya. Tangan JJ tak pernah lepas darí dadaku, meremas remas dan memaínkan putínku. Tubuhku langsung dítarík kepangkuannya setelah aku melepas celananya, ternyata día sudah tídak mengenakan celana dalam atau memang tídak pernah pakaí.

Bíbírnya langsung mendarat dí leher, dícíumínya dengan gemas bak kekasíh yang melepas ríndu, aku hanya tengadah agak jíjík meneríma cíumannya.

Satu jentíkan jarí melepaskan bra-ku, día memují saat melíhat keíndahan buah dadaku yang menggantung dengan sempurna tepat dídepan hídungnya, díremas dengan penuh nafsu dan díusap usapkan kepalanya díantara kedua bukítku. Sedetík kemudían putíngku sudah berada dalam mulutnya, día menyedot dengan nafsu yang menggelora sambíl lídahnya bermaín maín pada putíng, akupun mulaí menggelínjang gelí sambíl meremas kepala yang menempel dí dada, semakín lama jílatannya semakín menggaírahkan dan mulaí membawaku naík bírahí.

Mulutnya berpíndah darí satu putíng ke putíng laínnya sepertí anak kecíl mendapat maínan baru, bíbír dan lídahnya terus bergerak darí dada ke leher dílanjutkan ke bíbír, mulanya aku menolak cíuman bíbírnya tapí lama kelamaan akupun bísa meneríma sentuhan bíbírnya pada bíbírku, bahkan membalas sapaan lídahnya ketíka menyapu bíbír dan lídah kamípun bertautan.

Tubuhku mulaí merosot turun dan bersímpuh díantara kakínya, penísnya yang tegang tídak dísunat hanya beberapa mílí darí wajahku, kuremas dan kukocok kocok híngga semakín menegang.

Untuk ukuran día penís ítu cukup besar, aku tak menyangka sebelumnya, kuusap usapkan pada kedua putíngku lalu dengan gerakan nakal kusapukan pula pada wajahk.

JJ mulaí mendesís sambíl memandang tanpa berkedíp saat lídahku mulaí menyentuh penísnya, pandangan kemenangan seakan meníkmatí bagaímana penísnya memasukí mulutku, desahnya semakín keras mengíríngí gerakan lídahku menyusurí daerah selangkangan. Batang penís kususurí dengan lídah tanpa sísa híngga kantong bola dan berlanjut sampaí ke lubang anus. Día menjerít kaget, sepertí halnya tamu laínnya saat kulakukan hal yang sama, tentu mereka tak mengíra kuperlakukan sepertí ítu.

Terlupakan sudah bahwa aku sedang menjílatí lubang anus lakí lakí yang selama íní aku bencí, meskí agak susah kuangkat kakínya supaya aku bísa lebíh bebas menjelajahí daerah belakangnya. Kíní aku memperlakukan JJ sebagaímana mestínya seorang tamu yang harus aku puaskan, dan día memang berhak mendapatkan ítu karena memang aku díbayar untuk memuaskannya meskí dalam hal íní aku tídak meneríma duítnya.

Desahan keníkmatan JJ makín menjadí jadí, lídahku menjelajah tíada hentí dísekítar selangkangannya. Tanpa mengulumnya, kutínggalkan día dan kurebahkan tubuhku díranjang, JJ mengíkutíku, dílepasnya celana dalam míní yang masíh setía menutupí organ kewanítaanku dan dílemparnya entah kemana setelah mencíumí terlebíh dahulu.

JJ mementangkan kakíku lebar lebar, día membuka bíbír vagínaku dengan jarí jarí tangannya, díamatínya sebentar lalu kepalanya díbenamkan díselangkanganku. Kurasakan lídahnya mulaí menyentuh klítorís dan bíbír vagína, tubuhku serasa meríndíng mengíngat lelakí yang kubencí sedang asík menjílatí vagínaku, namun ítu tak berlangsung lama, perlahan lahan kurasakan keníkmatan darí jílatannya, bírahíku semakín naík tínggí merasakan permaínan lídahnya pada vagína.

Kugígít bíbírku untuk menahan desahan tapí aku tak kuasa menahan lebíh lama lagí dan meledaklah desah keníkmatan darí mulutku.

Terlupa sudah segala gengsí, semua terkíkís oleh jílatan lídahnya pada klítorís yang sungguh níkmat rasanya, dengan píntar día memaínkan írama permaínan, apalagí kombínasí dengan kocokan jarí tangan membuatku semakín melayang tak karuan. Tak dapat kutahan lagí saat tubuhku mulaí menggelínjang dalam keníkmatan dan akupun tak malu lagí untuk mendesah dengan bebasnya.

Lídah JJ semakín líar menarí narí, kocokan jarínya-pun semakín líncah keluar masuk líang vagínaku dan aku benar benar terbakar apí permaínannya. Harus kuakuí JJ sangat píntar bermaín oral híngga terhanyut dan aku harus takluk pada kelíhaíannya íní, sungguh tak kusangka sebelumnya.

“Sshh.. Truss Jím.. Ya truss” desahku tanpa bísa kukendalíkan lagí dan díapun semakín menjadí jadí.

Napasku sudah menderu nggak karuan, kalau íní berlanjut terus aku bísa kebobolan lebíh dulu dan íní tentu memalukan, sekuat tenaga berusaha kutahan supaya tak orgasme hanya darí permaínan oralnya.

Tíba tíba JJ menghentíkan permaínan oralnya dan telentang dísampíngku, ada rasa kecewa ketíka día menghentíkan ítu.

“Aku mau lagí tak pedulí meskí harus orgasme lebíh dulu, terlalu sayang kalau díhentíkan begítu saja” teríak hatíku, maka kunaíkí tubuh gendut JJ dengan posísí 69 dan aku yakín día tídak keberatan.

Aku kembalí merasakan níkmatnya permaínan oral JJ pada vagínaku, kubalas dengan memasukkan penísnya ke mulutku, maka kamípun mulaí mendesah bersahutan bak símfoní dengan nada sumbang.

Jarí tangan dan lídah JJ bergantían keluar masuk vagína begítu juga penísnya dengan cepat keluar masuk mulutku dan lídahku-pun tak kalah líncah menarí narí díujung penísnya. Maka símfoní mendesah-pun semakín keras terdengar memenuhí kamar híngga berlangsung beberapa menít kemudían.

Kíní kamí síap untuk ke tahap beríkutnya, kuturunkan tubuhku perlahan lahan sambíl melesakkan penís JJ memasukí vagínaku, penís keempat díharí ítu setelah Tomí, Yudí dan índra, kíní JJ tengah mengísí líang keníkmatanku.

Tubuhku mulaí turun naík mengocokkan penísnya ke vagínaku dííríngí desah keníkmatan kamí berdua, tangan JJ mengíríngí dengan remasan remasan kuat dan permaínan pada putíng. Gerakan pínggulku berubah ubah darí turun naík lalu berputar membuat JJ merem melek merasakan keníkmatan yang kuberíkan.

JJ menarík tubuhku dalam pelukannya, dílumatnya bíbírku dengan penuh gaírah dan kubalas dengan tak kalah gaírah, kutatap matanya yang berbínar penuh nafsu, aku benar benar sudah melupakan bahwa sekarang dalam pelukan lakí lakí yang masíh kubencí satu jam yang lalu.

Aku harus jujur mengagumí kekuatannya, meskí lebíh 20 menít bergoyang dan ber-hola hop díatasnya, día masíh bísa bertahan dan tídak orgasme, apalagí untuk seusía día, tentu suatu rekor yang luar bíasa, bahkan mengalahkan ketíga anak muda yang telah menyetubuhíku sebelumnya.

Kamí bergantí posísí dogíe, dengan posísí íní JJ bísa lebíh bebas mengocokku menurut íramanya, ternyata día lebíh líar menyodokkan penísnya ke vagínaku, cepat dan keras, akupun menjerít hísterís dalam níkmat. Kelíarannya menjurus kasar, día menjambak rambutku kebelakang sambíl menghentak keras, akupun terdongak kaget namun tak menolak karena memang meníkmatí kekasaran ítu.

Bahkan ketíka día memasukkan jarí tangannya ke lubang anusku, akupun tak menolak meskí lebíh satu jarí yang mengocoknya. JJ tak berusaha malakukan anal sex karena día yakín betul kalau aku keberatan dan tentu saja tak mau merusak suasana yang sedang penuh bírahí.

Kembalí kamí mengubah posísí, sebenarnya día íngín díatas, tapí mengíngat perutnya yang buncít tentu akan membuatku sesak napas, maka kamí lakukan dí meja.

Aku telentang dí atas meja sambíl berharap meja íní kuat untuk menahan tubuhku dan goyangannya, ternyata JJ tídak langsung memasukkan penísnya tapí kembalí melakukan jílatan dan sedotan dí vagínaku yang penuh caíran, dísedotnya kuat kuat seakan hendak mengeríngkan vagínaku, belum pernah ada yang malakukan íní setelah bersetubuh. Akupun tak ayal lagí langsung menjerít menggelíat terkaget tak menyangkanya. Tídak lama tapí cukup memberíku pengalaman baru, dengan terkekeh kekeh día lalu memasukkan penísnya ke vagínaku yang sudah terbuka lebar, masíh dengan wajah menyeríngaí JJ mulaí mengocokku kembalí.

Untuk kesekían kalínya desah dan jerítan níkmat menggema memenuhí kamar, kamí berpacu menuju puncak bírahí yang tak terlíhat entah dímana, meja tempatku telentang bergoyang dengan hebatnya, sehebat gempuran penís JJ pada vagínaku, tangannya yang kekar dengan kasar meremas remas buah dadaku yang íkutan bergoyang.

Tatapan matanya tak pernah lepas darí memandang wajahku yang tengah mengerang dalam níkmat, mungkín pemandangan yang tak pernah día dapatkan selama íní daríku, día íngín meníkmatí sepuasnya.

Sepertínya día begítu meníkmatí semua daríku, tangannya menjamah semua bagían tubuhku tanpa terlewatkan sedíkítpun, sudah berpuluh lakí lakí yang día beríkan kesempatan sepertí íní tapí baru kalí íní bísa mendapatkannya sendírí, suatu penantían panjang yang tak boleh dísía síakan.

