0

Cerita Panas Cinta Atau Nafsu

cerita-panas-cinta-atau-nafsuCerita Panas quixotepff.com Cinta Atau Nafsu, Cerita Mesum quixotepff.com Cinta Atau Nafsu, Cerita quixotepff.com Cinta Atau Nafsu, Cerita Dewasa quixotepff.com Cinta Atau Nafsu Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Cinta Atau Nafsu, Cerita Hot quixotepff.com Cinta Atau Nafsu

Pagí ítu aku bangun kesíangan, seísí rumah rupanya sudah pergí semua. Akupun segera mandí dan berangkat ke kampus. Meskípun harí ítu kulíah sangat padat, píkíranku nggak bísa konsentrasí sedíkítpun, yang aku píkírkan cuma Raní. Aku pulang kerumah sekítar jam 3 sore, dan rumah masíh sepí. Kemudían ketíka aku sedang nonton TV dí ruang keluarga sehabís gantí baju, Raní keluar darí kamarnya, sudah berpakaían rapí. Día mendekat dan mukanya menunduk.

“Dodí, kamu ada acara nggak? Temaní aku nonton dong..”
“Eh.. apa? íya, íya aku nggak ada acara, sebentar yah aku gantí baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru gantí baju dengan jantung berdebaran. Setelah síap, akupun segera mengajaknya berangkat. Raní menyarankan agar kamí pergí dengan mobílnya. Aku segera mengeluarkan mobíl, dan ketíka Raní duduk dí sebelahku, aku baru sadar kalau día memakaí rok pendek, sehíngga ketíka duduk ujung roknya makín ke atas. Sepanjang perjalanan ke bíoskop mataku nggak bísa lepas melírík kepahanya.

Sesampaínya díbíoskop, aku beraníkan memeluk pínggangnya, dan Raní tídak menolak. Dan sewaktu mengantrí dí loket aku peluk día darí belakang. Aku tahu Raní merasa penísku sudah tegang karena menempel dí pantatnya. Raní meremas tanganku dengan kuat. Kíta memesan tempat duduk palíng belakang, dan ternyata yang nonton nggak begítu banyak, dan dísekelílíng kíta tídak dítempatí. Kíta segera duduk dengan tangan masíh salíng meremas. Tangannya sudah basah dengan keríngat díngín, dan mukanya selalu menunduk. Ketíka lampu mulaí dípadamkan, aku sudah tídak tahan, segera kuusap mukanya, kemudían aku dekatkan ke mukaku, dan kíta segera bercíuman dengan gemasnya. Lídahku dan lídahnya salíng berkaítan, dan kadang-kadang lídahku dígígítnya lembut. Tanganku segera menyelínap ke balík bajunya. Dan karena tídak sabar, langsung saja aku selínapkan ke balík BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kírí aku remas dengan gemas. Mulutku langsung díísap dengan kuat oleh Raní. Tangankupun semakín gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putíngnya, begítu terus, kemudían píndah ke susu yang kanan, dan Raní mulaí mengerang dí dalam mulutku, sementara penísku semakín meronta menuntut sesuatu.

Kemudían tanganku mulaí mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakín naík ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku síngkap ke atas, sehíngga sambíl bercíuman, dí keremangan cahaya, aku bísa melíhat celana dalamnya. Dan ketíka tanganku sampaí dí selangkangannya, mulut Raní berpíndah mencíumí telíngaku sampaí aku terangsang sekalí. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelínap ke balík celana dalamnya, dan mulaí memaínkan clítorísnya. Aku elus-elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudían aku putar-putar, makín lama makín cepat, dan makín lama makín cepat. Tíba-tíba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepít telapak tanganku, sedangkan kupíngku dígígítnya sambíl mendesís-desís. Badanya tersentak-sentak beberapa saat.
“Dodí.. aduuhh.., aku nggak tahan sekalí.., berhentí dulu yaahh.., nantí dírumah ajaa..”, ríntíhnya. Akupun segera mencabut tanganku darí selangkangannya.
“Dodí.., sekarang aku maínín punya kamu yaahh..”, katanya sambíl mulaí meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu día dengan aku buka rítsluítíng celana, kemudían tangannya menelusup, merogoh, dan ketíka akhírnya menggenggam penísku, aku merasa níkmat luar bíasa. Penísku dítaríknya keluar celana, sehíngga mengacung tegak. “Dodí.., íní sudah basah.., caírannya lícín..”, ríntíhnya díkupíngku sambíl mulaí dígenggam dengan dua tangan. Tangan yang kírí menggenggam pangkal penísku, sedangkan yang kanan ujung penísku dan jarí-jarínya mengusap-usap kepala penís dan meratakan caírannya. “Raní.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakín menjadí-jadí. Aku merasa penísku sudah keras sekalí. Raní meremas dan mengurut penísku semakín cepat. Aku merasa spermaku sudah hampír keluar. Aku bíngung sekalí karena takut kalau sampaí keluar bakal muncrat kemana-mana.
“Raní.., aku hampír keluar níh.., berhentí dulu deh..”, kataku dengan suara yang nggak yakín, karena masíh keenakan.
“Waahh.., Raní belum mau berhentí.., punya kamu íní bíkín aku gemes..”, rengeknya
“Terus gímana.., apa enaknya kíta pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketíka Raní mengangguk setuju, segera kurapíkan celanaku, juga pakaían Raní, dan segera kíta keluar bíoskop meskípun fílmnya belum selesaí. Dí mobíl tangan Raní kembalí mengusap-usap celanaku. Dan aku díam saja ketíka día buka rítsluítíngku dan menelusupkan tangannya mencarí penísku. Aduh, rasanya níkmat sekalí. Dan penísku makín berdenyut ketíka día bílang, “Nantí aku boleh nyíum ítunya yah..”. Aku pengín segera sampaí ke rumah.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Cinta Atau Nafsu”]

Dan, akhírnya sampaí juga. Kíta berjalan sambíl berpelukan erat-erat. Sewaktu Raní membuka píntu rumah, día kupeluk darí belakang, dan aku cíumí sampíng lehernya. Tanganku sudah menyíngkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pínggul dan pantatnya dengan gemas. Raní aku bímbíng ke ruang keluarga. Sambíl berdírí aku cíumí bíbírnya, aku lumat habís mulutnya, dan día membalas dengan sama gemasnya. Pakaíannya kulucutí satu persatu sambíl tetap bercíuman. Sambíl melepas bajunya, aku mulaí meremasí payudaranya yang masíh díbalut BH. Dengan tak sabar BH-nya segera kulepas juga. Kemudían roknya, dan terakhír celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok dí karpet.

Badannya yang telanjang aku peluk erat-erat. íní pertama kalínya aku memeluk seorang gadís dengan telanjang bulat. Dan gadís íní adalah Raní yang seríng aku ímpíkan tapí tídak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada dí depan mataku. Kemudían tangan Raní juga melepaskan bajuku, kemudían celana panjangku, dan ketíka melepas celana dalamku, Raní melakukannya sambíl memeluk badanku. penísku yang sudah memanjang dan tegang sekalí segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya níkmat sekalí ketíka kulít kamí yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bíbír kamí salíng melumat dengan nafas yang semakín memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasí payudaranya dengan bergantían. Tangan Raní juga sudah menggenggam dan mengelus penísku. Badan Raní bergelínjangan, dan darí mulutnya keluar ríntíhan yang semakín membangkítkan bírahíku. Karena rumah memang sepí, kíta jadí mengerang dengan bebas.

Kemudían sambíl tetap meremasí penísku, Raní mulaí merendahkan badannya, sampaí akhírnya día berlutut dan mukanya tepat dídepan selangkanganku. Matanya memandangí penísku yang semakín keras dí dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penísku terus díníkmatí, dípandangí tanpa berkedíp, dan rupanya makín membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulaí dídekatkan kekepala penísku. Aku melíhatnya dengan gemas sekalí. Kepalaku sampaí terdongak ketíka akhírnya bíbírnya mengecup kepala penísku. Tangannya masíh menggenggam pangkal penísku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulaí mengecupí kepala penísku berulang-ulang, kemudían memakaí lídahnya untuk meratakan caíran penísku. Lídahnya memutar-mutar, kemudían mulutnya mulaí mengulum dengan lídah tetap memutarí kepala penísku. Aku semakín mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penísku sampaí terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampaí ke tenggorokannya. Rasanya níkmat sekalí. Kemudían pelan-pelan penísku dísedot-sedot dan dímaju-mundurkan dí dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penísku semakín terasa níkmat. ísapan mulut dan lídahnya yang melíngkar-língkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagí sewaktu Raní melakukannya semakín cepat, dan semakín cepat, dan semakín cepat.

Ketíka akhírnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarík penísku darí mulutnya. Tapí Raní menahannya dan tetap mengísap penísku. Maka akupun nggak bísa menahan lebíh lama lagí, spermaku muncrat dí dalam mulutnya dengan rasa níkmat yang luar bíasa. Spermaku langsung dítelannya dan día terus mengísapí dan menyedot penísku sampaí spermaku muncrat berkalí-kalí. Badanku sampaí tersentak-sentak merasakan keníkmatan yang tíada taranya. Meskípun spermaku sudah habís, mulut Raní masíh terus menjílat. Akupun akhírnya nggak kuat lagí berdírí dan akhírnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kíta berbaríng dí karpet dengan mata terpejam.
“Thanks ya Ran, tadí ítu níkmat sekalí”, kataku berbísík
“Ah.., aku juga suka kok.., makasíh juga kamu ngebolehín aku maínín kamu..”.
Kemudían ujung hídungnya aku kecup, matanya juga, kemudían bíbírnya. Mataku memandangí tubuhnya yang terbaríng telanjang, alangkah índahnya. Pelan-pelan aku cíumí lehernya, dan aku merasa nafsu kíta mulaí naík lagí. Kemudían mulutku turun dan mencíumí payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulaí meremas susu yang kírí. Raní mulaí menggelíat-gelíat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memaínkan susu dan putíngnya. Aku terus mencíumí untuk beberapa saat, dan kemudían pelan-pelan aku mulaí mengusapkan tanganku keperutnya, kemudían kebawah lagí sampaí merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampaí mulutnya mencíumí telíngaku. Pahanya mulaí aku renggangkan sampaí agak mengangkang. Kemudían sambíl mulutku terus mencíumí payudaranya, jaríku mulaí memaínkan clítorísnya yang sudah mulaí terangsang juga. Caíran keníkmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clítorísnya, dan semakín lícín clítorís serta líang kewanítaannya, membuat Raní semakín menggelínjang dan mengerang. clítorísnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantían.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Cinta Atau Nafsu”]

“Ahh.., Dodíí.., aahh.., teruss.., aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pínggulnya mulaí bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulaí terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampaí akhírnya mukaku tepat dí selangkangannya. Kedua kakínya aku lípat ke atas, aku pegangí dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehíngga líang kewanítaan dan clítorísnya terbuka dí depan mukaku. Aku tídak tahan memandangí keíndahan líang kewanítaannya. Lídahku langsung menjulur dan mengusap clítorís dan líang kewanítaannya. Caíran surganya kusedot-sedot dengan níkmat. Mulutku mencíumí bíbír kemaluannya dengan ganas, dan lídahku aku selíp-selípkan ke lubangnya, aku kaít-kaítkan, aku gelítíkí, terus begítu, sampaí pantatnya terangkat, kemudían tangannya mendorong kepalaku sampaí aku terbenam dí selangkangannya. Aku jílatí terus, clítorísnya aku putar dengan lídah, aku ísap, aku sedot, sampaí Raní meronta-ronta. Aku merasa penísku sudah tegak kembalí, dan mulaí berdenyut-denyut.

“Dodíí.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalíí..”, ríntíhnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran caíran kewanítaannya yang semakín membuat nafsuku tídak tertahankan. Kemudían aku lepaskan mulutku darí líang kewanítaannya. Sekarang gílíran penísku aku usap-usapkan ke clítorís dan bíbír kemaluannya, sambíl aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya níkmat sekalí ketíka penísku dígeser-geserkan dílíang senggamanya. Raní juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya íkut ngebantu dan menekan penísku dígeser-geserkan dí clítorísnya.
“Raníí.., aahh.., enakk.., aahh..”
“aahh.., íya.., eennaakk sekalíí..”.
Kíta salíng meríntíh. Kemudían karena penísku semakín gatal, aku mulaí menggosokkan kepala penísku ke bíbír kemaluannya. Raní semakín menggelínjang. Akhírnya aku mulaí mendorong pelan sampaí kepala penísku masuk ke líang senggamanya.
“Aduuhh.. Dodíí.., saakíítt.., aadduuhh.., jaangaann..”, ríntíhnya
“Tahan dulu sebentar.., Nantí juga ílang sakítnya..”, kataku membujuk

Kemudían pelan-pelan penísku aku keluarkan, kemudían aku tekan lagí, aku keluarkan lagí, aku tekan lagí, kemudían akhírnya aku tekan lebíh dalam sampaí masuk hampír setengahnya. Mulut Raní sampaí terbuka tapí sudah nggak bísa bersuara. Punggungnya terangkat darí karpet menahan desakan penísku. Kemudían pelan-pelan aku keluarkan lagí, aku dorong lagí, aku keluarkan lagí, terus sampaí día tenang lagí. Akhírnya ketíka aku mendorong lagí kalí íní aku dorong sampaí amblas semuanya ke dalam. Kalí íní kíta sama-sama mengerang dengan keras. Badan kíta berpelukan, mulutnya yang terbuka aku cíumí, dan pahanya menjepít pínggangku dengan keras sekalí sehíngga aku merasa ujung penísku sudah mentok ke díndíng kemaluannya. Kíta tetap berpelukan dengan erat salíng mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kíta salíng mengísap dengan kuat. Kamí sama-sama merasakan keenakan yang tíada taranya. Setelah ítu pantatnya sedíkít demí sedíkít mulaí bergoyang, maka akupun mulaí menggerakkan penísku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makín cepat, makín cepat, dan goyangan pantat Raní juga semakín cepat.
“Dodíí.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampír nííhh..”, ríntíhnya.
“íya.., níhh.., tahan dulu.., aku juga hampír.., kíta bareng ajaa..”, kataku sambíl terus menggerakkan penís makín cepat. Tanganku juga íkut meremasí susunya. Penísku makín keras kuhujam-hujamkan ke dalam líang surganya sampaí pantatnya terangkat darí karpet. Dan aku merasa líang senggamanya juga mengurutí penísku dí dalam. penís kutarík dan tekan semakín cepat, semakín cepat.., dan semakín cepat..”.
“Raaníí.., aku mau keluar nííhh..”.
“íyaa.., keluarín saja.., Raní juga keluar sekarang nííhh”.
Akupun menghunjamkan penísku keras-keras yang dísambut dengan pantat Raní yang terangkat ke atas sampaí ujung penísku menumbuk díndíng kemaluannya dengan keras. Kemudían pahanya menjepít pahaku dengan keras sehíngga penísku makín mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Líang kewanítaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyíramí líang senggamanya.
“aahh.., aahh.., aahh..”, kíta sama-sama mengerang, dan líang kewanítaannya masíh berdenyut, mencengkeram penísku, sehíngga spermaku berkalí-kalí menyembur. Pantatnya masíh juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehíngga penísku sepertí díperas. Kíta orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertínya nggak akan berakhír. Pantatku masíh dítahan dengan tangannya, pahanya masíh menjepít pahaku erat-erat, dan líang senggamanya masíh berdenyut meremas-remas penísku dengan enaknya sehíngga sepertínya spermaku keluar semua tanpa bersísa sedíkítpun.
“aahh.., aahh.., aduuhh..”, kíta sudah nggak bísa bersuara lagí selaín mengerang-erang keenakan.

[nextpage title=”4 Cerita Panas Cinta Atau Nafsu”]

Ketíka sudah mulaí kendur, aku cíumí Raní dengan penís masíh dí dalam líang senggamanya. Kíta salíng bercíuman lagí untuk beberapa saat sambíl salíng membelaí. Aku cíumí terus sampaí akhírnya aku menyadarí kalau Raní sedang menangís. Tanpa berbícara kíta salíng menghíbur. Aku menyadarí bahwa selaput daranya telah robek oleh penísku. Dan ketíka penísku aku cabut darí sela-sela líang kewanítaannya memang mengalír darah yang bercampur dengan spermaku. Kamí terus salíng membelaí, dan Raní masíh mengísak dí dadaku, sampaí akhírnya kíta berdua tertídur kelelahan dengan berpelukan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *