Cerita Panas Akibat Suami Kurang Memuaskan

77669 views

cerita-panas-akibat-suami-kurang-memuaskanCerita Panas quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan, Cerita Mesum quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan, Cerita quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan, Cerita Dewasa quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan Terbaru. Cerita Sex quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan, Cerita Hot quixotepff.com Akibat Suami Kurang Memuaskan

Ada pemeo para ístrí yang kecewa pada suamínya karena suka berselíngkuh, “Jangan tínggalkan suamímu, kasíhan anak-anak. Tunjukkan saja bahwa kamu juga bísa (selíngkuh)”. ítulah yang aku atau tepatnya kamí íngín lakukan sekarang.

Pada awalnya aku sangat marah dan rasanya dunía íní menjadí gelap saat mendengar suamíku selíngkuh engan teman kantornya. Namun índrí, tetanggaku memberí nasehat sebagaímana tersebut dí atas.

“Kamu bísa langsung pergí ke Proyek Senen begítu yakín bahwa masmu selíngkuh. Dísana kamu bísa nongkrong dí Warung Cendol atau Bakso Super yang banyak díkunjungí íbu-íbu. Tídak akan lebíh darí 10 menít kamu akan dídekatí lelakí. Mungkín bapak-bapak, mungkín Oom-Oom, mungkín Mas-Mas, mungkín adík-adík atau bahkan anak-anak. Mereka ítu mínat untuk kencan dengan kamu. Kamu bísa pílíh yang sesuaí dengan seleramu”. Duh, duuhh.. Lancarnya berondongan ceríta darí mulut índrí.
“Kalau nggak percaya, ayoo.. Aku juga pengín íseng, níh..”.

Bagí índrí cukup masuk akal. Suamínya yang berlayar hanya pulang 6 bulan sekalí. Día memerlukan híburan macam dí Warung Cendol atau Bakso Super tadí. Tetapí aku khan tak perlu sejauh ítu. Namun mendengarkan cerocosan mulut índrí lama-lama asyík juga.

“Mír, níh dengerín ya. ítu tídak cuma dí Senen. Kalau mau carí Chína pergí ke Mangga Dua, nongkrong dí KFC atau Mc Donald atau dí kafe lantaí bawah. Dí sana banyak cína yang pengín banget ngerasaín memek orang Jawa. Kamu akan mendapatkan keníkmatan sekalígus uang. Mereka royal untuk dapat memek lu”, Uííhh.. Uííhh..
“Kalau dí Senen tadí kebanyakan orang Sumatera, ada Padang, Batak atau Palembang”.
“Kalau mau Arab, kamu pergí saja ke Pasar Tanah Abang. Pura-pura saja belí kaín sarung atau batík”.
“Kalau mau sopír truk, tukang buah atau juragan sayur pergílah ke Pasar índuk. Ha, ha, ha..”.

Walaupun aku kesal sama Mas Adít karena seríng dengar ceríta darí mulut ke mulut tentang pacarnya yang bergantí-gantí, aku tetap tídak akan sejauh ítu. Namun darí berbagaí sumber akhírnya aku tahu bahwa apa yang dícerítakan índrí adalah benar adanya.

Dengarkanlah kísah mereka..

Dí Atas Kíjang Yordanían

Dalam rangka persíapan perkawínan putrí pertamaku aku perlu menyempatkan dírí nyarí kaín untuk berbagaí keperluan upacara. Darí teman tetangga aku díberí ínformasí bahwa dí Pasar Tanah Abang banyak díjual bermacam-macam kaín sesuaí keperluanku. íseng-íseng mumpung suamíku lagí kerja aku pergí sendírí ke Pasar Tanah Abang.

Ternyata benar. Dí tempat ítu banyak kíos-kíos yang menjual berbagaí macam kaín. Rencanaku harí íní hanyalah sekedar melíhat-líhat lebíh dulu. Aku memasukí sebuah toko yang terang benderang. Dí etalasenya nampak terpajang beratus-ratus pílíhan kaín lokal maupun ímport. Mataku tak bosan-bosan memandangí koleksí toko íní híngga tak kusadarí ada seseorang yang mengíkutí aku,

“Pílíh yang mana Bu?”, rupanya aku sedang berhadapan dengan pemílík toko.

Seorang yang masíh muda, aku taksír belum 30 tahun. Darí sosoknya yang tínggí jangkung dengan wajah Semít berkumís dan jambang día tersenyum padaku sambíl menawarkan barang dagangannya. Tampang dan warna kulítnya yang putíh bersíh nampaknya día berasal darí Yordanía. Memang orang Yordanía terkenal kulítnya putíh hampír mendekatí Eropah. Wanítanya juga terkenal kecantíkannya. Tentu saja lelakínya ya.. Banyak yang tampan macam pemílík toko dí hadapanku sekarang íní.

“Nggaakk.. Aku baru senang melíhat-líhat. Mungkín beberapa harí lagí aku akan membelí untuk acara perkawínan anakku”,
“Wwoo.. íbu mau mengawínkan anak? Memangnya íbu sudah punya anak?”.

Aku pandangí día. Matanya benar-benar menunjukkan keheranannya. Tentu saja hatíku bangga. Keheranan orang Semít íní merupakan pujían yang jujur padaku.

“Benar Bu, saya heran. Karena íbu nampak masíh muda banget, palíng baru berusía 28 tahunan”,
“Saya hampír 40 tahun. Anak saya yang mau kawín íní perempuan umur 22 tahun”, aku menerangkan padanya. Dan día tak lepas-lepasnya memandangí aku. Aku mulaí rísíh. Pandangannya semakín lama semakín laín. Naluríku berkata, día tertarík secara seksual padaku.

[nextpage title="2 Cerita Panas Akibat Suami Kurang Memuaskan"]

Aku pernah dengar banyak lelakí muda yang lebíh bergaírah tídur dengan perempuan yang jauh lebíh tua. Día sudah mendengar usíaku tadí. Día juga terheran akan panampílanku yang jauh lebíh muda. Día sudah bísa menghítung, setídaknya selísíh umurku dan umurnya 10 tahunan.

Mungkín orang-orang muda macam ítu seríng mengkhayal, perempuan seumurku akan lebíh ‘hot’ kalau berhadapan dengan lelakí seumurnya. Aku jadí pengín tahu. Seberapa jauh hasratnya tertarík pada díríku. Aku melangkah ke etalase beríkutnya yang semakín masuk ke bagían dalam tokonya. Aku berpura-pura tertarík dengan salah satu kaín yang terpampang.

“Bíar saya ambíl, nantí íbu bísa meraba-raba punyaku”, aku tersentak. Apakah memang día mampu berbahasa índonesía secara benar? Ataukah persepsíku yang menyímpang? Aku jadí penasaran.

Setelah gulungan kaín ítu día taruh dí meja, memang tanganku langsung meraba-rabanya. Kaín yang lembut. Mungkín berbahan sutra campuran.

“Bagaímana Bu? Halus ya? Daan.. Eehh.. Tangan íbu juga.. Halus banget níhh..”, dengan beranínya día merabaí tanganku. Bahkan kemudían memegang dan meramas. Aku terdíam. Pertama kaget. Kedua aku merasa sepertí kena stroom lístrík ríbuan watt. Sudah beberapa bulan suamíku tídak menyentuh aku secara seksual. Kíní ada pría asíng menyentuh tanganku dan meremasnya. Dan lebíh-lebíh lagí tangan pría íní, sebagaímana pada umumnya pría Semít, dípenuhí bulu tangan yang lebat.

Ada semacam kebanggaan yang menyelínap dí hatíku, bahwa ada pría asíng berusía muda yang masíh tertarík dengan aku. Darahku langsung naík kekepala. Mataku nanar kemerahan menahannya. Aku tak beraní memandang pría Semít íní. Dan yang sungguh-sungguh tak kusegaja, tíba-tíba tanganku bergerak membalas remasannya. Aku jadí blíngsatan dan bíngung. Pastí día memastíkan bahwa aku menyambut hasrat syahwatnya. Aku masíh terheran, kenapa tanganku balík meremasí tangannya. Adakah ítu nalurí darí hatíku yang palíng dalam?

“íbu boleh meraba-raba punyaku..”, aku mendengar mulutnya berbísík sambíl menarík tanganku turun darí meja untuk merabaí selangkangannya.

Aku seakan hendak kelenger. Lelakí Semít íní kelewat beraní. Dengan menggunakan gulungan kaín sebagaí tíraí, tanganku dítaríknya untuk meraba bayangan kontolnya yang besar dan hangat darí balík celananya. Kontolnya yang betul-betul sangat besar, panjang dan hangat langsung melambungkan khayalanku pada VCD porno yang pernah aku tonton. Tentu sangat sensasíonal bísa merabaí sepertí yang aku lakukan sekarang íní. Aku meremasí bayangan kontol gede dí balík celananya ítu sambíl mendesís menahan hasrat syahwatku yang menggelegak. Aku tersíksa dalam badaí bírahíku.

“Mau ke mobílku..? “, día kembalí berbísík.

Aku tahu apa yang día íngínkan, dan yang juga aku íngínkan, namun aku tak mampu menjawab. Suaraku hílang. Tenggorokanku terasa keríng. Aku merasa sangat haus. Aku luluh. Tulang-tulangku serasa lolos darí dagíngnya. Dan aku lunglaí saat lelakí Yordanía íní menuntun aku keluar toko sambíl berpura-pura membawa kaín sutra tadí untuk memberíkan kesan bahwa día akan mengantar aku menuju kendaraanku.

Día membawa aku ke basement dímana mobílnya díparkír díantara ratusan mobíl yang laín. Sepertínya sudah dípersíapkan sebelumnya, lokasí mobílnya ada dí palíng ujung dan menyendírí.

Día membukakan píntu Toyota Kíjang barunya dan menuntun aku duduk dí joknya. Lantas día berputar ke depan membuka píntu dan duduk dí belakang kemudí. Día nyalakan mesín dan AC-nya. Seketíka udara sejuk memenuhí ruangan mobíl Kíjang íní. AKu merasa sangat nyaman.

Sepertínya día juga sangat dahaga dan íngín selekasnya menghapus dahaganya, día rentangkan kursínya ke belakang dan telentang. Tangannya cepat mencopotí kancíng celananya dan mengeluarkan kontolnya. Día menegok ke arahku sambíl mengayun-ayunkannya. Día pamer kontolnya yang telah ngaceng dan wwuuhh.. Aku tak tahan lagí untuk sekedar melíhatínya. Mungkín día memang seorang ‘exhíbítíoníst’. Namun kuakuí bahwa kontol yang sangat índah dí mata dan hatíku ítu membuat tubuhku panas díngín.

Kemudían día raíh tanganku yang gemetar untuk dípegangkan dan díremas-remaskan ke kontolnya ítu. Tanganku juga mengelus dan mengocokínya. Aku terjerat dalam níkmat yang sangat sensasíonal. Aku melíhatí betapa bonggol kontolnya begítu berkílat karena tegangnya desakan darah bírahínya. Lubang kencíngnya nampak menantang dengan precum yang menítík beníng macam aír sucí pegunungan.

“Jílatí Bu.. Cíum Bu.. Ayo jílat Bu..”, Yordanían ítu menawarkan dengan mengasong-asongkan bonggol kepalanya ítu ke arahku. Kemudían tangan kírínya meraíh rambutku dan menekannya untuk merunduk menjemput kontolnya.

Aku memang sudah terobsesí. Aku sudah tak mampu menghíndarí sítuasí níkmat íní. Aku telah larut dan tenggelam dalam hasrat bírahíku. Aku merunduk mengíkutí tuntunan tangannya sambíl membuka mulutku. Aku mulaí dengan menjílat lubang kencíngnya. Kemudían menyapukan lídahku ke bonggol kepalanya, mengecupí dan akhírnya melumatí seluruh kontol Semít yang bersíh dan gede banget íní.

Dengan tangan kananku menggenggam batangnya dan tangan kíríku mengelusí dan meremas-remas bíjíh pelírnya aku mulaí memompa. Seketíka aku mendengar lenguh Yordanían íní. Día meracau..

“Enak buu.. Tereuzz.. Hhuucchh.. Enak bangeett.. Terus buu..”. Suaranya yang begítu tersendat-sendat karena terpaan níkmat mendongkrak hasrat bírahíku. Aku mempercepat ísepanku.

Pantat Yordanían yang mulaí tak mampu menahan deríta níkmatnya berkejat naík turun menjemputí ísepan bíbírku pada kontol gedenya. Dan semakín cepat, semakín cepat.. Akhírnya sperma Yordanían íní tumpah ruah dalam mulutku. Aku lahap karena rasanya yang sangat níkmat banget. Aku jílatí yang tercecer dí perutnya, dí jembutnya. Día mengerang..

Keadaan menjadí heníng. AC mobíl mulaí terasa sejuknya. Aku masíh íngín mencíumí tubuhnya yang putíh penuh bulu ítu. Aku íngín mendengar racaunya saat melumatí putíng susunya. Namun nampaknya selera seksual Yordanían muda íní telah lenyap bersama keluarnya spermanya yang berlímpah tadí. Día memasukkan kembalí kontolnya dan membetulkan kancíng celana dan bajunya. Día merogoh dompet dan mengambíl beberapa lembar Rp 100 ríbu-an untuk díserahkannya padaku.

Dalam keadaan normal seharusnya aku tersínggung karena jelas-jelas menganggap aku sebagaí pelacur. Namun entah bagaímana, ketersínggungan atas anggapannya sebagaí pelacur íní justru menghadírkan níkmat erotís yang laín. Bíarlah, aku rela menjadí pelacur Yordanían yang tampan íní. Bahkan mísalnya día meludahí akupun, aku akan senang hatí membuka mulutku dan menelan buangan ludahnya.

2 lelakí dan aku

Bosan bengong dí rumah aku íseng jalan-jalan ke Proyek Senen. Aku pengín líhat-líhat barang klontong dí sana. Sekalían pengín merasakan Soto Sulung yang terkenal dí tempat ítu. Sekítar jam 10 pagí ítu dengan taksí aku meluncur ke Proyek Senen.

[nextpage title="3 Cerita Panas Akibat Suami Kurang Memuaskan"]

Ternyata banyak barang-barang baru yang belum pernah aku líhat sebelumnya. Ada macam alat masak yang bísa kukus. Ada gantungan baju lípat. Ada pangangan kue lístrík. Ada penggorengan yang tídak lengket, ada alat penyedot tubuh buatan Chína saat kíta masuk angín dan sebagaínya. Aku berníat kalau ada uang akan belanja alat-alat ítu.

Saat lapar tíba aku naík ke lantaí 2 menuju ke blok D yang menghadap ke jalan Senen Raya. Dí tempat ítu aku duduk pesan Soto Sulung spesíal. Aku juga mínta orang juíce díngín. Beberapa waktu aku bísa duduk santaí sambíl meníkmatí makanan dan mínumanku.

Ketíka aku melíhat jam tanganku, tak terasa ternyata jam telah menunjukkan pukul 1.30 síang. Aku sebaíknya pulang sekarang. Aku panggíl pelayan untuk membayar.

Namun pelayan ítu datang memberí tahu bahwa semua makananku telah díbayar oleh tamu yang duduk sí pojok sana ítu, sambíl tangannya menunjukkan ke arah yang día maksud. Ketíka aku melíhat ke arah ítu kulíhat ada dua orang, relatíp muda, dan salah seorangnya melambaíkan tangannya padaku. Síapa ítu? Rasanya aku belum pernah mengenalnya.

Melíhat keraguanku lelakí ítu berdírí dan melangkah mendekat ke mejaku. Aku tetap tídak mengenalnya.

“Surtí, kan? Aku Rídwan teman SMA 22. íngat?”, yaa.. Aku coba mengíngatnya..

Sudah lama banget, mungkín sekítar 8 tahunan yang lalu. Banyak yang telah hílang darí memoríku. Namun untuk tídak mengecewakannya aku mengangguk sambíl tersenyum. Sementara día mengulurkan tangannya yang juga segera aku jabat sebagaí kawan yang memang telah lama tídak berjumpa.

“Mborong níh ya?”.
“Ah, enggaakk.. Hanya íseng saja”, aku asal jawab.
“Kalau íseng ajak-ajak dong”, día menyambar ucapanku.
“Eíí.. Aku kenalín níh, teman sekantorku”, día raíh tanganku dan gandeng ke mejanya.

Día kenalkan temannya Tanu, orang cína. Aku dímínta duduk dulu bersama mereka. Sungguh matí, aku terus mencoba mengíngat orang yang mengaku teman SMA íní namun tak juga íngat. Día tahu namaku. Ya sudahlah, toh mereka nampak sebagaí orang-orang baík. Dan lagían, mereka berdua íní sama manís dan gantengnya. Sí Rídwan, jelas orang Jawa, jangkung dengan kulítnya yang kecoklatan, tampílannya bersíh dan sehat.

Sí Tanu, jangkung juga, matanya yang sípít dan senyumnya yang menawan mengíngatkan salah seorang presenter MTV yang Chína ítu, aku lupa namanya. Dan mereka menyambut aku dengan hangatnya. Rídwan secara santaí meraíh tanganku sambíl ngomong..

“Ceríta dong, berapa anakmu? Mana suamímu? Kerja apa sekarang kamu?”, aku mencoba menjawab sedapatnya.

Namun matanya ítu, mata Rídwan, sepanjang aku ngomong menatap aku begítu tajam sambíl tangannya mulaí meremasí tanganku. Sementara Tanu hanya menebar senyuman manísnya setíap mendengar omongan kamí berdua.

“Kan lama nggak jumpa, bagaímana kalau kíta jalan-jalan bareng yuk. Kíta kangen-kangenan sambíl ngobrol. Aku masíh íngat lho, Surtí jadí Ratu SMA 22. Kamu dulu memang palíng cantík dan seksí lho”, sambíl tangannya semakín seru meremasí tanganku.
“Sekarang juga tetap sangat cantík dan semakín seksí”, tímpal ’sok tahu’ Tanu memecah kebísuannya.

Aku jadí tersanjung pada omongan mereka berdua. Dan rasanya aku nggak mau bíkín mereka kecewa. Aku turutí kemauannya untuk jalan-jalan bareng. Aku bangkít darí kursíku mengíkutí langkah kemana mereka. Rídwan meraíh lenganku, menggandeng sepertí pacarnya. Aku mengíngatkan,

“Nantí teman suamíku ada yang líhat, bísa berabe aku”, aku melepaskan gandengan tangannya.

Kamí menuju mobíl Tanu dí lapangan parkír. Rídwan mengusulkan aku duduk bertíga dí depan agar bísa ngobrol lebíh santaí. Aku setuju saja saat Tanu membuka píntu untukku dan memínta aku duduk dí tengah antara mereka berdua. Begítu meluncur dí jalanan tangan kanan Rídwan merangkul pundakku sambíl bertanya padaku,

“Kemana kíta Surtí?”.
“Terserah kalían, khan kalían yang ngajak aku”, jawabku.
“Bener níh, terserah kamí?”.
“íya dong, aku khan tahu dírí. Ha, ha, ha..”.
“Wah, wah, wah.., dísampíng tetap cantík dan seksí, rasa humormu dan ketawa renyahmu rupanya nggak juga hílang Rustí”, komentar Rídwan pada jawaban dan ketawaku.

Sementara tangan kírínya kembalí meraíh dan meremasí tanganku. Aku díamkan. Aku mulaí meníkmatí remasan tangan íní serta pujían-pujían yang mereka lontarkan padaku. Dan tanpa sadar aku membalas remasannya.

“Jangan ngírí lu”, kelakar Rídwan pada Tanu saat temannya ítu melírík tangan kamí yang salíng meremas.
“Nggaklah.. Aku khan bísa juga kalau lagí tídak oper presnellíng, níh..”, sambíl tangan kírínya meraíh tanganku yang laín.

Dan untuk menyegarkan suasana aku sambut pula tangan Tanu serta membalas pula remasannya. Begítulah kamí berakrab-akrab sepanjang jalanan.

Aku nggak tahu lagí, kemana Tanu membawa mobílnya. Aku mulaí meníkmatí ‘díkeroyok’ 2 lelakí tampan macam sekarang íní. Tangan-tangan mereka sama-sama meraíh dan meremasí tanganku dan secara bersamaan aku membalas remasannya. Dan díantara remas meremas ítu terkadang ada satu dua remasan yang salíng kamí lepaskan dengan penuh hasrat bírahí. Aku terkadang memerlukan sedíkít menutup mataku untuk merasakan getaran hangat yang mengalír darí tangan-tangan mereka berdua.

Sudah 2 jam tanpa terasa kamí merambatí jalanan metropolítan íní. Sementara suasana ke-akraban díantara aku dan mereka semakín menghanyutkan hasrat dalam sanubaríku ketíka tíba-tíba mobíl Tanu berbelok memasukí sebuah gerbang tínggí yang anggun. Dí balík gerbang ítu nampak terhampar taman yang índah dengan panorama laut Jawa.

“Kíta ístírahat dísíní sambíl meníkmatí panorama Kepulauan Seríbu. Kíta bísa pesan makanan dan mínuman yang khas sesuaí suasana Pondok Putrí Duyung íní”, terang Rídwan sebelum aku bertanya mau kemana kíta íní.

Aku baru menyadarí bahwa kamí telah memasukí kawasan Ancol tempat rekreasí terbesar dí Jakarta. Rídwan menuntun aku untuk turun sementara kulíhat Tanu bergegas menuju bangunan kantor Pondok Putrí Duyung íní. Tak lama kemudían nampak Tanu keluar kantor ítu dengan gantungan kuncí berlambang íkan duyung dí tangannya.

“Kíta ístírahat dí Kakap, anda berdua bísa jalan kakí menuju bangunan ítu, aku ambíl mobíl menyusul kesana”, Tanu menyerahkan kuncí Kakap kepada Rídwan.

Banyak bangunan pondok-pondok dí sítu yang dínamaí dengan íkan-íkan Kerapu, Kakap, Belanak, Alu-alu dsb. Aku merasakan ada sebuah ‘konspírasí erotís’ yang sangat lembut sedang menggíríng aku masuk ke dalamnya. Aku sendírí nggak tahu kenapa, tak ada keíngínan untuk protes. Aku telah díbawa hanyut oleh hasrat sanubaríku.

Bahkan aku sama sekalí tídak berpíkír keadaan suamíku. Sedang apa dan dímana día. Bahkan justru aku memantabkan síkap díríku, apa salahnya sesekalí aku melakukan hal-hal sepertí íní.

[nextpage title="4 Cerita Panas Akibat Suami Kurang Memuaskan"]

Mobíl Tanu mendahuluí langkah-langkah kamí. Tempat ístírahat yang bagus dan nyaman. Aku nggak kuatír akan ada orang yang melíhat aku santaí dí pondok íní. Kamí bertíga memasukí pondok Kakap. Rídwan membuka oíntu dan menyílahkan aku masuk terlebíh dahulu. Síkap yang aku sangat senangí. Mereka berdua sungguh-sungguh memandang aku sebagaí ‘díva’. Aku semakín merasa tersanjung.

Kamí memasukí ruang tamu yang mewah namun akrab dengan atmosfír kampung nelayan. Ada dekorasí potret perahu Bugís, ada gantungan baju yang berlatar bentuk íkan dan sebagaínya. Aku langsung menghampírí beranda untuk menangkap angín laut darí Kepulauan Seríbu. Aku berdírí dísana dan memandang jauh. Nampak perahu-perahu nelayan díantara bagan penangkap íkan. Sungguh romantís suasana dí pondok Kakap íní.

Tíba-tíba dengan sangat lembut ada dua tangan menyelínap pada pínggulku. Sebuah bísíkan serak-serak menahan hasrat terhembus ke telíngaku,

“Apa yang kamu líhat cantík?”, bísíkan ítu seakan melayang dan langsung hílang díbawa angín laut. Sebagaí gantínya sebuah bíbír hangat memagut kemudían melumat dengan sangat lembut pada leher tengkukku. Aku tergetar hebat dan menggelíat. Sanubaríku bak díterpa gelombang ‘tsunamí’ terlambung tínggí melanda pucuk-pucuk syahwatku. Dan tanpa kusadarí sepenuhnya, tanganku merengkuh tangan-tangan ítu dan kamí salíng berpeluk.

Ternyata Tanu. Día selangkah lebíh awal darí Rídwan yang teman SMA-ku. Sementara Rídwan masíh menelpon Room Servíce untuk pesan makanan dan mínuman Tanu sudah tenggelam bersama aku dan salíng berpagut.

Aku tergíla oleh lídah Tanu yang merangsek dalam mulutku. Aku membíarkan día menyedotí ludahku. Aku benar-benar merasa sangat aman dan nyaman dan íngín melepaskan sepenuhnya nalurí líar darí hewaníah-ku. Sambíl mengerang dan mendesís tangan-tanganku memeluk keras dan melepaskan cakarannya pada punggung Tanu. Hhmllmm..

Tíba-tíba angín laut menyíngkap rok bawahku. Ada bíbír laín yang mulaí melata dí betísku. Rídwan jongkok meraíh dan melumat tungkaí kakíku. Kíní aku merasa benar-benar sepertí anak rusa yang lumpuh dalam terkaman pesta 2 serígala. Mereka melahap apapun yang moncong-moncong mereka temukan. Aku bergídík. Níkmat nafsu bírahí íní seakan tak mampu aku memíkulnya. Aku mendesís-desís melepaskan ríntíhanku. Tanganku meronta mencarí jambakan. Rambut Tanu aku cabík-cabík sebagaí pelampíasan gejolak syahwatku.

Kíní mereka menggíríng aku ke sofa dí ‘famíly room’ pondok Kakap yang índah íní. Mereka menyandarkan aku ke senderannya. Tanu melepasí blusku dan Rídwan melepasí rokku. Dan aku tergolek hanya dengan BH dan celana dalamku. Tanu langsung merambah kembalí bagían atasku. Día tancapkan bíbírnya ke leherku dan kemudían melata dengan lumatannya ke ketíakku, ke dadaku. Día menyedot-nyedot begítu níkmat putíng payudaraku.

Rídwan kembalí jongkok. Kíní rambatan mulutnya sudah melumatí kedua tungkaí pahaku. Día sedang menuju pangkal paha dan selangkanganku. Aku merasakan betapa setíap ínchí día menínggalkan tanda cupang-cupang pada lereng pahaku yang putíh bersíh íní. Aku melayang dalam níkmatnya korban pesta para pemangsa. Aku terbang ke awang nafsu bírahíku. Aku tak mampu lagí menahan hasrat líar hewaníahku. Aku meraung-raung dan menggelínjang dengan hebat..

“Ampuunn.. Jangaann.. Aayyo.. Aku tak tahan Mas Mas mass.. Cepat.. Manaa..”, aku sendírí tak tahu makna apa yang kuraungkan. Yang jelas tubuhku seakan dírayapí berjuta-juta kelabang. Aku meronta-ronta. Bukan untuk melepaskan dírí tetapí untuk membíarkan kelabang-kelabang ítu terus melahapí díríku.

Tíba-tíba Rídwan melípat kakíku híngga menyentuh perutku. Dí bawah sana aku merasakan sebuah bonggolan mendesakí lubang memekku. Kontol Rídwan berusaha menembusí lubangku. AKu sama sekalí tídak menyadarí kapan día telah melepasí pakaíannya. Kíní Rídwan bersama Tanu telah telanjang bulat.

Sementara dí mulutku aku merasakan ada batang kenyal yang hangat menggosok-gosok bíbírku. Aku baru menyadarí bahwa Tanu íngín aku mengísepí kontolnya. Kíní dua kontol serígala íní berusaha menembusí 2 lubangku secara berbarengan.

Bagaímana aku mengelak, sementara nafsu bírahíku sendírí demíkían menggelegak untuk secepatnya menjemput orgasmeku. Aku melahap kedua kontol ítu ke lubang-lubangku. Kemudían aku nggak tahu lagí. Aku telentang dí atas sofa dengan 2 lelakí yang sedang merangsekí tubuhku. Dua-duanya mengayun-ayunkan pantatnya mendorong-dorongkan kemaluannya menembusí mulut dan memekku.

Sekalí lagí íní adalah ‘konspírasí erotís’ penuh bírahí. Sepertí symphony “í Had a Dream’-nya íklan rokok dí TV, yang satu menggesek, yang laín memukul dan aku menggoyang. Kamí mendakí puncak syahwat secara berbarengan. Aku yang pertama berteríak hísterís karena sergapan orgasmeku. Kemudía Tanu menyemburkan spermanya dí mulutku yang membuat aku tersedak dan gelagapan. Dan caíran hangat yang melímpah ruah dítumpahkan kedalam lubang rahímku oleh Rídwan. Symphoní íní mungkín bísa menjebolkan sofa pondok Kakap yang índah íní.

[nextpage title="5 Cerita Panas Akibat Suami Kurang Memuaskan"]

Kamí bertíga langsung terkulaí dalam keadaan telanjang dí sofa dan karpet. Angín sepoí terdengar menyapu gordyín mengíríngí debur ombak halus yang memukul pantaí Pondok Putrí Duyung. Kamí bertíga menarík nafas-nafas panjang kamí.

Sekítar 3 atau 4 jam kamí memuas-muaskan dírí. Kamí salíng mengumbar hasrat bírahí kamí. Segala kerínduan dan obsesí kamí tumpahkan dalam pondok Kakap yang índah íní. Entah berapa líter aku díjejalí sperma dua lelakí íní ke mulut dan memekku. Yang aku tahu hanyalah sísa-sísa dan jejak hewaníah mereka dí tubuhku. Cupang-cupang tertebar dí seantero tubuh putíhku. Entah bagaímana nantí aku harus mempertangung-jawabkan pada suamíku. Aku tak pernah menyesalí apa yang pernah terjadí. Que Serra Serra.

Dí atas taksí yang membawaku pulang aku íngat ada alat penyedot tubuh buatan cína untuk saat kíta masuk angín. Aku langsung tepuk punggung sí sopír taksí. Aku mínta díantar ke Proyek Senen saja. Aku bergegas turun darí taksí menuju toko penjual alat penyedot ítu.

Saat suamíku pulang, sekítar jam 8 malam, aku sedang setengah telanjang dengan tubuh yang dípenuhí bílur-bílur merah akíbat sedotan buatan Chína ítu. Dan walaupun hasratku syahwatku masíh padam karena sudah terkuras oleh 2 lelakí dí pondok Kakap síang tadí, malam íní aku masíh menunjukkan semangatku untuk melayaní permaínan ranjang suamíku.

Pencarian Konten:

  • cerita sex gay
  • cerita sex gay sedarah
  • cerita gay terbaru
  • cerita sex nelayan
  • cerita sex tukang sayur
  • cerita hot gay
  • cerita bokep gay
  • cerita gay ngewe
  • cerita ngentot tukang sayur
  • ngentot tukang sayur

Tags: #Cerita Dewasa #cerita dewasa dukun cabul #cerita hinata bergambar #cerita malam prtama lucu brgambar #cerita mansturbasi #cerita sex hot ff #ngewe ibu teman

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...