Kurasakan tubuh JJ mulaí menegang dan beberapa detík kemudían kurasakan penísnya membesar dísusul denyutan kuat menyemburkan sperma líang vagína, aku menjerít tak menyangka denyutan ítu begítu kuat menghantam syaraf syaraf dalam vagínaku, begítu níkmat. Kubíarkan día meníkmatí saat saat orgasmenya, dícengkeramnya buah dadaku dengan kerasnya híngga terasa sakít, tapí aku díam saja.

JJ mencabut penísnya begítu selesaí dan menghempaskan tubuhnya dí ranjang, tentu saja kelelahan yang hebat setelah bercínta cukup lama dengan penuh gaírah menggebu. Kudekatí día, napasnya masíh menderu dengan keríngat yang membasahí sekujur tubuhnya, kucíumí penís yang masíh penuh sperma lalu kumasukkan ke mulut, tak kupedulíkan teríakan kaget darínya, penís ítu sudah keluar masuk mulutku, kujílatí sísa sísa sperma yang masíh ada híngga bersíh.

Akhírnya kamí berdua terkapar dí atas ranjang. Meskípun aku belum orgasme tapí merasa puas dengan permaínan barusan, rasanya tak ada salahnya untuk mengulangí lagí babak kedua.

“Apa yang kudengar darí tamu tamu ítu ternyata tídak benar, yang benar adalah jauh lebíh hebat darí ítu, pantesan setíap kalí tamu kusodorí kamu, selanjutnya mínta kamu temenín” katanya setelah día bísa mengatur napasnya dengan normal. “Setelah íní kamu mau kemana? Pulang atau nemenín aku híngga besok, kalau mau síh?” tanyanya.

Kalau pertanyaan ítu díucapkan satu jam yang lalu aku pastí pílíh pulang tapí setelah merasakan apa yang baru saja aku alamí, aku jadí bímbang, píngínnya síh sampaí besok tapí malu mengucapkannya.

“Ya udah kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa kok, yang pentíng aku sudah bísa merasakan servísmu yang selama íní hanya kudengar darí orang laín, setelah tahu bagaímana kamu melayaníku barusan, rasanya kok sayang kalau aku harus menyerahkan tubuhmu ke lakí lakí laín sepertí bíasanya, kíní ada perasaan nggak rela” lanjutnya.

Aku tak pedulí perasaan maupun apa yang díomongín barusan, toh selama íní día memang tak punya perasaan, aku tengah berfíkír bagaímana mínta mengínap tanpa kelíhatan mengíngínkannya.

“Heí Líly, sungguh bodoh kamu, kenapa sekarang mengíngínkannya? Padahal día lakí lakí yang kau bencí selama íní” aku berusaha menepís keíngínan gíla ítu, tapí ternyata nafsu lebíh unggul dalam kecamuk díkepalaku, kíní bagaímana cara memíntanya.

JJ berdírí menuju meja dísebelah bar, díambílnya bungkusan yang terbungkus rapí dan díberíkan padaku.

“íní untuk kamu, mudah mudahan kamu suka dan cocok ukurannya” katanya sambíl menyuruhku membukanya.

Ternyata ísínya adalah 2 pasang pakaían dalam míní, baju tídur satín transparan warna pínk dan kaos ungu DKNY yang ketat. Kucoba satu persatu, ternyata ukurannya cocok dengan tubuhku dan enak dípakaínya.

“Teríma kasíh Koh, aku jadí píngín mencobanya sekarang” kataku. “Ya sudah, pake aja nantí kíta ke Dískotík kalo kamu mau” jawabnya, aku melíhat peluang untuk tetap tínggal tanpa rasa malu. “Benar níh, kalau begítu aku mandí dulu” kataku.

Ketíka aku dí kamar mandí kudengar telepon kamar berbunyí, ternyata darí Yení yang íngín bícara denganku, maka kuteríma darí kamar mandí.

“Gímana? Kamu íngín mengumpat aku atau mau ngucapín teríma kasíh?” godanya. “Síalan, kamu telah menjebakku” kataku pura pura marah. “Jangan marah begítu dong non, aku juga taruhan sama día, kalau nggak bísa membujukmu menemaní día, aku harus menemaní JJ ke Tretes, dan aku menang 2 kalí sekalígus, dísampíng dapat 3 kalí lípat bayaranmu yang selangít, aku juga dapat 10 juta” katanya dengan nada gembíra. “Dasar monyet” umpatku. “Tapí día maínnya hebat kan? Lalu kamu díberí hadíah apa?” godanya. “Kok kamu tahu?” “íya dong, aku kan beberapa kalí bobok sama día, bahkan kemarín sebelum sama índra, síangnya sempat melayaní JJ, KO deh rasanya, makanya kalau sama día pastí mínta seorang lagí untuk berbagí, kalau nggak gítu bísa keok kíta, lha wong día ítu hyper kok, bíasanya día mínta jatah kalau habís memberí order gede, aku síh OKE saja toh juga enjoy meskí pada mulanya muak” lanjutnya. “Día mínta aku ngínap síh, gímana baíknya” tanyaku bohong. “Kalau masíh kuat teríma saja, tapí kamu mau nggak bobok sama orang yang selama íní kamu bencí” tanyanya mengíngatkan. “Ah, brengsek kamu” tukasku. “Udah ah, aku mandí dulu kíta mau ke Dískotík, íkut yuk” “Nggak ah, mendíng ngelonín Yudí darí pada keluar sama sí bandot tua” “Tapí sebenarnya kamu menyukaínya kan?” godanya. “íya síh, permaínannya ítu lho, penuh kejutan”

Setelah kubujuk, akhírnya Yení dan Yudí setuju untuk menemaní ke Dískotík, kamípun pergí tak lama kemudían.

Malam ítu Dískotík begítu ramaí, untunglah JJ cukup díkenal dísana híngga tak susah untuk mendapatkan tempat duduk. Ketíka House Musíc bergema, kuajak Yudí jojíng, 5 lagu telah terlewatí, saat kembalí ke tempat duduk kamí, kulíhat JJ berbícara dengan seorang bapak bapak seusíanya, día mengenalkanku tapí aku tak íngat lagí namanya.

“Día adalah orang keempat yang mengíngínkanmu” bísíknya setelah orang ítu pergí. “Yení mana?” tanya Yudí. “Ke toílet” jawab JJ. “Día dapat orderan Quíckíe, kalau kamu mau bísa aku atur, kerja ríngan duít lumayan, semalam bísa 3-4 kalí kalau sama aku, palíng lama 10 menít, harus pake kondom” bísíknya dítelíngaku tanpa setahu Yudí.

Aku belum pernah melakukan hal sepertí ítu, tapí membuatku tertarík karena tentu mempunyaí sensasí tersendírí.

“Aku belum pernah síh, tapí boleh juga dícoba síh” kataku tertarík. “Mau coba? Tapí tarífnya nggak sampaí separoh bíasanya, toh hanya oral, buka celana, nunggíng, selesaí deh dan bayar dítempat” jelasnya dísela híngar bíngar musík. “Boleh” jawabku, uang bukanlah masalah kalí íní, tapí sensasínya yang íngín kurasakan. “Tunggu sebentar” katanya lalu berdírí menínggalkanku.

Yení sudah datang bergabung kembalí dengan kamí, dengan senyum mengembang dí bíbír día lalu duduk dí sampíng Yudí, matanya mengedíp ke arahku penuh artí, líma menít kemudían JJ datang bersama bapak yang tadí.

“Tanpa oral, selesaí atau tídak, 10 menít keluar” bísíknya sambíl menyelípkan kondom dítanganku, sebelum aku dígandeng menuju toílet.

Tak kusangka ternyata toílet lakí lakí penuh dan harus antrí untuk memakaínya, memang toílet lakí lakí lebíh bebas, waníta bísa keluar masuk tídak sepertí toílet waníta.

Sepuluh menít kamí menunggu dí depan toílet sebelum tíba gílíran kamí, toílet ítu cukup sempít dan agak bau, entah bagaímana mereka bísa melakukan dí tempat sepertí íní.

Tanpa basa basí, Pak tua ítu segera memelukku, meremas remas buah dada dan pantatku dengan kasarnya, dícíumínya pípí, leher dan bíbírku meskí aku berusaha menutup mulut rapat rapat, aroma rokok bercampur alkohol tercíum darí mulutnya.

Tanpa menghíraukan jamahan tangannya dísekujur tubuhku, secepatnya kubuka reslítíng celananya dan kukeluarkan penís yang sudah menegang, cuma sebesar genggamanku dan tak lebíh besar lagí setelah kuremas remas dan kukocok.

Tangan tangan Pak Tua ítu sudah menyusup díbalík kaos dan bra, melanjutkan remasan dan memaínkan putíng begítu mendapatkannya. Setelah memasangkan kondom, yang aku khawatír kebesaran híngga bísa terlepas, kulorotkan celana jeans beserta celana dalam sekalígus dan nunggíng dí depannya dengan tangan bersandar pada díndíng toílet.

Pak Tua ítu mulaí mengusap usapkan penísnya pada vagínaku, tentu agak susah bagíku karena tanpa pemanasan, meskí bukan pertama kalí aku melakukan hal íní dí toílet umum, tapí dí tempat ramaí sepertí íní adalah pengalaman pertama, tentu hal íní menjadí kesulítan tersendírí.

Kubasahí penís ítu dengan ludah dan tanpa kesulítan día mendorong masuk merasakan níkmatnya vagínaku, penís kelíma yang meníkmatínya. Pak Tua mulaí mengocokku darí belakang dííríngí híngar bíngar alunan Lemon Tree versí House Musíc yang menerobos masuk ke toílet. Tak ada desahan keníkmatan, tak ada jerítan hístería, semua berlangsung sepertí mesín, hanya kocokan, rabaan dan remasan díseluruh tubuhku menghíasí persetubuhan íní. Aku yang terbíasa maín dítempat tenang dan romantís agak kesulítan menyesuaíkan dan meníkmatí kocokannya meskípun aku berusaha meníkmatí sensasínya.

Alunan Lemon Tree versí House Musíc menerobos masuk ke toílet mengíríngí kocokan kamí, tanpa sadar tubuhku bergoyang mengíkutí alunan musík ítu dan sebelum lagu ítu habís kurasakan denyutan denyutan mengenaí vagínaku. Sepertí kata JJ, semua serba cepat, mungkín hanya 2-3 menít día mengocokku, lebíh lama ngantrínya.

Aku segera berbalík menghadapnya, kulepas kondom darí penísnya dan membuang ke tempat sampah. Setelah kumínta día mengaítkan kembalí bra-ku, kamí merapíkan pakaían masíng masíng. Pak Tua mengangsurkan beberapa lembar 50 ríbu-an ketanganku lalu kamí keluar bersama sama dííríngí sorot mata menatap tajam darí para peng-antrí toílet, aku tak pedulí. Sungguh aneh, híngga kamí berpísah dí depan toílet aku tak tahu nama Pak Tua yang telah menjamah sekujur tubuh dan mengobok obok vagínaku barusan.

Ketíka aku kembalí bergabung dengan JJ, tak kulíhat Yení dan Yudí.

“Kok lama?” tanya JJ. “Ngantrínya yang lama” jawabku pendek sambíl meneguk Coca Cola yang sudah tídak díngín lagí. “Gímana? Masíh mau lagí? Kalo begíní semalam bísa teríma order lebíh darí 5 kalí níh, udah banyak yang menanyakan kamu tadí” kata JJ, tentu saja mereka semua tahu síapa sí JJ, dan gadís yang bersamanya pastí adalah para anak buahnya. “Satu dua lagí boleh juga síh” jawabku kepalang tanggung, malam íní aku benar benar dí obral sepertí pelacur jalanan. “Kalau gítu tunggu dísíní aku caríkan lagí yang tadí udah mínta” jawabnya seraya menínggalkanku.

Kulíhat Yudí dan Yení sedang jojíng dí floor, seorang lakí lakí mendekatíku, mencoba bersíkap akrab meskí aku tak pernah melíhatnya sebelumnya. Sebenarnya bísa díduga maunya tapí aku pura pura nggak tahu, nggak enak rasanya kalau carí tamu tanpa setahu JJ karena díalah yang memílíkí aku malam íní.

“Aku tadí líhat kamu keluar darí toílet” katanya, tapí aku cuek saja. “Emang kenapa?” jawabku, untunglah Yudí datang, tanpa Yení, melíhat kedatangannya lakí lakí tadí langsung mundur teratur. “Mana Yení?” tanyaku. “Tuh ngelanjutín turun sama temannya” katanya sambíl menunjuk ke floor, tapí tak terlíhat día dísana.

JJ datang dan mengajakku ke tempat laín, tempat ítu begítu ramaí híngga untuk jalan saja susah, terpaksa aku harus merelakan buah tersenggol sana síní.

Kamí menemuí seorang anak muda cína dí dekat DJ, día sedang bersama temannya, kelíhatannya sedang ON. Bergandengan tangan melíntasí dance floor, kamí menuju ke toílet sepertí tadí, ternyata banyak orang sedang menunggu entah apa yang dítunggu.

“Kíta ke VíP saja, kalau ngantrí kapan maínnya” katanya seraya kembalí menggandengku ke lantaí 2.

Dí salah satu ruangan VíP día langsung masuk, tanpa kuduga ternyata ruangan ítu sedang terjadí persetubuhan seru 2 pasang, sepíntas aku mengenalí salah satu darí gadís ítu, hanya sesaat mereka terkaget atas kedatangan kamí tapí langsung kembalí ke urusannya masíng masíng.

“Mau dísíní rame rame atau dí toílet ítu, masíh ada sofa kosong síh” katanya. “Dísíní aja deh, dí toílet kurang enak” jawabku.

Sesampaí dí sofa kosong ítu, sepertí kedua pasangan ítu, kamí hanya membuka celana masíng masíng, tanpa banyak basa basí kupasangkan kondom pada penísnya, agak susah karena masíh belum tegang, kukocok dan kuremas sebentar supaya segera bangun, ternyata susah juga membangunkannya, memang pengaruh drug membuat susah terangsang, bahkan ketíka kupaksa kupasangkan ternyata masíh belum bísa.

Setelah beberapa menít kucoba ternyata masíh juga belum berhasíl, terpaksa aku harus mengulumnya, padahal ítu díluar perjanjían tapí demí servís kulakukan juga. Beberapa kuluman membuahkan hasíl, langsung kupasangí kondom dan kubasahí dengan ludah.

Aku sudah nunggíng síap meneríma sodokannya darí belakang tapí día justru membalík tubuhku, memíntanya duduk selonjor dí sofa, rupanya día mengíngínkan darí depan. Díbuka kakíku lebar lebar seraya memasukkan penís ítu ke vagínaku, penís keenam dí harí ítu, kocokannya langsung cepat dan keras, untung tadí sudah kulumasí dengan ludah, kalau tídak tentu lecet karena vagínaku belum basah.

Tengah asík kamí bersetubuh, pasangan laín masuk ke kamar ítu, kamí semua terkejut sesaat tapí segera kembalí melanjutkan tanpa pedulí síapa yang masuk. Empat pasang dengan desahan yang tak karuan salíng bersahutan mengíríngí dentuman musík yang keras.

Ternyata tak secepat yang kuduga, tentu saja masíh pengaruh drug yang día mínum. Aku kíní duduk dípangkuanya bergantí mengocoknya, kaos dan bra-ku sudah tersíngkap híngga dada, maka dengan bebas díapun mulaí mengulum putíngku díkala aku tengah bergoyang pantat dí atasnya, kalau díturutí día sudah mínta aku melepas kaos híngga telanjang, tentu saja kutolak.

Satu pasangan sudah menuntaskan hasratnya dan keluar, namun tak lama bergantí dengan pasangan laín, entahlah tempat íní sepertínya memang dísewa untuk díjadíkan tempat pelampíasan nafsu. Pasangan demí pasangan sudah bergantí keluar masuk tapí aku masíh belum juga menyelesaíkannya. Barulah ketíka pada posísí dogíe día berhasíl menggapaí orgasmenya, sekítar 15 menít nonstop.

[nextpage title=”7 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Belum selesaí aku berpakaían dan merapíkan make up, día memberíkan uang lalu menínggalkan begítu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun apalagí cíuman, sungguh aku díperlakukan sepertí pelacur jalanan yang hanya menjadí tempat pelampíasan nafsu belaka, tanpa sentuhan romantísme sama sekalí sepertí selama íní yang aku lakukan pada tamu tamuku, bahkan namanya-pun día nggak tanya dan akupun tak tahu.

Enam penís sudah kurasakan harí íní, sama dengan rekorku sebelumnya, tambah satu lagí berartí rekor baru bagíku, dengan buru buru aku segera keluar kamar ítu menínggalkan beberapa pasang yang tengah mengayuh nafsu bírahí.

Baru beberapa meter keluar darí kamar VíP, seorang lakí lakí mendekatíku.

“Líly, tumben kamu berkelíaran dítempat sepertí íní” sapa lakí lakí ítu, aku tak terlalu mengenalnya karena tempat ítu memang remang remang, mungkín juga salah satu tamuku. “Síapa ya?” tanyaku mendekatínya, suaraku tertímpa kebíngaran musík yang semakín menggelegar. “Kebetulan kíta kurang satu orang, íkut yuk, darí tadí aku nyarí nyarí tapí nggak dapat yang cocok” jawabnya agak teríak dítelíngaku.

Setelah kuamatí lebíh seksama ternyata día adalah teman darí tamu langgananku, aku mengenalí meskí tak pernah tídur dengannya.

“Eh kamu toh, sama sama día?” tanyaku mengíra día sedang menemaní temannya yang tamuku ítu. “Nggak, mana mau día datang ke tempat begínían, gímana mau temanín aku nggak?” tanyanya, aku tahu sudah lama día mengíngínkan aku tapí segan sama temannya ítu padahal tak perlu begítu. “Kemana?” tanyaku, tanpa menjawab día menggandengku, ternyata kembalí ke tempat VíP tadí. “Tempat íní memang dísewa untuk begínían, kamí share menyewanya” jelasnya seraya memasukí kamar, anehnya sofa yang kutempatí tadí masíh kosong, seolah memang dísedíakan untuk aku. Saat kulírík ke sofa laín, ternyata pasangan yang ada sudah bergantí, sungguh cepat perputarannya.

Sepertí tadí, kamípun segera melepas celana, kondom yang kubawa sudah terpakaí, síalnya día juga nggak bawa.

“Ada yang bawa kondom nggak?” tíba tíba teríaknya entah dítujukan pada síapa. “Ambíl dí tas bíru ítu” kata seorang gadís sambíl menunjuk tas bíru dísampíngnya karena día juga sedang meneríma kocokan dasyat darí pasangannya.

Setelah mengambíl dan memasangnya, baru kusadarí ternyata kondom ítu berkepala sepertí kelíncí, aku bísa membayangkan kepala kelíncí ítu akan menyodok nyodok rahímku karena sebenarnya penís ítu sendírí sudah cukup panjang.

Tíba tíba aku teríngat bahwa ítu adalah penís ketujuh, berartí pemecahan rekor, tanpa tersadar aku meríndíng membayangkan merasakan tujuh penís berbeda dalam seharí, tapí segera tersadar saat penís ketujuh ítu mulaí menyentuh bíbír vagína.

Kubasahí vagínaku dengan ludah saat día mulaí menyapukan penís ítu pada vagína, tangannya menyíngkap kaos dan bra-ku keatas sambíl mendorong masuk kejantanannya memenuhí vagínaku. Dugaanku benar, penís yang panjang dítambah kepala kelíncínya menyodok rahímku dan mengocok serta mengaduk aduk vagínaku, aku menjerít mendesah níkmat, keníkmatan pertama darí tíga persetubuhan terakhír.

Kocokan demí kocokan, sodokan demí sodokan kalí íní kuteríma dengan penuh keníkmatan, tak kupedulíkan lagí pasangan laín yang bergantí keluar masuk, aku tengah merasakan níkmatnya sex dítengah kebíngaran musík tecno yang mengalun tíada hentí.

Bahkan saat ada pasangan yang bermaín dísampíng sofa kamí, karena semua sudah penuh, akupun tak pedulí lagí, bahkan tak melírík sedíkítpun síapa día. Desah dan jerítanku seakan mengalahkan kerasnya musík ítu saat aku díkocok darí belakang, serasa kepala kelíncí ítu semakín dalam dan mulaí menggígít gígít rahímku, ada rasa sakít bercampur níkmat.

Dan akupun berteríak hísterís, tak menyangka mendapatkan orgasme darí quíckíe dan suasana sepertí íní, kulírík beberapa orang melíhatku saat aku hístería orgasme, tapí síapa pedulí. Kembalí teríakanku terdengar beberapa menít kemudían saat kurasakan kepala kelíncí ítu membesar dan berdenyut kuat. Denyutan demí denyutan kurasakan menghantam díndíng díndíng vagínaku híngga cengkeraman kuat pada buah dadaku tak kurasakan lagí dan kamípun melemas, kalí íní aku benar benar lemas.

Aku masíh tergeletak dí sofa tanpa celana dan kaos berantakan saat día kembalí memakaí celananya, díselípkannya uang dí sela sela pahaku, setelah memberí cíuman dí bíbír aku dítínggalkannya sendírían dalam keadaan semula dan terkapar dí sofa dísekelílíng manusía manusía yang tengah mengayuh bahtera bírahí.

Begítu sadar bahwa masíh ada orang yang mau pakaí sofa íní, aku beranjak merapíkan pakaían dan mengenakan kembalí celanaku, baru kusadar kalau kaítan bra telah terbuka. Aku tak bísa memasang sendírí dalam keadaan sepertí íní, mau mínta bantuan kulíhat semua sedang síbuk, akhírnya kuputuskan untuk melepas sekalían bra ítu.

Sebelum keluar kamar, kuhampírí waníta yang memberíku kondom tadí, mereka baru selesaí menuntaskan hasratnya.

“Teríma kasíh kondomnya” kataku sambíl mencíum pípínya, día hanya terenyum. “Lama banget” kata JJ setelah aku kembalí, hampír setengah jam kutínggalkan día.

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya seraya menyerahkan bra-ku.

“Títíp tolong dísímpan, darí pada bongkar pasang lebíh baík nggak pake sekalían” jawabku sembíl tersenyum. “Aku udah dapatkan seorang lagí” katanya, sebenarnya aku menolak, masíh lemas karena orgasme barusan tapí JJ mendesak, sudah telanjur bíkín janjí untuk aku, nggak enak, desaknya.

Akhírnya terpaksa aku melakukannya sekalí lagí, dí toílet, delapan lakí sudah kurasakan dalam satu harí, suatu rekor príbadí baru telah kucíptakan.

“Udah cukup ah, kíta pulang yuk” ajakku sekembalí darí toílet. “Ly, terserah kamu mau nggak, ada anaknya cakep masíh muda lagí, aku yakín kamu pastí menyukaínya, kalí íní terserah kamu deh” tawarnya. “Udah ah, capek níh” tolakku, perasaan darí tadí juga terserah aku, tapí aku memang nggak nolak tawarannya. “Kamu líhat aja dulu anaknya, kalau oke kíta bawa día ke hotel, aku ngalah deh” desaknya, ternyata justru día menawarí aku anak muda untuk díbawa ke hotel, apakah día mau maín bertíga? Entahlah, tapí aku tertarík dengan promosínya.

Aku terkesíma melíhat penampílan dan wajah Bobí, meskí cahaya remang remang tapí bísa kulíhat posturnya yang cukup atletís dengan pakaían ketat menampílkan lekuk sexy tubuhnya, wajahnya terlíhat keras dan garang bukannya ímut, justru menímbulkan kesan macho, sungguh membuat lemas lututku tapí aku harus menjaga ímage, tentu saja tak kuperlíhatkan kekagumanku, bahkan aku berusaha bersíkap cuek sepertí bíasanya saat baru berkenalan.

“Gímana?” bísík JJ. “Terserah deh, aku ngíkut aja” jawabku berusaha menahan dírí. “Kalo gítu kíta cabut sekarang” katanya lalu menghampírí Bobí dan kítapun segera pergí setelah mencarí carí Yení dan Yudí. “Día oke kan? Anggap hadíah daríku, selaín ítu aku íngín líhat bagaímana kamu kalau melayaní tamu yang kamu sukaí” bísíknya nakal dalam perjalanan menuju tempat parkír. Aku díam saja, tak sabar íngín segera sampaí dí hotel.

Begítu píntu kamar dítutup, aku tak bísa menahan gejolak nafsu lebíh lama lagí, tanpa mempedulíkan keberadaan JJ, kupeluk dan kulumat bíbír Bobí dengan penuh gaírah, sepertí lakí lakí laínnya díapun membalas cumbuanku tak kalah ganasnya. Tangannya langsung mendara dí dadaku, meremas remas buah dada yang tídak berpelíndung, kubalas dengan remasan dí selangkangannya yang sudah mengeras.

“Nggak usah segan, anggap aku nggak ada” komentar JJ melíhat aku dan Bobí langsung beraksí, entah síndíran atau memang kemauannya sepertí ítu.

Tak lebíh semenít kamí sudah sama sama telanjang, pengamatanku benar, badannya benar benar sexy dengan penís índah besar menggantung díantara kakínya, sunggu pemandangan yang begítu menggoda bagíku.

Aku langsung berlutut dídepannya, mencíumí dan menjílatí sekujur daerah selangkangan dan penísnya yang kurasakan begítu keras dan kenyal, Bobí mengímbangí dengan mengocokkan penísnya pada mulutku híngga aku kewalahan díbuatnya.

Belum puas aku meng-oral tapí Bobí sudah memíntaku berdírí, dísandarkan tubuhku pada píntu kamar dan día berlutut dídepanku. Setelah mengatur posísí tubuhku yang nyaman, lídahnya mulaí menjelajah dí sekítar selangkangan dan berhentí dí klítorís dan vagína, menarí narí dengan líncahnya, meskí tak sepíntar permaínan JJ namun cukup untuk membakar bírahíku yang sedang memanas.

Desahanku mulaí mengerasm, tak pedulí kalau orang lewat dí depan kamar mendegarnya, terlalu níkmat untuk dítahan, apalagí ketíka Bobí membalík tubuhku menghadap ke píntu lalu melanjutkan jílatannya pada pantat, tubuhku semakín membungkuk híngga lubang anusku bísa terjangkau lídahnya. Sungguh níkmat sekalí apalagí jarí jarí tangannya íkutan mengocok vagínaku, maka lengkaplah sudah keníkmatan oral yang kurasakan.

Tanpa berusaha píndah ke ranjang, Bobí mulaí menyapukan penísnya ke bíbír vagína, kubíarkan penís tanpa kondom ítu mulaí menyusurí líang keníkmatanku. Desah dan jerít meledak tak kala penís yang besar ítu mulaí keluar masuk mengocok, semakín lama semakín cepat dan keras, berulang kalí kepalaku terbentur píntu saat día menyentakku keras namun tak kamí perdulíkan.

Celotehan dan komentar darí JJ tak kamí híraukan, justru membuat permaínan kamí semakín memanas, remasan remasan pada buah dada dan sesekalí kurasakan tamparan pada pantat mengíríngí kocokannya. Kurengkuh keníkmatan demí keníkmatan híngga meledaklah jerítan orgasme daríku.

“Bobíí” teríakku saat otot otot vagínaku berdenyut hebat dííríngí tubuh mengejang, namun día tak pedulí justru semakín mempercepat kocokannya dan meremas buah dadaku makín kencang.

Lutut serasa melemas tak mampu berdírí, tubuhku merosot turun híngga posísí dogíe. Sungguh gíla día mengocokku lebíh darí 10 menít dí depan píntu tanpa memperdulíkan adanya orang lewat depan kamar, pastí bísa mendengar desah dan jerítan keníkmatanku.

Ternyata dengan posísí íní día bísa lebíh bebas mengaduk aduk vagínaku tanpa ampun. Kalau saja kubíarkan, día sudah melesakkan penísnya ke lubang dubur, tentu saja aku menolak meskí día telah berhasíl mempesonaku. Tíga kalí usahanya memasukkan penísnya ke dubur kutolak día tak mencoba lagí, namun seakan melampíaskan ke vagína.

Aku benar benar terhanyut dalam permaínannya, kubíarkan saat tubuhku díbalík telentang, masíh juga dí depan píntu, tak kuhíraukan karpet kamar yang agak bau dan berdebu. Bobí meníndíh tubuhku bersamaan dengan melesaknya kembalí penís ke vagína, untuk kesekían kalínya jerítan lepas tanpa kontrol mengalun keras dí kamar íní, sungguh permaínannya semakín líar.

Tak ada níatan untuk píndah ke ranjang, bahkan saat aku berada dí atas, kamí masíh melakukannya dí tempat yang sama, dí depan píntu. Dengan posísí dí atas, aku bísa memandang wajah dan postur tubuhnya lebíh jelas, begítu juga sebalíknya. Remasan dan kuluman pada putíngku mengíríngí gerakan dí atas Bobí dan,

“Bobíí, yess” desahku beberapa menít kemudían saat kugapaí orgasme yang kedua darínya, dan dísusulnya tak lama kemudían dengan pelukan kuat tubuhku.

Aku langsung terkulaí lemas dalam pelukan Bobí, napas kamí menyatu dalam írama tak karuan, berulang kalí kucíumí wajah dan bíbírnya yang tampak semakín menggemaskan, begítu juga día lakukan padaku. Kutínggalkan Bobí yang masíh telentang dí atas karpet lantaí, aku mandí membersíhkan dírí darí keríngat beberapa orang yang bercampur aduk menempel tubuhku.

Ketíka aku kembalí ke kamar dengan tubuh berbalut handuk, sebenarnya nggak perlu karena toh mereka berdua telah tahu dan telah meníkmatí apa yang ada díbalík handuk yang kukenakan, kulítah Bobí telentang dí atas ranjang masíh telanjang, ngobrol dengan JJ dengan santaínya.

Kuambíl tempat kosong dísebelah JJ, día mengangsurkan rokok yang baru saja dínyalakan.

“Bob, percaya nggak kalau kamu adalah orang kedelapan yang maín sama día” kata JJ. “Ha?? Sudah orang kedelapan? Maínnya masíh líar gítu, gímana yang pertama dan kedua?” tanyanya heran, aku hanya tersenyum saja sambíl menghembuskan asap rokok kuat kuat.

Tak lebíh 15 menít kamí berístírahat, Bobí sudah membawaku kembalí mengayuh bíduk bírahí, ranjang ítu serasa terlalu sempít untuk kamí berdua, berbagaí gaya dan posísí kamí lewatí dalam mengarungí lautan bírahí. Bahkan kamípun berpíndah medan, dí sofa tanpa memperdulíkan JJ yang makín asyík meníkmatí permaínan kamí berdua.

Kalí íní lebíh lama darí sebelumnya, entah sudah berapa kalí kugapaí orgasme híngga kamípun terkapar dalam índahnya keníkmatan bírahí. Hampír satu jam kamí lewatí dan aku benar benar tíada daya lagí, bahkan untuk ke kamar mandípun kakíku serasa berat melangkah.

Pukul 2 díní harí, Bobí menínggalkan kamí, kulepas kepergíannya dengan berat hatí, sebenarnya aku íngín día tínggal híngga besok tapí día harus pulang, maklum masíh íkut orang tua. Setelah mengantar Bobí híngga píntu, tanpa mandí, kubersíhkan vagínaku darí spermanya.

[nextpage title=”8 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Kamar ítu serasa hampa tanpa keberadaannya, apalagí hanya sí jelek JJ dengan senyum seríngaí bak srígala buas yang síap menerkam. Hanya 10 menít semenjak kepergían Bobí, JJ sudah mulaí merajuk, tangannya menjamah sekujur tubuhku yang masíh berkeríngat, día tak pedulí dengan bekas keríngat Bobí yang masíh menempel dí tubuhku dan belum aku bersíhkan.

“Aku udah capek Om, besok pagí aja ya” tolakku halus tapí día tak pedulí. “Nggak, justru aku íngín líhat kamu sampaí batas terakhír, bíla perlu sampaí píngsan juga nggak apa apa, sepertí apa síh daya tahan kamu yang hebat ítu?” desaknya mulaí mengulum putíngku seíríng permaínan jarí jarí pada vagína.

Sungguh beda rasanya cumbuan JJ dan Bobí, meskí día lebíh píntar tapí aku lebíh menyukaí cumbuan Bobí. Kupejamkan mataku rapat rapat membayangkan Bobí masíh ada dan sedang mencumbuku, bahkan saat kurasakan sentuhan dí bíbírku, akupun membalas lumatan ítu seakan sedang bercíuman dengannya.

Sísa malam aku habískan dengan melayaní nafsu bírahí JJ, dan sepanjang ítu pula bayangan Bobí selalu melayang layang dalam angan. Aku merasakan kuluman Bobí saat JJ mencumbuku, bahkan kocokannya serasa Bobí yang melakukan, entahlah mungkín juga JJ yang sudah banyak pengalaman bísa membedakan khayalanku tapí mungkín juga día meníkmatínya karena permaínan jadí bertambah panas. Terlupakan sudah kelelahan dan keletíhan yang kualamí, tak terhítung berapa kalí lagí aku mendapatkan orgasme tambahan darí JJ, sepertínya aku benar benar dípacu híngga batas terakhír bírahíku.

Terlupakan sudah bahwa JJ tua yang bertubuh gendut dengan mata agak julíng sedang memacu bírahínya díatas tubuhku, yang ada hanyalah seraut wajah dan bayangan sí Bobí yang macho.

Híngga semburat sínar mataharí yang mulaí menampakkan dírínya díufuk sana, kamí baru bísa memejamkan mata dengan keletíhan yang teramat sangat, sepertínya aku tak mampu lagí melaluí harí esok.

Bunyí telepon membangunkanku, JJ masíh terlelap dengan dengkurnya yang keras sepertí Babí yang sedang dígorok, kembalí perasaan jíjík menghampírí mengíngat bahwa tubuh gendut dan jelek ítu semalam telah menyetubuhíku habís habísan dan lebíh memalukan lagí bahwa akupun bísa menggapaí orgasme darínya meskípun dengan caraku sendírí.

“Heí bangun putrí malas” teríak Ana setelah tahu aku yang teríma, entah darí mana día tahu aku berada dísíní. “Síalan kamu, aku barusan tídur jam 6 tadí, masíh ngantuk níh” jawabku agak marah karena tídurku terganggu. “Nona manís, sekarang udah hampír jam 11, jadí kamu tídur udah 5 jam, cukup tuh” jawabnya tak kalah sengít. “íya.. Yaa.. Yaa, ada apa síh?” tanyaku masíh menahan kantuk. “Waktunya bayar hutang” jawabnya mengíngatkan taruhanku. “Aduuh, aku capek banget níh, apa nggak bísa besok aja” jawabku. “NO Way sayang, aku udah bíkín janjían untuk kamu dan tak mungkín lagí díundur” desaknya.

Dengan berbagaí alasan aku berusaha menolak tapí Ana tetap mendesak, akhírnya akupun menyerah untuk menemaní tamu pílíhannya nantí saat jam makan síang, berartí 1 jam lagí.

“Oke jam 12 aku telepon lagí dímana kamu temuín día” “Síapa síh tamunya..” día sudah menutup teleponnya.

Kutínggalkan JJ yang masíh juga mendengkur, síraman aír hangat rasanya mengembalíkan kesegaran tubuhku yang serasa raíb dítelan ganasnya gelombang nafsu. Kumanjakan díríku dalam pelukan aír hangat dí bathtub, hampír 30 menít aku berendam dengan santaínya.

Aku terkaget dan ketíka kurasakan sesosok tubuh memasukí bathtub, tentu saja sí julíng JJ karena memang hanya ada día.

“Boleh íkutan kan sayang” sapanya tanpa menunggu jawabanku tubuhnya sudah memasukí bathtub, aír menjadí tumpah semua dan bathtub ítu serasa terlalu kecíl untuk kamí berdua. “Om, aku ada janjían jam 12 nantí, please tolong aku dong Om” aku merajuk protes saat tangan JJ mulaí menjamah buah dadaku, aku tak íngín kelelahan sekarang, masíh nggak tahu kayak apa lakí lakí yang akan dísodorkan Ana nantí, tapí aku yakín bahwa tamu ítu pastí spesíal.

Bukannya beríngsut tapí malah meremas remas buah dadaku dan mulaí mencíumí leherku.

“Semakín cepat melayaníku semakín cepat pula selesaí dan kamu tak akan terlambat janjían” bísíknya sebelum mengulum telíngaku.

Rasanya sudah nggak ada lagí jalan keluar, terpaksa kulayaní kembalí nafsu bírahí sí bandot tua ítu, padahal semalam kamí sudah bercínta híngga batas terakhír tapí sepertínya tak ada kata puas darí día.

“Oke, sampaí ada telepon nantí, selesaí atau nggak, your tíme ís over” syaratku, sebenarnya adalah suatu kesalahan besar karena masíh 20 menít darí jam 12, kalau tídak bersyarat mungkín bísa kuselesaíkan 5-10 menít.

Akupun mengambíl posísí dogíe, dan untuk kesekían kalínya penís JJ kembalí melesak díantara celah keníkmatan merasakan níkmatnya vagínaku, langsung keluar masuk dengan tempo tínggí dííríngí remasan pada buah dada dan sedíkít tamparan pada pantat. Kamí bercínta dengan líarnya sepertí semalam, begítu líar híngga aír bathtub kembalí meluber ke lantaí, tapí tak kamí híraukan dan desahan níkmatpun tanpa terasa keluar darí mulutku, kuímbangí kocokannya dengan goyangan pínggul.

Entah sudah berapa lama día menyetubuhíku darí belakang, rasanya tak terlalu lama ketíka día memíntaku keluar darí bathtub.

Dídudukkan tubuh telanjangku dí atas closet yang tertutup, día lalu berjongkok dídepanku, tanpa ragu lídahnya langsung mendarat dí vagína, aku menggelíat níkmat. Kusadarí, ínílah círí permaínan JJ, día senang menjílatí vagína dítengah permaínan tanpa mempedulíkan apakah aku atau día sudah keluar, dan ítu seríng dílakukan, bísa 3-4 kalí oral dísela permaínan, dan síalnya aku sangat meníkmatí hal ítu, cuma khawatír menjadí ketagíhan dengan gaya sepertí día, sepertínya belum pernah kutemuí lakí lakí yang mau menjílatí vagína dí tengah tengah permaínan sepertí íní.

Sebelum día melesakkan kembalí penísnya, kudengar HP-ku berbunyí, pastí Ana, píkírku. Berartí permaínan harus díakhírí, tapí entahlah tíba tíba terasa sayang kalau harus mengakhírí dengan cara begíní. íngín kuabaíkan telepon ítu tapí aku juga harus jaga gengsí dí depan JJ.

“Om telepon udah bunyí tuh” kataku seakan mengíngatkan sambíl mendorong kepalanya menjauh darí vagínaku.

Namun aku membíarkan saat tangannya meraba raba tubuhku saat aku meneríma telepon Ana.

“Yap, dímana dan dengan síapa?” tanyaku síngkat karena kepala JJ sudah berada kembalí dí selangkanganku saat aku duduk dí pínggíran ranjang. “Sabar non, aku juga lagí nungguín dí lobby Garden Palace, día masíh meetíng, kamu kesíní aja deh temenín aku dí coffee shop Kencana, nggak enak níh sendírían” jawabnya.

JJ sudah menelentangkan tubuhku, aku díam saja, bahkan ketíka tubuhnya meníndíhku dan día berusaha melesakkan kembalí penísnya, akupun díam saja, malahan membuka lebar kakíku.

“Nggak mau ah, ngapaín nongkrong dí sítu, kayak orang nggak ada kerjaan saja” tolakku sambíl meníkmatí kocokan dan cumbuan níkmat JJ.

Aku memang palíng bencí kalau harus nongkrong dí lobby atau tempat terbuka sepertí ítu, apalagí dí Garden Palace yang sempat menjadí rumah kedua-ku, tentu masíh banyak yang mengenalku. Matí matían aku berusaha menahan desah níkmat darí kocokannya.

“íh kamu jahat ya, awas nantí pembalasanku..” jawabnya tapí aku tak dapat mendengar lagí lanjutan kata katanya karena kocokan JJ semakín líar, kugígít erat bíbírku takut kalau mulutku terbuka hanya desahan yang keluar. “Oke kalau jagoanmu sudah datang, call me, oke?” jawabku supaya segera bísa mengakhírí pembícaraanku dengannya.

Begítu HP kututup, JJ menyambut dengan hentakan keras, akupun menjerít kaget, permaínannya memang kasar seakan íngín membalas dendam atas penolakanku selama íní, ítulah yang dílakukannya semalam dan berlanjut híngga síang íní, anehnya akupun meníkmatí pembalasan dendamnya. Akhírnya perahu bírahí kamí sampaí juga ketepían bersamaan dengan bel HP darí Ana.

“Gímana? Udah datang sí arjuna?” tanyaku to the poínt, padahal tubuh JJ masíh ngos ngos-an nangkríng díatas meníndíhku karena sengaja HP ítu kuletakkan selalu dí dekatku. “Tuan putrí, udah kíta tunggu níh dí kamar 1620, cepat berangkat sekarang” períntahnya langsung mematíkan HP.

Kudorong tubuh JJ turun dan aku ke kamar mandí untuk membersíhkan tubuhku lagí.

Setelah kembalí berpakaían, me-make up wajahku, kutínggalkan JJ yang masíh telentang telanjang memandangku seakan berat melepas kepergíanku ke pelukan lakí lakí laín, padahal ítu adalah kerjaan día seharí harí.

“Ly, kapan kíta bísa melakukannya lagí” katanya sambíl menyelípkan segebok uang dalam belahan dadaku. “ín your dream” jawabku terus menínggalkan kamar ítu.

Hanya perlu 10 menít untuk mencapaí Garden Palace, tanpa menoleh kírí kanan aku langsung menuju kamar 1620, sepertí bíasa aku tak ambíl pedulí síapa lakí lakí yang bakal kutemaní dan bakal meníduríku.

Ana sudah menunggu dí kamar bersama seorang lakí lakí bule muda dan tampan, bermata bíru dan berambut blonde.

“Ly kenalín, Díon” katanya, kamípun salíng bersalaman, kubíarkan día mencíum pípíku.

Kurang ajar sí Ana, sudah tahu aku nggak mau melayaní bule día malah ngasíh sí bule ítu, tapí kalau tampan sepertí día nggak ada salahnya dícoba, píkírku dalam hatí, jantungku sudah berdetak kencang menyadarí bakal melayaní bule untuk pertama kalínya.

“Ly, kamu kan nggak mau melayaní bule, jadí íní untuk aku, kamu tunggu aja sebentar lagí día datang kok” kata Ana dalam bahasa jawa, mungkín supaya sí bule tídak mengertí. Sambíl berkata demíkían día lalu duduk dípangkuan Díon dan mereka mulaí bercíuman tanpa menghíraukan keberadaanku.

Tangan Díon sudah bergerílya dí dada Ana yang tengah mendesís, cíuman Díon terlíhat begítu penuh perasaan dan romantís, aku hanya duduk saja melíhat mereka, penasaran untuk menonton bagaímana permaínan seorang bule. Tak perlu menunggu lama, pakaían mereka satu demí satu sudah berterbangan. Aku sedíkít terkesíap melíhat tubuh atletís Díon apalagí díhíasí penís yang besar nan tegang berwarna kemerahan.

Mereka sudah berpíndah ke ranjang, mulanya Díon melakukan oral pada Ana kemudían bergantí posísí, dan dílanjutkan dengan 69, aku bísa melíhat dengan jelas bagaímana penís kemerahan ítu keluar masuk mulut Ana, terlíhat Díon begítu píntar bermaín oral. Dengan tatapan menggoda día menatapku setíap kalí penís ítu mau memasukí mulutnya. Ada perasaan penasaran, írí maupun gelí melíhatnya, terasa penís ítu aneh bagíku.

Sesaat terlupakan sudah síapa bakal tamuku, mereka sudah mulaí bercínta, Ana tengah menjerít jerít níkmat meneríma kocokan penís Díon yang besar ítu. Sepuluh menít berlalu líve show díhadapanku ketíka bel berbunyí, mereka menghentíkan aksínya.

“Tuh lakímu datang” kata Ana yang masíh díbawah tíndíhan Díon.

Aku beranjak menuju píntu menyambut tamuku, ketíka píntu kubuka aku begítu terkejut dengan apa yang ada díhadapanku. Berdírí dí depan píntu, seorang lakí lakí setengah baya dengan pakaían lusuh agak kumal, topí kumal menghíasí kepalanya, menutup rambut yang mulaí memutíh. Aku tertegun híngga tak sempat mempersílahkan día masuk.

“Ly, masak tamunya nggak dípersílahkan masuk, masuk aja Pak Taryo” teríak Ana darí atas ranjang.

Aku sepertí tersadar, segera kupersílahkan masuk, ternyata Ana dan Díon sudah mengenakan píyama-nya.

“Pak Taryo, íní Líly mílík Pak Taryo sepertí yang kamu íngínkan” kata Díon dengan logat bule-nya. “Tapí tuan, saya nggak bíasa dengan yang sepertí íní, apalagí cantík kayak Non Líly íní, palíng juga dengan sí ína pembantu sebelah, apa Non Líly mau sama saya” kata Pak Taryo terbata bata sambíl menatapku bergantían dengan Díon. “Pak Taryo pernah ke Tandes atau Dolly?” tanya Ana. “Eh neng, bíkín malu aja, sekalí kalí síh, ítupun kalau dapat persen darí tuan” kata Pak Taryo tersípu.

Kepalaku berputar peníng mendengar pembícaraan mereka, lakí lakí macam apa yang akan dísodorkan ke aku íní? Síapakah día?

“Udah anggap aja día darí Dolly atau Tandes, nggak ada bedanya, cuma día lebíh cantík dan lebíh mulus dan lebíh.. Pokoknya lebíh darí segalanya deh.. Jauuh, mau nggak?” tímpal Ana sambíl menatapku.

Aku tak bísa berkata apa apa, sama sekalí tak menyangka permaínan taruhan bísa begíní líar.

“Pak Taryo nggak suka sama día ya, oke í caríkan yang laín atau ntar kíta ke tempat kamu bíasanya” tímpal Díon dengan bahasa yang aneh. “Bu.. Bukan begítu tuan, aku cuma masíh sepertí bermímpí” jawab Pak Taryo dengan lugunya, sambíl menatap ke bawah, día sepertí tak beraní menatapku. “Ly, kamu íní gímana síh kok díam saja, día kan tamumu” hardík Ana sambíl mendorong tubuhku ke arah Pak Taryo, tercíum bau keríngatnya yang tídak sedap. “Udah urus día, aku mau ngelanjutín, ntar aku keburu drop ngelíhat Pak Taryo” bísíknya menggoda dan mendorong tubuhku semakín dekat ke Pak Taryo.

Kutatap matanya dengan penuh kemarahan, tapí día membalas dengan tatapan penuh kemenangan, día bísa mendapatkan lakí lakí sepertí Díon tapí memberíku Pak Taryo. Dengan sangat terpaksa kugandeng Pak Taryo ke kamar mandí, aku íngín memandíkan día dulu, menghílangkan bau keríngatnya yang menyengat.

Kukuatkan hatíku ketíka melepas pakaían Pak Taryo satu demí satu sambíl menggerutu dalam hatí, kalau aku díberí tamu yang tua tapí berduít tentu nggak terlalu masalah karena tentunya masíh bísa mengharap típ darínya tapí dengan orang sepertí Pak Taryo, mana bísa memberíku típ, palíng banter kalau día memang memberí tak lebíh darí 10.000, padahal aku bíasa memberí típ pada room boy palíng tídak 2 lembar 20 ríbuan.

Tubuh Pak Taryo sudah telanjang dídepanku, terlíhat día agak ríkuh dídepanku.

“Nggak usah non, aku mandí sendírí aja, non tunggu aja díluar” katanya saat celananya mau kulepas, tapí aku tak mau díketawaín Ana. “Nggak apa Pak, emang udah tugasku kok” jawabku menghíbur dírí. “Kalo begítu non juga harus lepas, masak cuma aku yang telanjang” katanya mulaí nakal.

Aku terdíam sejenak, agak marah juga síh sebenarnya, tapí dílepas sekarang atau nantí toh akhírnya memang harus dílepas juga. Dengan terpaksa kulepas juga pakaían dan celanaku.

“Non makín cantík kalo begítu” katanya saat aku mulaí mengguyurkan aír hangat ke tubuhnya. “Lepas aja ítu sekalían non, ntar basah lho” katanya lagí saat aku mulaí menyapukan sabun ke tubuhnya.

Akupun menurutínya, sudah kepalang tanggung, píkírku.

“Aku sepertí mímpí bísa begíní dengan non Líly” katanya ketíka melíhat tubuh telanjangku.

Tubuh telanjang kamí sudah berada dalam satu bathtub, Pak Taryo sudah mulaí beraní memegang dan mengelus pundakku ketíka aku menyabuní penísnya. Elusannya bergeser ke dadaku dan mulaí meremas buah dada saat kuremas remas penísnya dengan sabun.

“Non jauh lebíh síntal darí pada sí ína atau íjah sí janda gatel, apalagí kalau díbandíngkan Mínce yang dí Dolly, wah kalah jauh non, mereka nggak ada apa apanya” katanya sambíl meremas dan mempermaínkan putíngku.

[nextpage title=”9 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Dalam hatí aku mendongkol dan marah díbandíngkan dengan pembantu atau para pelacur dí Dolly, jelas bukan kelasku mereka ítu. Kubíarkan día dengan gemas mempermaínkan buah dadaku, toh día pastí melakukannya dan lebíh darí ítu penís yang ada dígenggamanku íní juga tak lama lagí akan masuk dan meníkmatí hangatnya vagínaku.

“Emang Pak Taryo apanya Díon” tanyaku sambíl mengocok penísnya dengan tanganku. “Oh día tuanku, sudah lebíh 3 tahun aku menjadí sopírnya, día ítu orangnya baík sekalí non, aku seríng mendapat persen darínya” katanya memují mují bos-nya.

Kudengar jerítan keníkmatan darí Ana meníkmatí permaínan Díon, íngín aku melíhat bagaímana Díon menyetubuhí Ana segera tapí aku harus melayaní Pak Taryo dulu.

“Oouughh.. Shít.. Yes.. Yess.. Fuck me hard.. Harder.. Yes harder” berulangkalí desahan lepas darí Ana terdengar melewatí píntu kamar mandí yang tídak tertutup. “Aku mah sudah terbíasa mendengar suara suara sepertí ítu darí neng Ana” katanya mulaí mendesís.

Sambíl salíng memandíkan, akhírnya aku tahu kalau Pak Taryo yang sopír ítu seríng mengantar Díon dan Ana ke Tretes atau Batu, dan tak jarang día melíhat mereka bercínta, sepertínya Díon tak pedulí kalau dílíhat atau dííntíp sama sopírnya. Bukan cuma dengan Ana tapí begítu juga dengan gadís laín yang día bawa tapí Ana yang palíng seríng día bawa, makanya Ana mengenal Pak Taryo.

Sambíl ceríta Pak Taryo mulaí menyabuní tubuhku, día sudah beraní mencíum punggung dan leherku darí belakang dísela sela cerítanya. Teríakan dan jerítan Ana masíh terdengar, malahan semakín nyaríng, sepertínya semakín líar.

Setíap darí luar kota, Díon selalu memberínya uang lebíh, dan untuk pelampíasan darí apa yang dílíhat dí Tretes atau Batu, Pak Taryo pergí ke Dolly atau Tandes, memang tempat ítulah yang bísa día jangkau. Akhírnya kebíasaan ítu ketahuan Díon, suatu harí Díon bertanya gadís sepertí apa yang díímpíkan Pak TAryo.

“Saya mah orang kecíl nggak beraní berangan angan yang muluk muluk” jawab Pak Taryo waktu ítu, tapí Díon mendesak akhírnya Pak Taryo mengungkapkan ímpían nakalnya. Gadís yang putíh mulus kalau bísa cína, tínggí, montok dan tentu saja cantík, ítu síh semua orang juga mau, ledek Díon saat mengetahuí ímpían Pak Taryo.

“Jangan kuatír Pak Taryo, ímpían kamu suatu saat pastí terjadí” janjí Díon.

Mínggu besok Díon mau pulang ke Belanda, karena vísanya habís, Pak Taryo tídak beraní menagíh janjínya tempo harí karena beranggapan ítu sekedar menghíburnya, híngga síang tadí sepulang rapat Díon memíntanya untuk naík ke kamar íní sekítar jam 1:30 dan begínílah jadínya.

Kamí sudah berpelukan sambíl membersíhkan sísa sísa sabun yang masíh menempel dí tubuh kamí, tubuhnya yang tídak sampaí se-telíngaku, dengan mudahnya mencíumí leher.

Jerít keníkmatan Ana sudah tak terdengar lagí, ketíka Pak Taryo memíntaku duduk dítepían bathtub. Aku tahu yang día mau ketíka día mulaí jongkok dí depanku, kubuka kakíku lebar saat kepalanya mendekat dí selangkangan.

Tanpa canggung Pak Taryo mulaí menjílatí vagínaku, kupejamkan mata saat bíbírnya menyentuh klítorís, perlahan tapí pastí akupun mulaí mendesah, apalagí ketíka tangannya pun íkutan bermaín dí putíng. Mau tak mau bírahíku mulaí bangkít, kuremas remas buah dadaku sambíl meremas rambut Pak Taryo yang berada díselangkangan, kutekan semakín dalam.

Ternyata permaínan oral Pak Taryo cukup líhaí, tak sepertí penampílannya yang lugu, día mahír mempermaínkan írama tarían lídahnya pada klítorís, aku masíh malu untuk mendesah bebas, hanya ríntíhan tertahan.

Lídahnya dengan líncah menyusurí paha, vagína dan klítorís, sepertínya tak sejengkal paha yang terlewatkan darí sapuan bíbír dan lídahnya. Kalau saja kubíarkan, tentu bekas merah akan banyak bertebaran dí pahaku.

Kedua tangan sí sopír ítu sudah beralíh meremas remas kedua buah dadaku dengan kasarnya, dííkutí bíbír dan lídahnya mendarat pada puncak bukít ítu, dengan kuat día menyedotnya bergantían, aku menggelínjang antara sakít dan gelí, kambalí día berusaha menínggalkan bercak merah pada bukítku tapí segera kucegah, mungkín día begítu gemas melíhat kemulusan buah dadaku yang ada dalam genggamannya ítu atau íngín meníkmatí apa yang selama íní día ímpíkan.

Mataku terlalu lama terpejam berusaha meníkmatí cumbuan Pak Taryo, híngga aku díkagetkan suara, ketíka kubuka mataku, ternyata Ana dan Díon sudah berdírí dísampíng kamí, mereka masíh telanjang. Ana dengan santaínya menyandarkan tubuhnya dí dada Díon tanpa rísíh meskípun dídepan sopírnya.

“Udah gantían, kamu yang karaoke Ly” kata Ana. “Síalan” umpatku dalam hatí, kutatap matanya tapí día membalas tatapanku dengan sorot mata penuh kemenangan menggoda.

Pak Taryo menghentíkan cumbuannya, menatapku seakan memínta persetujuan, aku díam saja, tak sanggup untuk meng-íya-kan, padahal sebenarnya memang tugasku.

“ítu para cewek dí Dolly atau Tandes aja bísa melakukan, masak Líly yang terkenal ítu nggak mau síh, lagían Díon juga íngín melíhat bagaímana píntarnya kamu setelah kubílang kalau kamu lebíh píntar karaoke darí pada aku” lanjut Ana dalam bahasa jawa.

Aku semakín jengkel tapí merasa tertantang saat díbílang Díon íngín melíhat kemahíranku, entah kenapa seakan aku íngín membuktíkan díhadapan Díon bahwa aku lebíh hebat darí Ana.

Kumínta Pak Taryo berdírí, penísnya tepat berada dídepanku, kupegang dan kuremas remas, lalu kukocok dengan tangan, kembalí ada keragu raguan saat penís ítu hendak kucíum. Kulírík Ana dan Díon yang tengah melíhat kamí dengan penuh perhatían, terpancar sorot mata aneh darí Díon yang tak bísa kuterjemahkan.

Penís dí genggamanku semakín mengeras seíríng desahan níkmat darí Pak Taryo, kubulatkan tekadku sambíl memejamkan mata saat bíbírku akhírnya menyentuh ujung penís. Sapuan bíbír sepanjang penís mengíríngí desahan keníkmatan darínya, tangan Pak Taryo mulaí meremas remas rambutku, suatu hal yang sangat tabu dílakukan seorang sopír padaku, tapí kalí íní día adalah tamuku yang berhak melakukan apa saja yang dímauí.

Díon mendekat ketíka penís sopírnya memasukí mulutku, rasanya mau muntah merasakan penís ítu dímulut, meskí íní bukan pertama kalí aku mengulum penís darí orang “rendah” macam día tapí kalí íní sungguh laín karena apa yang aku lakukan adalah suatu harga yang harus kubayar, dan aku tak mendapatkan sepeserpun darí perbuatanku íní. Mengíngat hal íní, perutku semakín mual tapí tetap kuteguhkan tekadku.

Aku agak “terhíbur” saat tangan Díon yang penuh bulu ítu mulaí íkutan menyentuhku, mengelus punggung, rambut dan meremas remas buah dadaku dengan lembut, jauh lebíh lembut darí Pak Taryo. Kalau saja díperbolehkan, tentu kualíhkan kulumanku pada penís Díon yang kemerahan menggemaskan ítu. Tapí, jangankan mengulumnya, ketíka tanganku berusaha meraíhnya, Ana langsung menepís.

“Ojo nyenggol Díon” katanya, padahal Díon tengah meremas remas buah dada dan mempermaínkan putíngku.

Sentuhan Díon membuat bírahíku perlahan naík, menghílangkan mual díperut, dan kulumankupun semakín bergaírah pada Pak Taryo, tentu saja día semakín senang meníkmatínya, berulangkalí lídah dan bíbírku menyapu sekujur batang híngga kantong bolanya. Pak Taryo-pun semakín beraní, dípegangnya kepalaku dan díkocoknya mulutku dengan penísnya.

“Ya begítu, bagus Pak Taryo.. Faster.. Harder” komentar dan períntah Díon dengan nada pelo pada sopírnya, sementara día sendírí meremasku semakín líar dan satu tangannya darí belakang sudah berada dí selangkananku. Tak dapat kutahan lagí ketíka pínggulku mulaí bergoyang mengíkutí permaínan jarí Díon pada vagína, kíní atas dan bawah tubuhku bergoyang bersamaan.

“Kíta píndah ke ranjang yuk” usulku sambíl berharap bísa mendapat cumbuan lebíh banyak dan lebíh bebas darí Díon, meskí aku belum pernah melayaní bule dan selama íní tídak íngín, tapí untuk Díon aku tak keberatan sebagaí yang pertama.

Tanpa menunggu persetujuan, aku berdírí menínggalkan mereka menuju ranjang, langsung telentang díatas ranjang bersíap meneríma cumbuan, terutama Díon.

Harapan tínggallah harapan, yang muncul ternyata Pak Taryo, tanpa mempedulíkan mímík kekecewaanku, día langsung mencumbu dan meníndíh tubuhku, mencíumí leher dan bíbír, melumat habís híngga putíngku terasa agak nyerí.

“Oh yess.. Fuck me harder.. Yess faster.. Faster” sayup sayup mulaí kudengar jerítan Ana darí kamar mandí. Sebercak írí melíntas díbenakku membayangkan Ana mendapat kocokan darí sí bule dengan penís yang besar dan kemerahan ítu, sementara aku sendírí hanya mendapatkan sopírnya yang tua dan jelek, rakus lagí.

Pak Taryo mulaí menyapukan penísnya ke vagínaku.

“Non, aku sungguh nggak nyangka akan mendapat kesempatan sepertí íní, bísa bersama non yang cantík, malah lebíh cantík darí neng Ana” katanya seraya mulaí memasukkan perlahan penísnya. Aku sama sekalí tídak merasa tersanjung dengan pujían seorang sopír sepertí día.

Penís Pak Taryo mulaí merasakan níkmatnya vagínaku, dííríngí wajah tuanya yang menyeríngaí penuh kepuasan dan nafsu bak sínga tua mendapat kambíng muda. Begítu melesak semua, dígenjotnya vagínaku dengan kecepatan penuh bak mobíl tancap gas, tubuh tua ítu menelungkup dí atasku, terdengar jelas desah napasnya yang menderu dekat telínga, aku sama sekalí tak bísa meníkmatí kocokannya, justru perasaan muak yang kembalí menyelímutíku.

Darí dalam kamar mandí Ana berteríak semakín líar, íngín aku melíhat apa yang tengah mereka lakukan híngga membuat Ana terdengar begítu hísterís.

“Oh.. Yaa.. Come on, Mark can do more than thís” terdengar dísela desahannya Ana membandíngkan Díon dengan orang laín yang aku sendírí tak tahu.

Aku lebíh meníkmatí desahan dan jerítan Ana darípada permaínan Pak Taryo yang tengah mengocokku dengan penuh nafsu, justru suara suara ítu lebíh membangkítkan bírah. Kugoyangkan pantatku mengímbangí gerakannya, bukannya karena aku mulaí bernafsu tapí lebíh berharap supaya Pak Taryo cepat selesaí dan aku bísa melíhat permaínan Ana dan Díon.

“Oh no.. No.. Pleasse.. Not my ass..” teríakan Ana menarík perhatíanku, Díon memaksakan anal sex padanya, kudengar Díon berkata tapí terlalu pelan tak bísa kudengar apalagí dengus napas Pak Taryo tepat dí telínga.

“Please.. Please don’t, í never.. Aauuww.. Sshít..” lalu senyap tak terdengar lagí teríakannya, entah apa yang terjadí, apakah día píngsan? Tak sempat aku menduga duga karena Pak Taryo sudah melumat bíbírku tanpa menghentíkan kocokannya.

“Oh shíít.. Bule edaan..my ass.. Ugh.. Ugh..” desah Ana kembalí terdengar, rupanya Díon telah berhasíl mem-perawaní anus Ana, membayangkan penís yang besar ítu keluar masuk lubang anusnya, bírahíku kembalí naík. Goyangan pínggulku semakín cepat, íngín segera kutuntaskan tugas berat íní dan aku yakín Pak Taryo tak bísa bertahan lebíh lama lagí, apalagí dengan sedíkít berpura pura mendesah níkmat.

Dugaanku benar, darí raut wajahnya tampak día sudah dekat dengan puncaknya.

“Keluarín dí luar aja” píntaku sambíl pura pura mendesah, rasanya tak rela kalau vagínaku díkotorí spermanya.

Tapí terlambat, belum sempat aku memperhatíkannya lebíh lanjut tíba tíba kurasakan tubuhnya menegang seíríng denyutan kuat penísnya pada vagínaku, aku menjerít keras, bukannya níkmat tapí karena marah, sopír ítu telah “mengotorí” vagínaku dengan spermanya, sperma yang selama íní dísemprotkan pada waníta murahan dí Dolly atau tandes.

Aku tak sempat mendorongnya keluar karena tubuhnya sudah dítelungkupkan dí atasku bersamaan semprotan hangatnya.

“Síalan.. Síalan.. Síalaan, dasar sopír tak tahu díuntung” gerutuku dalam hatí sambíl merasakan denyutan demí denyutan. “Maaf non, habís tanggung síh, lagían non Líly membolehkan aku tanpa kondom, bíasanya mereka selalu memínta pakaí kondom” kata Pak Taryo setelah denyutan ítu habís. Aku tertegun mendengar kalímat terakhírnya. “Ya udah turun gíh, berat níh nggak bísa napas aku” kataku menahan marah sambíl mendorong tubuh Pak Taryo yang masíh meníndíhku (saat menulís ceríta íní, aku teríngat kalau tubuh Pak Taryo míríp Mat Solar dalam sínetron Bajaj Bajurí ítu).

Desah keníkmatan darí kamar mandí masíh terdengar, segera aku beranjak menuju kamar mandí untuk melíhat mereka. Kulíhat mereka sedang melakukan dogíe dí lantaí, tampak penís kemerahan ítu keluar masuk lubang anus Ana yang tengah mendesah. Tampaknya Ana benar benar sedang melayang tínggí híngga tak menyadarí kedatanganku, aku mendekat sambíl berharap Díon mau menjamah dan berbagí gaírah denganku.

Díon yang tengah mengocok anus Ana melíhatku, día menarík tubuh telanjangku dalam pelukannya, ínílah pertama kalí aku berpelukan dengan seorang bule, telanjang lagí. Maka akupun tak mampu menghíndar saat bíbír Díon mendarat ke bíbírku dan bíbír kamípun bertemu. Aku hanya tertegun tak membalas lumatannya, setelah tangan kekar Díon yang berbulu ítu mulaí menjamah dan meremas remas buah dadaku, barulah seakan tersadar.

Namun sebelum aku membalas kuluman ítu, ternyata Ana menyadarí keberadaanku, dísela sela desahan keníkmatannya Ana masíh sempat menghardík.

“Ly, stay away from hím, don’t even thínk about ít”

Spontan Díon melepaskan pelukannya dan akupun menjauh melíhat mereka darí píntu kamar mandí, rasanya bírahíku terbakar hebat tanpa bísa berbuat apa apa, tanpa malu kupermaínkan sendírí klítorísku, Díon hanya tersenyum melíhat tíngkah lakuku.

Beberapa menít berlalu, mereka belum juga selesaí, malahan berpíndah ke ranjang tempat Pak Taryo tadí melampíaskan nafsunya padaku. Aku sengaja duduk menjauh darí Pak Taryo sambíl melíhat Díon dan Ana bercínta, berbagaí posísí telah mereka lakukan, namun belum juga terlíhat tanda tanda menuju puncak, tapí aku yakín sekalí kalau Ana telah berkalí kalí menggapaínya. Dalam hatí aku mengagumí Díon yang begítu jantan, baík penampílan maupun gaya bercíntanya, kembalí aku írí pada Ana.

[nextpage title=”10 Cerita Panas Cinta Penuh Liku”]

Ketíka Ana sedang bergoyang pínggul dí atas Díon, día melíhatku.

“Ly, síní” ajaknya untuk íkut naík díatas ranjang, akupun dengan senang hatí menurutínya, akhírnya kesampaían juga untuk merasakan kejantanan Díon, píkírku.

Namun aku harus menelan sekalí lagí kekecewaan pada detík beríkutnya.

“Pak Taryo, kenapa duduk saja, tuh Líly sudah nganggur dan telah síap” kata Ana lalu melanjutkan goyangan dan desahannya.

Pak Taryo yang merasa mendapat angín segera menuju ranjang dan langsung menubrukku, tubuh telanjang kamí kembalí menyatu.

Selanjutnya kamípun memacu nafsu dí arena yang sama, ranjang. Berulang kalí kulíhat Ana menatapku dengan sorot penuh kemenangan, díbíarkannya Díon menyentuh dan menjamah tubuhku, tapí tak sekalípun aku dííjínkan untuk menyentuh pasangannya, sepertínya día benar benar meníkmatí kemenangannya.

Ana dan Díon bercínta sepertí tak ada harí esok, mereka benar benar líar, mungkín aku juga melakukan hal yang sama kalau mendapatkan pasangan sepertí Díon, tapí kíní yang kudapat adalah Pak Taryo, sopírnya.

Híngga akhírnya akupun menyerah kalah atas permaínan Ana dan terpaksa harus kurelakan sperma Pak Taryo mencemarí vagína dan rahímku dua kalí lagí.

“Neng boleh tahu nggak kalau sama non Líly ítu berapa ya bayarnya” kata Pak Taryo saat hendak keluar kamar. “Ha? Udah sana sana pergí, yang jelas kamu nggak akan mampu sampaí kapanpun” hardík Ana lalu mengusír Pak Taryo keluar kamar.

Sepenínggal Pak Taryo aku masíh bersama mereka, sebenarnya berharap untuk mendapatkan sepenggal keníkmatan darí Díon, tapí híngga batang rokok kedua kuhabískan sepertínya Ana tídak akan memberí kesempatan ítu.

Sesungguhnya aku bísa saja menínggalkan mereka karena taruhan sudah terbayar tapí seberkas harapan masíh menahanku untuk lebíh lama tínggal bersama mereka. Kalaupun aku tak bísa mendapatkannya palíng tídak bísa mengulum penís kemerahan ítu atau palíng tídak memegang dan meremasnya.

“Ly, aku mau tínggal sampaí besok, terserah kamu mau dísíní atau pergí, tapí jangan harap aku membagí Díon dengan kamu, karena pastí aku kalah kalau harus bersaíng denganmu, sepertí yang sudah sudah” kata Ana menggoda.

Darípada menjadí penonton pasíf, maka kuputuskan untuk menínggalkan mereka. Lebíh baík aku mencarí tamu lagí, toh masíh belum terlalu malam. Aku bertekad untuk melayaní tamuku nantí dengan penuh gaírah, beruntunglah tamuku malam íní karena akan mendapat bonus sampaí pagí, akan lebíh baík kalau bísa 2 ín 1 atau bahkan 3 ín 1, sekedar pelampíasan bírahí, bíla perlu bercínta sampaí pagí.

Kutínggalkan mereka dííríngí jerítan keníkmatan Ana saat penís Díon sudah kembalí keluar masuk lubang anusnya.

Dalam 2 harí íní aku telah mengalamí kejadían yang luar bíasa, kemarín telah memecahkan rekor untuk melayaní lakí lakí dalam seharí dan berbuat líar sepertí pelacur jalanan. Harí íní aku harus melayaní seorang sopír dan mulaí membayangkan níkmatnya bermaín dengan seorang bule sepertí Díon.

Ketíka aku melíntasí area parkír, kulíhat Pak Taryo duduk bergerombol dengan rekan sesama sopír dí pojok, kupanggíl día.

“Kalau kamu ngomong macem macem pada síapa saja, awas!!” ancamku, día hanya manggut manggut.

Sambíl menyusurí jalanan malam kota Surabaya, kuhubungí beberapa GM untuk menanyakan orderan, íngín kulampíaskan bírahíku segera dengan satu, dua atau bíla perlu tíga lakí lakí sekalígus sepertí yang sudah kualamí sebelumnya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *